32| Meminta hak?

771 21 2
                                        

Ada beberapa pertanyaan yang
gak ada jawabannya.
______

Bacanya jangan di skip bestie,
Biar feel-nya dapet:)

⚠️ Part ini sedikit mengandung kekerasan
dan kata kasar.
_________

"Dari mana kalian?" Tanyanya dengan kaki diluruskan di atas meja dan satu tangan memegang botol anggur dengan mata yang memerah. Sudah dapat dipastikan bahwa orang itu sedang mabuk.

Dua orang yang mendapati pertanyaan itu hanya bisa diam, apalagi melihat penampakan pria yang bertanya kepada mereka.

"Gak punya mulut kalian buat ngejawab? Dari mana kalian sampai jam segini?" Ujarnya lagi seolah meremehkan. Pasalnya, mereka berdua pergi dari siang dan baru pulang hampir larut malam.

"Ada beberapa pertanyaan yang gak ada jawabannya." Balas Alam dengan tatapan tak kalah tajam. "Reni, lebih baik lo langsung istirahat saja!" Lanjutnya.

"Kenapa gak ada jawabannya? Oh gue tau, kalian pasti punya hubungan spesial kan dibelakang gue?"

"Tidak Bian! Tadi aku sama Alam ke rumah sakit."

"Udah jago bohong ya lo?" Mata Bian kini semakin memerah.

"Gak usah perduliin omongan Bian! Sepertinya dia lagi mabok." Alam memegang pundak Reni.

"Aku gak bohong Bian. Memang benar, tadi aku ke rumah sakit di antar sama Alam." Jelasnya, mendekati Bian.

"Rumah sakit bersalin, maksud lo?" Gertaknya mendorong Reni, hingga yang didorong tersungkur ke lantai.

Alam yang melihatnya langsung membantu Reni untuk berdiri. "Bian, lo apa-apaan sih!!"

"Udah sejauh mana hubungan kalian?"

"Bian? Maksud lo apa? Gue gak sebejad itu ya, sampai mau ngehancurin rumah tangga teman gue sendiri." Geram Alam, membiarkan Reni berlindung dibelakangnya.

"Masih anggap gue temen, lo?" Congkak Bian.

Karena kesal, Alam sangat ingin memberi pelajaran kepada Bian, andai Reni tak menahannya.

"Alam lebih baik kamu pulang, biar aku yang urus Bian."

"Tapi Reni, Bian lagi mabuk. Gue takut nanti dia sakitin lo." Alam takut membiarkan Reni sendirian, apalagi dengan kondisi Bian yang setengah sadar seperti ini.

"Gapapa. Aku mohon Alam. Ini masalah rumah tangga kami, jadi biar kami yang menyelesaikannya." Pintanya seraya memohon.

Alam menarik nafas dalam-dalam. "Baiklah, tapi lo harus hati-hati." Ujarnya kemudian pergi. Reni hanya mengangguk mendengarnya.

"Kenapa lo nyuruh laki-laki itu pergi? Lo takut gue tau semuanya?" Bian terus saja meminum minuman yang ada di botol.

"Kamu salah paham Bian. Ini gak seperti apa yang kamu pikir."

"Lo pikir gue buta? Lo pikir gue bodoh? Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, lo sama laki-laki itu keluar dari rumah sakit bersalin, apalagi yang kalian lakuin disana kalo bukan meriksain kandungan?"

"Jadi kamu pikir, aku khianatin kamu?"

"Yah, apalagi? Lo sudah berbuat lebih dengan pria itu. Sudah berapa bulan anak pria itu di kandungan lo?" Bian mencengkeram satu tangan Reni.

"Aku tidak sehina itu Bian!"

"Ga usah sok suci!!"

Reni tak menjawab. Ia terus saja menangis, mendapat tuduhan jahat dari suaminya. Sakit sekali, mendengar suaminya menuduh dirinya yang bukan-bukan.

"Sini lo!!" Bian menarik Reni naik ke atas, walaupun Reni berusaha melepaskan diri.

"Lepasin Bian! Tangan aku sakit." Lirihnya, namun Bian tak memperdulikannya.

Bian menghempaskan Reni ke ranjang, lalu mengunci pintu dan melemparkannya kesembarang arah.

Ia kemudian melepaskan sabuk celananya dan melemparkan ke sembarang tempat.

"Kamu mau ngapain? Jangan macam-macam Bian!!" Reni terus saja melempari Bian bantal, yang berusaha mendekatinya.

"Gue ingin hak gue sebagai suami, SEKARANG! Lo sudah memberikannya pada pria itu, sedangkan gue yang berhak mendapatkannya, ga lo kasih." Bian membuka baju kaos oblongnya.

"Tidak! Jangan gila Bian! Kamu salah paham sama aku." Reni berusaha kabur, namun pintu kamarnya terkunci.

"Haha, mau kemana lo? Apa salah, gue sebagai suami meminta hak gue? Sedangkan laki-laki itu lo kasih dengan cuma-cuma?" Bian meraih tangan Reni lagi, mencengkeramnya kuat, lalu menyudutkannya di tembok, kemudian menahannya dengan kedua tangan agar Reni tak bisa kabur.

Reni terus-terusan menangis di kala Bian menyentuh wajahnya secara sensual dan penuh nafsu.

"Bian kumohon! Kamu lagi mabok Bian, kamu gak sadar."

Tak mendengarkan ucapan istrinya, Bian malah menarik tubuh Reni lalu menghempaskannya ke ranjang lagi.

Bian naik ke atas tubuh Reni yang telentang di atas ranjang. "Lo gak usah sok suci, kalo lo sudah gak suci. Anak di kandungan lo ini bukti kalo lo udah ga-"

"Stop Bian! Stop!" Reni memotong ucapan Bian yang menyakitkan baginya. Dia tidak ingin mendengar lanjutan dari ucapan Bian.

"Kenapa? Salah kalau gue meminta hak gue sekarang? Lo istri gue dan gue suami lo. Kita sudah selesai ujian, dan gue berhak mendapatkannya walaupun bukan yang pertama."

"Gue udah cukup sabar menahannya selama ini. Gue juga laki-laki normal, asal lo tau." Lanjutnya lagi dengan suara serak.

Bian sungguh telah kalap mata sekarang. Ia tak ingin melepaskan Reni yang telah berada di bawah kungkungannya.

"Lepaskan Bian!! Kita masih terlalu muda untuk melakukannya. Aku mohon Bian!" Reni menangis dengan sesenggukan.

"Lalu apa kabar dengan lo dan Alam?"

"Kamu salah paham!" Sekuat tenaga Reni mendorong Bian, dan usahanya tak sia-sia. Bian terjatuh di sampingnya.

"Kamu salah paham." Air matanya berjatuhan, sembari mencari kunci pintu kamarnya. Sedangkan Bian, kini Ia tak sadarkan diri dengan posisi tengkurap di atas kasur. Dengan bertelanjang dada, Bian sudah dikuasai oleh amarah dan nafsunya.

Dengan senang bercampur takut, Reni mendapat kunci tersebut. Ia membuka pintu dan berlari ke bawah dengan tangisan yang tak kunjung reda.

Ia duduk di pijakan tangga paling bawah, menangis dengan pilu. "Kenapa Bian dengan mudahnya menuduh aku sehina itu?"

Reni seperti frustasi, kondisinya sekarang sungguh menyedihkan. Hanya air mata yang menjadi penenangnya saat ini.

To be ©️ontinued

Vote dong bestie, karena vote itu🆓
Kalo gak vote, digigit tirex nih🦖🦖

Altruistic✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang