POV
Off baru saja menyelesaikan meeting-nya. Tak disangka, meeting itu memakan waktu yang lama karena beberapa masalah kecil yang harus ia selesaikan terlebih dahulu. Sekarang, ia harus menemui Gun untuk menyuruhnya pulang lebih dulu, karena ini sudah hampir jam makan malam dan Win pasti sudah pulang dari kampusnya.
Pintu dibuka, ia melihat Gun yang sedang tertidur dengan nyenyak di sofa. Off merasa tak tega untuk membangunkannya. Ia berjongkok dan mengusap halus pipi Gun.
"Baby, bangun," ucap Off.
Gun membuka matanya. Ternyata Off sudah berada di hadapannya. Ia tak sengaja tertidur saat menunggu Off tadi.
"Kau sudah selesai, Off? Ah, ini sudah jam makan malam, Win pasti sendirian. Ayo kita pulang," ajak Gun. Ia segera bangun saat melihat jam di tangannya dan menarik tangan Off untuk segera pulang.
Off menahan tangan Gun. "Aku masih punya pekerjaan di kantor, aku tidak bisa pulang denganmu. Maafkan aku, ya. Ada beberapa masalah, sepertinya aku harus lembur," kata Off sambil mengambil kedua tangan Gun. Ia menggenggamnya erat dan mengecup kedua tangan Gun.
Gun menghela napas. Ia tidak mungkin melarang Off. Waktunya sudah makan malam dan ia harus pulang. Dengan berat hati, Gun mengangguk.
"Baiklah, aku akan pulang. Jangan lupa makan malam, jangan terlalu keras bekerja. Jika lelah, istirahatlah. Aku menunggumu di mansion," ujar Gun.
"Baik, aku akan menuruti perkataanmu. Maafkan aku, ya. Aku mencintaimu," balas Off. Ia menarik Gun ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala Gun.
Gun melingkarkan tangannya. Off mengerti, ia menarik tengkuk Gun dan menciumnya sangat dalam. Bahkan melumatnya. Gun tersenyum. Saat ia hendak melepaskan lumatan itu, Off malah menariknya kembali.
"Sudah cukup, aku hanya ingin ciuman biasa, kau malah melumatnya. Kalau seperti ini, kau tidak akan berhenti," ucap Gun.
"Itu adalah obat semangat untukku bekerja. Kau mau kuantar pulang?" tanya Off.
"Tidak, kau pasti lelah. Aku akan menelepon sopir," jawab Gun.
"Aku tidak lelah," kata Off.
"Off, aku akan baik-baik saja. Baiklah, sampai jumpa, Off," ucap Gun. Ia keluar dan melambaikan tangannya. Off pun membalasnya dengan senyuman.
Suasana kantor masih terbilang ramai padahal ini sudah waktunya untuk pulang. Mungkin masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Kini, Gun menunggu di luar gedung kantor Off setelah menelepon sopir yang akan menjemputnya. Namun, sudah lama sopirnya tidak kunjung datang. Ia tidak ingin membiarkan Win makan malam sendiri.
"Sedang menunggu jemputan?" tanya seorang laki-laki yang tersenyum padanya.
Gun melirik ke samping. "Ah, iya, saya sedang menunggu sopir untuk menjemput," jawab Gun.
"Oh, begitu. Kau boleh menumpang denganku, ini sudah larut dan kulihat karyawan kantor sudah mulai pulang," tawar laki-laki itu.
"Tidak perlu, saya sedang menunggu sopir saya," balas Gun sambil membalas senyuman pria tinggi di hadapannya, lalu kembali menunggu sopirnya.
Ia melihat arlojinya. Ini sudah sangat terlambat. Ia menghela napas.
Sopirnya tak kunjung datang juga, dan ponselnya pun berbunyi.
Ternyata sopirnya yang menelepon.
"Halo, Tuan. Maafkan saya, ban mobilnya bocor, saya harus membetulkannya," ucap sopirnya.
"Kenapa kau baru menghubungi saya? Kalau begitu, saya pasti akan menyuruh sopir lain. Kau membuat saya menunggu," kesal Gun. Ia langsung mematikan ponselnya. Jika sudah seperti ini, ia tidak bisa menyuruh sopir lain karena akan memakan banyak waktu.
Pria di samping Gun mendengarkan percakapan Gun dan sopirnya. Ia merasa beruntung.
"Aku bisa memberimu tumpangan. Bagaimana?" tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Son of a Mafia
Fanfiction[ Completed ] [ BxB ] [ 20++ ] [ Harap siapkan mental!] [ Squel dari : Two beliefs one soul ] Hidup dengan segala kemewahan dan harta melimpah yang tak pernah surut dalam kehidupan Win Metawin Adulkittporn, kini dia sudah beranjak dewasa. Masa kecil...
