[ Completed ]
[ BxB ] [ 20++ ] [ Harap siapkan mental!]
[ Squel dari : Two beliefs one soul ]
Hidup dengan segala kemewahan dan harta melimpah yang tak pernah surut dalam kehidupan Win Metawin Adulkittporn, kini dia sudah beranjak dewasa. Masa kecil...
Gun sedang telaten mengoleskan salep pada kedua tangan Win sebelum tidur. Gerakannya pelan dan hati-hati, seolah takut menambah rasa sakit. Luka-luka di tangan Win memang belum sepenuhnya sembuh. Padahal, besok adalah hari pertama Win masuk kuliah, namun ia malah harus menghadapi luka yang begitu banyak di tangannya.
“Apakah sakit, Win? Jika sakit, bicaralah pada Papah. Jangan menahan. Kau bukan sedang bersama ayahmu, jadi jangan diam kalau memang sakit,” ucap Gun lembut, menatap wajah Win yang sedari tadi hanya terdiam saat diobati.
Win tersenyum tipis, berusaha meyakinkan. “Aku tidak merasakan sakit, ini sudah hampir sembuh.”
Gun menghela napas lega, lalu mengusap sekali lagi jemari Win sebelum menutup salep. “Baiklah, sudah selesai. Sekarang cepat tidur. Besok hari pertamamu kuliah, Papah akan membangunkanmu lebih awal.”
“Oke, aku akan tidur segera. Terima kasih, and good night, Pah.”
“Good night too, baby.” Gun mengecup kening Win, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya lebih rapat. Setelah mematikan lampu, ia beranjak keluar perlahan agar Win tidak terganggu.
Bagi Gun, meski Win sudah beranjak dewasa, di matanya ia tetaplah seorang anak kecil. Tidak heran jika rasa khawatir selalu muncul setiap kali Win berlatih bersama Off—latihan yang seringkali meninggalkan luka-luka kecil di tubuhnya. Tetapi itu memang risiko yang harus Win jalani. Ia harus lebih kuat, dan Gun hanya bisa mengawasinya dari sisi lain.
Sesampainya di kamar, Gun mendapati Off belum juga selesai dengan pekerjaannya. Sejak sore tadi, Off sibuk di ruang kerjanya. Bahkan makan malam pun harus Gun antarkan ke lantai empat. Merasa bosan menunggu Off yang entah kapan akan selesai, Gun memilih membuka paket yang dikirimkan New.
“Katanya baju yang sama dengan miliknya… baiklah, ayo kita buka,” gumamnya sambil mengambil paper bag, lalu membuka kotak berisi pita rapi.
Namun, alis Gun langsung berkerut saat melihat isi kotak. “Baju macam apa ini? Kenapa banyak sekali renda?” Tangannya meraih beberapa aksesori kecil, semakin bingung untuk apa semua itu. Ia mengeluarkan pakaian tersebut, menjuntaikannya di udara.
“Shiaaa… ini pakaian apa? Kenapa sangat pendek? Aku harus menghubungi New,” gerutunya.
Gun segera menekan nomor New. Begitu tersambung, ia langsung bicara tanpa memberi kesempatan. “New, kau berikan aku pakaian seperti apa ini? Aku bahkan tidak paham bagaimana cara memakainya!”
Di seberang sana, New hanya terkekeh pelan. “Tenang, Gun. Pakai saja. Aku juga punya, dan aku sudah sering memakainya. Tay pun sangat menyukainya. Aku yakin P’Off juga akan menyukainya.”
“Kau melihat pakaian seperti ini di mana? Aku bahkan tidak pernah melihatnya sebelumnya.”
“Aku menemukannya di handphone-ku, dan itu sangat bagus. Pakailah, Gun. Bye na.”
Tutututtt…
“Sial, dia menutup sambungan begitu saja,” keluh Gun. Ia menghela napas panjang, lalu kembali menatap pakaian dan aksesori itu. Setelah bergumam kecil, akhirnya ia memutuskan untuk mencoba memakainya.
“Bahkan Off selalu tertarik padaku tanpa perlu pakaian ini… Ohooo, Mae, lihat anakmu sekarang jadi sangat menggemaskan,” katanya sambil menatap bayangannya sendiri di cermin. Ia berputar, memperlihatkan bagian belakang. Tidak seburuk yang ia bayangkan. Bahkan, ia sempat bertanya dalam hati apakah ia tampak cantik? Tentu saja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.