Hiraeth : 16. Sufferer

207 37 24
                                    

Apa yang belum terjadi akan terjadi, yang sudah terjadi akan terjadi kembali. Pada dasarnya, sebuah lingkaran yang akan terus terulang kembali. Nasib atau takdir, keberuntungan dan kesialan, bahkan hal sepele seperti waktu; siang dan malam, memiliki sebuah hubungan, baik yang menghasilkan suatu hal timbal balik. Sebuah roda, yang menandakan kehidupan dan kematian.

Jika kita kembali pada nasib maupun takdir, hal yang adil dari mereka adalah tidak pernah adil. Sebab, akibat, dan prosesnya adalah keniscayaan. Lagipula, mengapa memikirkan hal-hal aneh? Yang terpenting dalam hidup adalah masa kini.

Hiraeth
Where's all part of this stories is belongs to me
Please, kindly do not plagiarism
Slow update, read at your own risk!
There angst we like, because it's good for crying

***

Kediaman besar tersebut ramai dengan keheningan. Dapat dikatakan normal untuk tempat tinggal yang dihuni oleh seorang pria dewasa dan sejumlah remaja laki-laki. Untuk Taufan sendiri, suasana rumah anehnya, tidak pada tempatnya. Seperti mempresentasikan masa kini.

Kamar tidur yang besar untuk anak remaja seusianya, dinding bercat biru langit, kasur lembut dan pendingin ruangan. Sebuah keinginan bagi mayoritas remaja seperti Taufan. Kakinya mati rasa, hanya dapat menatap langit-langit ruangan tersebut. Memangnya apa yang harus dilakukan untuk anak yang lumpuh kakinya seperti Taufan? Pikirnya begitu.

Bibirnya berkedut, rasakan ironi yang nyata. Dia masih ada disini, hanya untuk jantungnya berdetak, menatap saudaranya tumbuh besar menjadi pria muda di tahun-tahun mendatang. Ia akan duduk di sofa nyaman, dekat dengan pemanas ruangan dan secangkir cokelat hangat di kepalan tangannya.

Dan dunia akan terus berputar dan berjalan, bersama ataupun tidak dengan dirinya. Berkedip, ia melirik pintu kamar yang terbuka perlahan. Ia menata raut wajahnya, berusaha berikan ekspresi normal.

Ia bersitatap dengan mata biru laut, itu terlihat mengantuk. Memangnya, beban dan penderitaan apa yang harus dibawa oleh bahu tersebut? 

Biru laut bertemu biru langit. Memangnya, apa beda warna biru jika dipikirkan kembali? Itu tetap biru, terlepas sejernih dan segelap warna tersebut.

Rasanya, mereka berdua lebih terlihat kembar daripada yang lain. Lagipula, kembar artinya identik, bukan?

***

"Dingin." katanya, tiba-tiba. Taufan untuk beberapa saat bingung, suhunya, atau dia?

Mata itu terlihat mengantuk, dengan rambut teruntai berusaha menutupi warnanya. Tubuh tinggi tegap itu menatap kosong Taufan, sebelum bergerak nematikan pendingin ruangan kemudian menyalakan penghangat ruangan.

Taufan menggaruk pipinya, "Oh, terimakasih?" ujarnya, sedikit banyak masih bingung. Sang remaja hanya berdiri menatap, entah melamun atau pikirannya sedang langlang buana, meninggalkan tubuh fisiknya.

Mata biru laut itu berkedip. Taufan bingung, apakah matanya tidak perih hanya menatap tanpa berkedip. Ruangan tersebut kembali sepi, dipenuhi keheningan yang ramai. "Kaki. Sakit?" ia bertanya, sembari bergerak mendekat ke kasur dan duduk di pinggir.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 11 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

HiraethWhere stories live. Discover now