Raya berjalan mendekati kedua pemuda yang masih duduk di atas motor. Namun, pandangannya teralihkan pada Angkasa yang tampangnya sulit didefinisikan.
"Gad, itu ngapa temen lo ngeces kayak gitu? Dia kena penyakit epilepsi, ya?" tanya Raya asal.
Jagad yang mendengar pertanyaan Raya pun terkekeh, sementara Angkasa bak orang tuli karena masih terpesona pada Raya.
"Mana ada ngeces kena epilepsi. Dia kena busung lapar," jawab Jagad yang seraya turun dari motor milik Angkasa.
Brukkk!!!
Tiba-tiba motor milik Angkasa pun terjatuh setelah Jagad turun. Rupanya pemuda yang sangat pandai di segala mata pelajaran itu lupa memasang standar. Alhasil, Angkasa yang masih berada di atas motor pun terjatuh dan kakinya tertimpa body motor.
"Arrgghh!!! Kaki gue gepeng!!!" pekik Angkasa.
Sungguh miris nasib pemuda yang tidak naik kelas dua tahun itu. Sudah mules tertimpa motor pula.
"Sorry, Ang. Gue lupa pasang standarnya, lo baik-baik aja, 'kan?" tanya Jagad dengan menarik motor gede milik Angkasa dan membantunya bangun.
"Kaki gue sakit, Bambang. Pake acara ditanya baik-baik aja, lagi!" umpatnya dengan berdiri dibantu Jagad. "Untung lo tampan, kalau nggak. Gue slepet lo. Sial banget sih gue hari ini, udah diare terus sekarang pake acara kejepit motor lagi. Lo nggak dendam kesumat sama gue 'kan, Gad?!" makinya dengan mencoba berjalan meski kakinya masih terasa sakit.
"Eh, tapi bukan salah gue sepenuhnya keles! Elo aja yang nggak turun-turun, harusnya kalau gue udah matiin mesin. Lo itu langsung turun! Gitu aja, masa harus kasih tau, sih!" balas Jagad kesal.
"Eh, kok lo malah ceramahin gue, sih! Meski gimanapun, dilihat dari sudut pandang manapun. Tetep lo yang salah lah!" protes Angkasa tak terima.
"Woy, kok kalian malah ribut sih. Gelud sekalian aja, masa cowok sama cowok ributnya pake mulut. Cemen!" teriak Raya yang mulai kesal dengan kedua pemuda di hadapannya.
"Oke! Gelud-gelud sini kalo berani! Kalo aja gue nggak diare, udah gue tendang juga nih anak sampe nyangkut di pohon pete Pak Mamat!" geram Angkasa sambil mengepal erat tangannya. Namun, seketika perutnya bergolak dan bagian belakangnya ingin memuntahkan lahar.
"Sial!" desis Angkasa sambil memegang bagian bokongnya. Ia pun akhirnya berlari dengan kencang untuk memasuki gerbang rumahnya.
Jagad dan Raya saling menatap heran akan kelakuan Angkasa.
"Terus ini motor dibiarin aja gitu?" tanya Raya kepada Jagad.
"Biarin aja, paling juga ntar diambil sama tukang rongsok," jawab Jagad cuek sambil berjalan menuju arah rumahnya.
"Eh ... btw dia sapa sih? Emang lo kenal? Anehnya kok tetanggaan sama lo? Terus bisa-bisanya lo temenan sama preman di hari pertama lo sekolah?" cecar Raya dengan bawelnya. Pantas saja Jagad menamainya 'Raya Bawel' di kontak smartphonenya.
"Dia temen sekelas gue. Ngapa? Lo naksir?"
"Ish! Mana ada! Tampang kayak preman gitu. Tipe gue tuh ya yang kalem, ganteng, pinter, dan teladan. Pokoknya tipe-tipe pangeran lembut yang kayak di novel-novel kerajaan," celoteh Raya panjang lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trio Jangkar [Mencari Jati Diri dan Cinta Sejati]
Teen FictionApa jadinya jika Jagad, Angkasa, dan Raya bersatu? Tentu saja akan terjadi hal luar biasa, di luar nalar, dan hal-hal menakjubkan lainnya yang bisa membuat orang di sekeliling mereka menggeleng heran. Trio Jangkar begitulah mereka memberi nama genk...
![Trio Jangkar [Mencari Jati Diri dan Cinta Sejati]](https://img.wattpad.com/cover/272645300-64-k915.jpg)