20 Sedikit manja

440 21 1
                                        

Cinta bisa merubah konsep waktu.
Ketika bersama, jam terasa detik
dan tahun terasa hari.
____

Hachiww!!
Hachiwww!!

Reni begitu khawatir, sebab Bian tak henti-hentinya bersin sejak sepulang sekolah tadi. Mungkin ini faktor dari kehujanan kemarin.

"Bian, sepertinya kamu flu. Mau aku ambilin obat?"

"Hm." Sahutnya, berlalu menuju kamar atas.

Setelah mengambil obat, Reni bergegas menemui suaminya. Ia seketika tersenyum, melihat suaminya sudah terlelap, tanpa meminum obat.

Perlahan Ia mengusap rambut suaminya. Namun, Ia terkejut mendapati kening Bian yang begitu panas.

"Suhu badan Bian panas sekali."

Reni bergegas memeriksa laci, yang terdapat termometer. Ia lalu memasangkan termometer tersebut ke mulut suaminya, yang menunjukkan angka sampai 36°C.

"Astagfirullah, Bian demam."

Dengan cepat, Ia berlari untuk mengambil alat kompres, obat demam dan juga makan tentunya. Sebab, Bian belum juga makan sepulang sekolah tadi.

Reni mengompres Bian dengan telaten, mengusap-usap handuk kecil itu di dahi suaminya. Pergerakan Reni itu, membuat Bian yang tadinya tertidur, kini terbangun.

"Bian makan dulu ya! Habis itu minum obat." Bian hanya mengangguk lesu.

Bantal yang tadi ditiduri Bian, kini dijadikan sandaran oleh Reni, agar Bian bisa duduk dengan nyaman. Reni menyuapi Bian dengan penuh perhatian. Sehabis makan, Reni juga menyodorkan obat untuk Bian. Sosok istri yang siaga, memang bisa menjadi gelarnya.

"Kamu tidur ya! Aku mau ke bawah dulu sebentar, mau nyimpan mangkok ini." Ujarnya memakaikan selimut untuk suaminya.

Namun, dengan mata yang sudah terpejam, Bian menarik pergelangan tangan Reni. Seolah tidak menyuruhnya pergi. Bian meletakkan tangan Reni di kepalanya, agar bisa mengusap rambutnya. Reni juga tak menolak permintaan suaminya itu.

Reni duduk di samping kasur, lalu mengusap rambut suaminya agar bisa terlelap. Sesekali Ia juga tersenyum, melihat suaminya yang manja sekarang ini.

Ia tak menyangka jika suaminya akan sangat manja jika sedang demam.

°°°°°

"Eh, kalian udah lama disini?" Tanya Reni terkejut, melihat kedua sahabat Bian yang kini sudah duduk di ruang tamu.

"Sejak lo ngusap-ngusap rambut bayi gede itu hingga tertidur." Alam sedikit menggoda Reni, yang membuat Reni tersenyum malu.

Reni mengusap rambut Bian, selama 3 jam. Berarti teman-teman Bian ini, udah menunggu selama itu.

"Maaf ya Reni, tadi kami mencet bel berulang kali tapi gak ada yang buka. Jadinya, kami langsung aja naik ke kamar Bian. Kita pikir, lo nggak ada di rumah." Jelas Rio yang dibalas anggukan oleh Reni.

"Emang bener ya Rio, Cinta bisa merubah konsep waktu. Ketika bersama, jam terasa detik dan tahun terasa hari." Lagi-lagi Alam membuat Reni tersipu malu.

"Gimana keadaan, Bian?"

"Alhamdulillah, panasnya udah turun. Tapi, dia masih tidur."

"Gapapa. Biarin dia istirahat"

Reni mengangguk. "Kalo gitu, kalian tunggu sebentar ya. Aku mau kebelakang dulu buatin minum dan cemilan." Ujarnya membuat keduanya mengangguk antusias.

"Lihatlah, betapa beruntungnya Bian mempunyai istri baik dan telaten seperti Reni." Ujar Rio.

"Iya, Bian mungkin Colourblind. Sampai gak bisa lihat kebaikan Reni."

"Colour Blind?" Tanya Rio berkerut.

"Iya, colour blind. Bahasa Inggrisnya Buta. Gitu aja lo gak tau."

"Heh!! Colour blind itu buta warna. Buta itu cuman blind gak usah ditambah colour."

"Oh udah ganti?" Alam mangguk-mangguk.

"Gak pernah ganti! Pantas aja nilai bahasa Inggris lo remedial terus." Kesal Rio, yang membuat Alam cengengesan.

Saat sibuk membuat minum, fokus Reni teralih pada mobil berwarna putih yang terparkir di depan rumahnya. Ia baru sadar, ternyata mobil itu sudah biasa Ia lihat terparkir di depan rumahnya sejak 2 hari yang lalu. Namun, karena tak ingin overthinking, Reni memilih membawa minuman buatannya kedepan.

TO BE CONTINUED

Dibandingkan part-part sebelumnya, part ini yang paling pendek.

So, don't forget to vote yaww😌🙃

Altruistic✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang