“Selalu ada harga untuk suatu hal, tapi sesuatu yang berharga tidak selalu harus dibayar dengan kehilangan.”
***
Hari demi hari berlalu. Semua perlahan menjadi asing bagi keduanya. Sean tak lagi bicara pada Krystal, dan Krystal lebih banyak menyendiri dan diam.
Tidak ada interaksi antara mereka berdua. Tidak ada kata yang saling mereka tujukan pada salah satunya. Mereka benar-benar mirip orang asing yang belum pernah saling bertegur sapa.
Apakah lebih baik seperti ini? Akankah semua ini mereda dengan sendirinya? Atau... Sean yang harus memperbaikinya?
Sangat sakit setiap kali Sean mencoba memikirkan jalan keluar dari semua ini. Bahkan sempat terpikir untuk tak acuh dengan masalah ini.
Namun hati nuraninya menolak, dia ingin semua keadaan segera membaik. Tapi, bagaimana caranya jika Krystal saja terus menjauhinya dan menghindar setiap kali Sean berada dalam jarak terdekat dengannya.
“Sean, bagaimana masalahmu dengan Krystal?” tanya Brian saat mereka sedang istirahat makan siang.
Sean hanya meluruhkan bahunya. “Entahlah. Krystal semakin menjauhiku.” ucap Sean tertunduk lesu.
“Segera selesaikan masalahmu, jika perlu katakan sejujurnya pada Krystal jika kau juga mencintainya.” saran Brian yang memang sudah tahu perasaan Sean.
Karena bagaimanapun masalah Sean akibat dari kesalahan Brian dan teman-temannya. Dia juga pusing semenjak masalah ini muncul Sean tidak lagi fokus ke perusahaan, membuat banyak proyek yang terbengkalai bahkan berakhir gagal.
“Baiklah, aku akan mencoba bicara padanya lagi nanti.“
°°°
Hari-hari berikutnya masih sama. Mereka berdua masih sama-sama mendiamkan diri. Krystal masih enggan berbicara dengan Sean meski ia sudah mencoba memaafkan. Dia hanya masih berusaha menata perasaanya yang tidak menentu.
Sementara Sean lebih sering terlihat banyak melamun dan memandang dengan tatapan kosong. Walapun Ibu dan sahabat-sahabatnya selalu mengajaknya berbicara namun pikirannya tidak di tempat.
Dan kini Sean merasa tidak tahan lagi dengan keadaan yang seperti ini. Dia harus segera menyelesaikan masalahnya.
Saat Sean tengah asik dengan lamunannya dia melihat kehadiran Krystal yang berjalan menuju dapur. Dengan cepat ia menghampiri lalu menarik lengan Krystal dari belakang, membuat gadis itu sedikit terhuyung.
“Ikut aku!” kata Sean sembari menarik lengan Krystal.
“Tidak! Lepaskan aku!” Krystal berusaha melepaskan tangan Sean dari lengannya.
“Aku ingin bicara denganmu, kau harus ikut!”
“Aku tidak mau! Lepaskan, sakit tau!” Krystal masih berusaha melepaskan tangannya.
Sean membawa Krystal ke dalam kamar. Setelah melepas cekalannya mereka saling terdiam. Mungkin Sean sedang berpikir harus memulai darimana atau memikirkan susunan kalimat yang akan ia katakan pada Krystal.
Keadaan rumah sedang sepi, entah kemana ibunya pergi.
Sejak kejadian Krystal di seret pulang oleh Sean ke rumah ibunya. Sean juga memang ikut tinggal. Bersyukurlah Irene yang menunda kepulangannya seminggu lagi. Membuat Sean sedikit bernafas tanpa harus takut ketahuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Wife
RomansaMurahan, jalang, wanita penggoda, hingga perebut suami orang, adalah gelar yang telah Krystal terima. Pandangan mencemoh dan menghujat dirinya yang dinilai hina, tapi satu hal yang tidak bisa dirubah : Isabella Krystal Lynelle sudah menjadi istri ke...
