08| Saran & Amarah

600 31 2
                                        

Diam bukan berarti membiarkan, dan memahami bukan berarti gak keberatan.
____

"Kalau gitu, aku ke kelas dulu yah. Tapi kamu harus janji, jangan berubah seperti kemarin-kemarin lagi!" Nanda melepas senderan kepalanya dari bahu Bian.

"Iya sayang, janji." Bian mengelus puncak kepala Nanda, sebelum Nanda pergi.

Alam dan Rio yang baru saja memasuki kantin dan duduk di hadapan kursi tempat Bian duduk saat ini, melongo melihat Bian dan Nanda masih bersama.

"Bian, lo belum mutusin hubungan lo dengan Nanda?" Tanya Alam.

"Hm. Seperti yang kalian liat."

"Kenapa?" Kali ini, Rio yang membuka suara.

"Kenapa? Kalian tau sendiri bagaimana usaha gue buat dapetin Nanda dulu. Dan sekarang, dengan mudahnya kalian menanyakan alasan gue karena gak mutusin Nanda?"

"Lo gak bisa seperti itu, Bian. Lo seharusnya ngehargai perasaan Reni, perasaan istri Lo." Saran Rio dengan suara pelan, membuat Bian mendengus pelan.

"Ngehargai? Seharusnya dia yang harus memahami gue. Sebelum kami menikah gue udah jalin hubungan dengan Nanda, dan dia tau hal itu. Dan sepertinya dia juga gak keberatan dengan hal itu."

"Diam bukan berarti membiarkan, dan memahami bukan berarti gak keberatan." Ujar Rio, yang membuat Bian mematung.

Alam berdiri dan berjalan duduk di samping Bian. "Bro, Seharusnya lo gak boleh serakah. Lo harus bisa milih salah satunya. Emang hati lo muat buat nampung dua cewek? kalo gue, satu aja pusing." Alam menepuk-nepuk pundak Bian seraya menyarankan.

"Iya, gue setuju dengan Alam. Seharusnya lo bisa memilih salah satu dari mereka. Kalo lo lupa, mereka itu sahabatan. Jangan lo rusak persahabatan mereka, hanya karena ego lo gak mau jujur dari sekarang."

"Jadi gue harus apa? Gue gak bisa memilih. Reni adalah pilihan papa gue, sedangkan Nanda adalah pilihan gue sendiri. Sudah dua tahun gue ngejalin hubungan dengan Nanda. Dan gak mudah bagi gue untuk mutusin dan ngelupain dia begitu aja."

"Kalo gitu, Reni buat gue aja gimana?" Canda Alam yang dibalas putaran bola mata oleh Rio. Mulai nih, Alam ngegoda Bian.

"Andai bisa, gue dengan senang hati ngasih dia ke lo." Jawab Bian dengan muka masam.

"Gue cuman bercanda kali, gak usah pasang muka masam gitu, hahah."

Untung saja di kantin hanya tersisa mereka bertiga. Kalo tidak, orang-orang bakal nutup kuping dengar tawa Alam yang cempreng.

°°°°°°

"Lama banget sih lo pulangnya? Gue laper nih, gak ada makanan di rumah." Bian mengagetkan Reni yang baru saja pulang sekolah.

"Maaf Bian, tadi taksinya kejebak macet." Jawabnya dengan menunduk.

"Banyak alasan lo."

"Oh jadi kalian gak berangkat dan pulang bareng ke sekolah?" Mendengar suara itu, Bian dan juga Reni langsung beralih ke sumber suara.

"Mama!" Ujar keduanya bersamaan.

Reni dan Bian langsung menyalimi tangan Windi. "Mama sejak kapan disini?" Tanya Bian.

"Sejak, Mama dengar kamu biarkan istri kamu berangkat dan pulang sendiri dari sekolah." Windi menjewer kuping Bian hingga memerah.

"Aww, Mama kuping Bian sakit." Ringis Bian, tapi tidak membuat Windi kasihan.

"Udah Ma, kasihan Bian." Mendengar permintaan Reni, membuat Windi menurutinya.

"Liat istrimu, dia tetap membelamu walau kamu tidak memperdulikannya."

"Maaf, Ma." Ujar Bian lesu, menatap Reni dengan tajam.

"Perlu kau ingat, mobil yang kau pakai itu pemberian dari orang tua Reni, untuk kalian. Jadi, mobil itu milik Reni juga. Kalian juga harus berangkat bersama ke sekolah, kasihan Reni kalo dia harus naik taksi terus."

"Tapi Ma, orang-orang nanti curiga."

"Takut orang-orang curiga atau kamu takut ketahuan Nanda?"

"Mama, udah gak usah bahas itu lagi." Pinta Bian memelas.

"Kenapa? Atau jangan bilang kamu masih berhubungan dengan Nanda?" Bian diam mendengar pertanyaan mamanya.

"Kenapa diam? Ayo jawab!" Gertak Windi sekali lagi. Yang membuat Bian, mengangguk.

Muka Windi memerah. "Mama gak mau tau, kamu harus segera mutusin hubungan kamu dengan Nanda. Kamu sudah menjadi suami orang sekarang. Dan kamu Reni, jangan mewajarkan sikap suami kamu untuk hal yang satu ini."

"Ma, Bian sudah menuruti semua keinginan mama dan papa. Tapi please Ma, jangan turut campur dengan masalah Bian yang satu ini."

"Harus! Mama memang harus ikut campur dengan masalah ini. Ini masalah besar bagi kalian yang sudah menikah. Reni bisa saja diam, tapi apa yang akan mama dan papa katakan pada orangtuanya? Pokoknya mama gak mau tau, kau harus akhiri hubungan mu dengan Nanda." Putusnya.

"Kenapa sih? Kenapa Mama benci sama Nanda?"

"Mama gak benci sama siapapun, mama hanya menghargai Reni, istri kamu. Mama hanya berniat ngejaga perasaannya." Jelas Windi menatap menantunya yang sangat baik itu.

"Udah, mama mau pulang dulu. Mama kesini cuman sebentar, buat ngejengukin kalian. Tapi mama malah mendapat informasi tak terduga." Gumamnya, dengan tatapan tajam. "Satu lagi, kamu harus antar dan jemput Reni ke sekolah!" Tambahnya.

"Mama, gak makan dulu? Ini Reni baru mau masak buat Mama." Ujar Reni seolah mengalihkan pembicaraan.

"Gak Nak, Makasih. Mama mau pulang dulu, kasian Papa sendiri di rumah. Jaga diri baik-baik yah!" Windi mencium pipi Reni.

Bian yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya.

"Anaknya siapa, yang dibela siapa." Gerutunya dengan suara kecil dan pelan.

"Bian, ingat kata-kata mama tadi!"

"Iya ma."

"Yaudah mama pulang dulu. Assalamualaikum," Windi berjalan mengeluari pintu rumah.

"Waalaikumsalam." Ujar keduanya.

"Hati-hati di jalan Ma!" Tambah Reni.

"PUAS LO? PUAS LO NGELIAT MAMA MARAHIN GUE?" Reni terlonjak kaget mendengar gertakan Bian. Ia hanya bisa menggelengkan kepala sembari menunduk.

"APASIH ISTIMEWANYA LO? SAMPAI-SAMPAI, GAK DI SEKOLAH GAK DI RUMAH, ORANG-ORANG PADA BELAIN LO."

"Ma-maaf Bian." Air matanya kini tak bisa Ia bendung lagi.

"MAAF-MAAF, LO PIKIR DENGAN LO MINTA MAAF BISA NGERUBAH KEPUTUSAN MAMA? HAH?"

"ATAU JANGAN-JANGAN, INI RENCANA LO KAN? LO SENGAJA BERITAHU MAMA, BIAR HUBUNGAN GUE SAMA NANDA HANCUR, GITU?"

"LO PIKIR HANYA KARENA MAMA BILANG GITU, GUE AKAN MUTUSIN HUBUNGAN GUE DENGAN NANDA? MIMPI LO!"

Reni menggeleng keras. Ia tak memperdulikan air matanya lagi. Ia tentu saja mengelak, Ia tak mungkin merusak kebahagiaan sahabatnya apalagi sengaja menghancurkan hubungannya. Ia benar-benar tak tau menahu perihal ini.

"Ti-tidak Bian. Aku, aku gak per-"

Bian memotong ucapan Reni. "Arrgh, sudahlah Minggir!!" Tanpa mendengar penjelasan Reni. Bian memilih pergi dan sengaja menabrak bahu Reni, hingga Reni hampir saja terhuyung kebelakang.

"Hikss! Reni gak tau apa-apa. Reni gak mungkin ngerusak hubungan Bian dengan Nanda."

TBC

Don't forget to (☞ ͡° ͜ʖ ͡°)☞ ⭐
Di 💬 juga boleh (◍•ᴗ•◍)

Altruistic✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang