Bahkan di tujuh kehidupan berikutnya,
takkan kau temui orang se-sabar diriku.
_____
Tak terasa, pernikahan Bian dan Reni sudah berjalan selama lima bulan. Dan, selama itu pula Bian selalu emosi dan dengan sabarnya Reni menerima semua perlakuan kasar dari Bian, mulai dari bentakan, gertakan, dan caci makian.
Reni memaklumi semuanya. Ia sadar, pernikahannya ini hanyalah sebuah permainan bagi Bian. Namun bagi Reni, Ia sangat mengidamkan pernikahan itu cukup sekali seumur hidup. Jadi, walaupun terdapat gesekan-gesekan tajam dalam rumah tangganya, Ia akan tetap bertahan. Sebab, Ia tak ingin jika Ia menyerah akan menyakiti kedua belah pihak keluarga.
"Akkhh!! " Pekik Reni saat memasuki kamar dan melihat Bian yang baru saja keluar kamar mandi hanya dengan memakai boxer dan bertelanjang dada.
"Ngapain lo teriak?" Bian kaget.
Reni menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya. "I-itu, Bian kenapa gak pakai baju?" Gugupnya.
"Lo yang salah. Kenapa gak ngetuk pintu dulu?" Bian dengan santainya melewati Reni yang masih berdiri diambang pintu dengan kedua tangan menutup wajah.
"Ma-maaf. Aku cuman mau ambil selimut dalam lemari."
"Yaudah ambil aja. Ngapain matung di situ terus? Terpesona sama perut gue?"
Dengan perlahan, Reni melepaskan telapak tangannya. Dan Ia melihat Bian yang sudah mengenakan kaos oblong putihnya. Reni menarik nafas, lalu menghembuskannya.
Perlahan tapi pasti, Ia mulai mengambil selimut tersebut tanpa menatap Bian sedikit pun. Sungguh, sekarang Ia begitu malu. Kemudian, Ia berlari keluar ruang tengah untuk tidur.
Yah. Beberapa hari belakangan ini, Reni memilih tidur di sofa yang ada di ruang tengah. Bukan Bian yang menyuruhnya, hanya saja Ia yang tak nyaman tidur seranjang dan sekamar dengan Bian. Bisa-bisa jantungnya bisa copot setiap kali melihat Bian seperti tadi.
"Aku bodoh banget sih. Kenapa sih aku gak ngetuk pintu dulu? Jadi malu sendirikan!" Reni menepuk keningnya sendiri. Sedetik kemudian Ia tersenyum, entah mengapa Ia tersenyum, Ia sendiripun gak tau. Yang jelas kini, ada sesuatu yang berbeda. Entahlah!
Tak ingin larut dalam semua ini, Ia lebih memilih menutup wajahnya dengan selimut lalu tidur.
°°°°°°
Ting!! tong!!
Ting!! tong!!
Suara bel rumah yang berbunyi berulang kali, mengganggu tidur Reni yang terbangun karenanya. Pasalnya, siapa yang datang bertamu pagi-pagi buta seperti ini.
"Siapa yang datang sepagi ini?" Reni mengatur nafasnya, kemudian bergegas untuk membukakan pintu.
"Pagi!" Suara cempreng itu. Siapa lagi kalau bukan Alam. Alam dan Rio datang sepagi ini. Entah apa yang akan mereka lakukan.
"Kita gak ganggu kan? Maksudnya, kalian gak ngelakuin hal yang buat kita ngeganggu kalian?"
Kening Reni berkerut. "Ha? Maksudnya?"
"Udah gak usah pikirin perkataan Alam tadi!" Rio menoyor kepala Alam yang dibalas cengiran oleh pemilik kepala.
"Eh iya, silahkan masuk!" Ujar Reni dan Keduanya masuk kedalam.
"Gak ada makanan kah, Ren? Gue laper banget nih." Tanpa malunya, Alam seolah menganggap ini rumahnya sendiri.
"Lo malu-maluin banget sih." Rio menyikut Alam. "Maaf ya Ren, Alam emang gitu." Lanjutnya.
"Gapapa kok! Ini aku baru bangun jadi belum sempat masak." Reni tersenyum manis.
"Btw, Bian dimana?" Tanya Rio lagi.
"Dia mungkin masih tidur di atas. Kalian duduk saja dulu, aku mau bangunin Bian dulu sekaligus masak buat sarapan pagi."
"Masak yang enak ya, Reni. Gue sengaja kesini, karena kalo hari libur gue gak bisa makan masakan lo di sekolah."
Rio melempari bantal sofa ke muka Alam. "Lo kayaknya harus banyak konsumsi bakso urat," ujarnya.
"Kenapa gitu?"
"Karena urat malu lo udah hilang."
"Sa ae lo," cengirnya. "Rio, liat! Gimana mau ngelakuin sesuatu, orang Reni masih tidur disini." Alam dengan mulut lemesnya, memperlihatkan selimut yang dipakai Reni semalam.
"Ssst!" Kode Rio, karena melihat Bian datang dan menghampiri mereka.
"Kalian ngapain sih, setiap hari libur pasti datang kesini?" Bian menghempaskan bokongnya ke kursi. "Gue tau gue ngangenin, tapi kalian gak usah segitunya juga kali." Ujar Bian bermaksud bercanda.
"Hoekk! Najis." Alam seolah muntah, sedangkan Rio hanya bergidik ngeri.
"Kita kesini kangen masakan istri Lo, najis banget kangen Lo. Yang ada gue muak."
Bian kesal dengan pernyataan Alam. "Dasar kurang modal kalian," timpalnya.
Aroma makanan yang dimasak Reni, menyeruak sampai ke ruang tamu. Membuat siapapun yang menciumnya terasa keroncongan.
"Masakan Reni wangi banget." Rio memang mengatakan Alam tak tahu malu. Namun sekarang Ia sendiri terpesona dengan aroma masakan Reni.
"Ayo makan! Sarapannya udah siap." Ujar Reni, mempersilahkan mereka.
"Wah ininih yang gue like." Alam berlari dengan rakus menuangkan nasi yang banyak ke dalam piringnya.
"Lo gak ikut makan, Bian? Ini Reni udah masak makanan enak loh." Tanya Rio, melihat Bian yang memilih naik ke kamar.
"B aja. Gue ada janji jalan bareng Nanda."
Reni hanya tersenyum kecut mendengarnya. Melihat hal itu Alam dan Rio menatap kasian ke Reni.
"Reni, Lo yang sabar yah! Ini alamat rumah gue, siapa tau lo kesepian." Alam memberi kartu alamat ke Reni.
Rio tercengang. "Buat apa lo kasih dia alamat rumah lo?"
"Jangan salah paham dulu! Lo tau sendiri, gue kan punya adek cewek, yang hampir seumuran lah dengan kita. Siapa tau Reni kesepian butuh teman ngobrol, dia bisa main sama adek gue. Sikap dan sifat mereka sama kok gak jauh beda."
"Oalah gitu."
Reni tersenyum melihat kedua sahabat Bian, yang senantiasa menghiburnya dan membuatnya tersenyum. Ia berharap orang-orang baik seperti mereka bisa terus bersamanya.
TBC
Don't forget to vote (っ˘з(˘⌣˘ )
Salam dari Author yang Absurd:v
KAMU SEDANG MEMBACA
Altruistic✓
ChickLit[FOLLOW SEBELUM MEMBACA!] "Gue ingin hak gue sebagai suami, SEKARANG JUGA!!' "GAK, LEPAS! Kita masih terlalu muda untuk melakukannya." ~ Starting on March 26, 2021. Ending on September 29, 2021.
