Mata hijau itu bersinar terang, kerlingan aneh di matanya menguar berikan aura aneh saat ada yang melihatnya.Suara mengeong kucing yang terdengar terhimpit berikan sensasi aneh dan mengerikan saat telinga menangkap nadanya.
Hingga darah tidak sengaja keluar dari mulut kucing tersebut, mengalir di tangan anak kecil yang menatap kosong pada makhluk lemah tidak berdaya.
Tangan kecilnya menjatuhkan makhluk tak bernapas tersebut tanpa rasa bersalah, sekop mini di tangannya ia gerakkan dengan pelan menggali tanah.
Teramnya malam hari di taman belakang mansion serta bau amis darah kucing yang masih hangat membuat suram area. Tidak ada yang terlihat, hanya tubuh kecil yang bergerak dengan hati-hati.
Di belakangnya ada seseorang yang berjalan pelan ke arahnya, matanya yang mengawang-awang layaknya dalam masa trans membuatnya tidak wajar, di tambah cara jalannya yang layu.
"Thorn? Belum tidur? Tangannya Thorn berdarah, bagaimana bisa? Thorn, apa yang kau lakukan dengan kucing mati?" Menoleh, mata hijau itu kosong saat menatap kelereng biru tua. Wajah si mata hijau penuh dengan tetesan darah yang seperti terciprat.
"Thorn? Apa kau liat Cattus? Ia tidak terlihat semenjak kemarin lusa, aku khawatir." Terlonjak dari lamunannya, wajah Thorn kosong saat melihat wajah mengawang-awang Taufan di sampingnya.
Hiraeth
All part of this stories is belongs to Nathan
Don't take out without permission!
Slow update, read at your own risk!
Happy reading fellas~***
Jika Taufan ditanya diantara saudaranya siapa yang paling memiliki rahasia paling banyak maka ia akan mengatakan Thorn adalah yang paling banyak, lalu Halilintar dan selanjutnya Solar. Bagaimana bisa? Simpelnya seperti ini, Thorn memilki persona seperti remaja baik-baik, polos serta lugu dan seorang yang lembut. Tidak akan ada yang mau menyalahkan orang yang memiliki persona seperti Thorn, tapi Taufan tidak.
Thorn memang terlihat seperti remaja normal kebanyakan, tapi terlepas dari itu semua, Taufan tidak mempercayai akan hal itu. Sosok yang seperti Thorn adalah yang paling mengerikan, mereka pandai menyimpan rahasia, seorang manipulatif yang handal, sopan santun saat berbicara, dan terlihat lugu seperti seorang yang putih, dan bahkan seorang pembohong ulung.
"Ingin Thorn bantu untuk mencari Cattus, Taufan?" Suara Thorn menyadarkannya saat ia mengumpulkan kertas print untuk di tempelkan di setiap jalan untuk mencari kucingnya.
Menolehkan wajahnya, Taufan menatap ekspresi netral Thorn lalu mengangguk pelan, meninggalkan jejak binar biru di matanya. Itu sudah seminggu semenjak kucing peliharaannya menghilang, apalagi kesibukan sekolah dan hal lainnya membuatnya dirinya tidak memiliki banyak waktu untuk mencari Cattus.
Sekolah mungkin hal yang menyenangkan bagi Thorn, terlepas dari majalah dinding yang berisi berita(Taufan lebih percaya jika mading hanya berisi gosip bodoh)tentang kematian kucing di beberapa tempat di kota berkembang tersebut.
"Kau tahu? Kucing Loony Taufan menghilang, ia bahkan menempelkan selembaran di setiap jalan kota dan taman. Idiot sekali."
"Hei, kucingku juga menghilang. Tolong di jaga mulutmu tolol, aku rasa empati mu sudah tiada. How pity."
"Anjingku juga...."

YOU ARE READING
Hiraeth
Fanfiction(n.) a homesickness for a home to which you cannot return, a home which maybe never was; the nostalgia, the yearning, the grief for the lost places of your past. (nomina.) Sebuah kerinduan untuk sebuah rumah yang tidak bisa anda datangi, Sebuah ruma...