Sekuat apapun aku menyibukkan diri,
kamu selalu saja muncul dipikiranku.
_____
Help, siapapun yang baca please vote!
___________
"Sunyi juga nih rumah gak ada Reni."
Manik Bian menatap atap kamarnya. Kini Ia sedang berbaring di atas kasur dengan kedua tangan berada di bawah kepala.
"Gue gak pernah berfikir, bahwa gue akan kesepian tanpa dia." Cengirnya tanpa disadari.
Melamun adalah hal bodoh menurut Bian. Namun sekarang, Ia malah melakukannya. Melamunkan istrinya.
Mengingat wajah saat Reni tersenyum walau tersakiti, saat Reni marah, wajah yang lucu saat dia kesal, saat dia cemas, saat dia takut.
Gadis yang selalu sabar menerima kemarahannya, titahannya, dan egoisnya. Gadis yang telaten mengurusnya, baik sehat maupun sakit.
Apalagi, saat ini Bian membayangkan kejadian di malam itu lagi. Kejadian saat Reni berada di bawah kungkungannya. Raut wajah ketakutan Reni dengan keringat di pelipisnya membuatnya gemas sendiri.
Wait-wait! Kenapa dia harus membayangkan itu?
Kenapa dia harus melamunkan Reni?
Bian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sadar Bian, sadar!" Lalu menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Lo nggak harus segitunya seolah terpesona dengan cewek itu. Nanti cewek itu tambah keGRan. Lo cuman harus minta maaf dan nyuruh dia pulang. Udah gitu doang." Ujarnya menatap diri di depan cermin.
Tapi, wajah Reni malah terlihat di cermin, yang membuatnya terkejut dan menepuk pipinya lagi.
Saat Bian berusaha mundur, Ia melihat wajah Reni yang tersenyum manis itu lagi di bingkai foto.
Wah! Sarap nih otak.
Sepertinya dia butuh minum.
Dengan segera Bian meraih gelas air putih di meja nakas, tapi Ia justru kaget karena bayang-bayang wajah Reni ada di air itu. Seketika Ia melempar gelas tersebut hingga pecah.
"Akkh!! Ngapa tuh cewek ada di mana-mana sih?" Bian frustasi keluar dari kamarnya. Ia kini menuju halaman depan, tempat favoritnya menatap langit dan bintang.
Di pihak lain, Reni juga melakukan hal yang sama dengan Bian. Yaitu, melamunkan suaminya.
Namun bedanya, sekarang Reni menatap langit di balkon kamarnya.
"Kerinduanku padamu membuat sinar bulan meredup. Bahkan bulan merindukanmu juga." Ujarnya tersenyum menatap langit.
"Sekuat apapun aku menyibukkan diri, kamu selalu saja muncul dipikiranku."
Tatapannya yang tajam, rahangnya yang tegas, dinginnya kala berbicara, arrogant-nya, egoisnya, senyumnya yang tipis. Semuanya, masih terpatri dalam ingatannya.
Oiya jangan lupakan tentang perut sixpack nya, yang membuat Reni malu sendiri jika membayangkannya.
Bahkan sekarang Ia melihat bayangan wajah Bian di langit, yang tersenyum kepadanya.
Reni mengacak-acak rambutnya.
Kenapa ciptaanmu buat hamba gila sendiri, ya Allah?
Tapi, setiap kali Ia mengingat cara Bian mengusirnya, menuduhnya, dan menyalahkannya, membuat semua kesempurnaan yang terpatri diingatnya mengenai Bian, pudar.
Apalagi jika Ia mengingat cara Bian mempertanyakan harga dirinya?
Tidak benci, hanya saja Ia sedikit kecewa dengan hal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altruistic✓
Literatura Feminina[FOLLOW SEBELUM MEMBACA!] "Gue ingin hak gue sebagai suami, SEKARANG JUGA!!' "GAK, LEPAS! Kita masih terlalu muda untuk melakukannya." ~ Starting on March 26, 2021. Ending on September 29, 2021.
