Hiraeth : 11. Nostalgia

892 98 17
                                    


Ruangan itu berwarna monoton, putih. Sejauh matanya yang baru terbuka selalu melihat hal yang sama. Furniturnya, warna lampu penerangannya serta warna tubuhnya.

Penghidunya pun menghirup bau zat adiktif psikotropika jenis Benzodiazepine, baunya menyengat tetapi di saat yang sama menenangkan dan membuatnya nyaman.

Mengedipkan kelereng biru tua itu perlahan, detak jantungnya berdetak pelan, napasnya keluar pelan tetapi teratur serta kelopak matanya kini menutup. Samar-samar suara serak dengan nada pelan berujar sebelum kesadarannya hilang,

"Tidurlah nak, ayah tidak bisa membuatmu tinggal satu atap dengan saudara kembarmu. Kau itu-"

"Taufan, bangun! Hari ini Ulangan Akhir Semester Ganjil!" Teriakan menariknya dari alam bawah sadarnya, matanya terbuka seakan tidak tertidur, lalu mendesis kesal karena terlambat bangun di pagi hari.

Hiraeth
All part of this stories is belongs to Nathan
Don't take out without permission!
Slow update, read at your own risk!
Happy reading fellas~

***

Taufan selalu merasa ia merindukan rumah, tetapi pada saat yang sama ia membencinya. Ia merindukan suasana hangatnya, ia merindukan hidup bersama ayahnya, tetapi ia membencinya karena rumah adalah hal yang mengerikan. Terkadang ia merasa indra penciumannya itu sudah rusak, masalahnya ia selalu mencium bau obat-obatan yang baunya menyengat di kediaman kakeknya semenjak ia tinggal di situ. Walau ia akan secara berat mengatakan jika ia terbiasa menciumnya.

Kakinya melangkah di koridor dengan pelan, tas selempang kecilnya yang hanya berisi alat tulis kantor dan kebutuhan untuk ulangan tersampir di punggung kecilnya. Beberapa murid menatapnya dengan pandangan kagum dan cemburu, pasalnya dengan penampilan barunya yang mencolok. Rambut dengan potongan pendek dengan poni masih menutup dahinya, mata biru tuanya selayaknya manusia dari daerah barat dengan cara mengawang, wajah aristokrat yang sekarang berikan kesamaan seperti saudaranya dan jalannya yang penuh keyakinan menambah kesan percaya dirinya.

Melambaikan tangannya saat Ying di jarak pandang matanya, dirinya segera berjalan lebih cepat sesekali mencuri pandang murid yang menatapnya dengan intens. Apakah aku salah berpakaian? Apakah pita biru tua aneh di rambut pendek? Begitu pikirnya.

"Taufan! Oh, astaga, ku kira kau tidak akan hadir karena terlambat." Berujar cepat, Ying menghela napas lega saat Taufan datang dengan tubuh utuh.

Taufan mengangkat bahunya acuh tidak acuh, lalu berkata, "Semalam aku lupa waktu karena membaca literatur."

Ying yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya pelan, sudah terbiasa dengan sikap Taufan yang apatis dengan sekitarnya, ia masih ingat perkataan Taufan mengapa ia begitu masa bodoh pada apapun.

"Selagi tidak ada meteor seukuran negara kita yang akan jatuh di atas kepalaku, atau Zeus yang mencoba menyambarku dengan petir bodohnya karena aku memberitahu Hera jika ia melakukan seks dengan manusia, maka aku tidak akan peduli apapun, selagi itu tidak mengganggu kehidupan dan agenda ku."

Menyilangkan tangannya di dada, kacamata trendinya berkilat penuh kecemasan saat sadar jika Taufan mungkin tidak belajar untuk ulangan mata pelajaran hari pertama ini. "Taufan, kau tidak belajar? Atau setidaknya mencoba 'sistem kebut semalam' ?" Tanyanya beruntun.

Menggelengkan kepalanya pelan, Taufan meminum susu kotak kemasannya yang masih dingin, sesekali menggoyangkannya agar glukosanya terlarut. Berdiri dekat pembatas koridor di depan ruangan kelas ujiannya, matanya menatap lapangan yang mulai ramai karena murid yang berbincang. Sesekali melirik beberapa murid yang mencoba menarik perhatian saudara kembarnya maupun sahabatnya.

HiraethWhere stories live. Discover now