Rasanya, aneh. Bagi manusia yang mengalami koma panjang lalu bangun dalam keadaan remaja, itu sebuah kemunduran secara tidak langsung, tidak terlalu signifikan memang, tapi cukup mengganggu. Boboiboy Taufan salah satunya. Tidak mengerti satu hal apapun dan berada disekitar orang tidak dikenal merupakan hal menakutkan."Taufan? Ingat ayah?"
•
•
•
Hiraeth
All part of this stories is belongs to Nathan
Don't take out without permission!
Slow update, read at your own risk!
Happy reading fellas~***
Ruangan berbau alkohol, mesin penopang kehidupan serta layar notifikasi mengambang didepan pasien yang terbangun bukanlah apa yang banyak diharapkan bagi para pesakitan. Tapi resiko kematian selalu ada bagi mereka yang bernapas di rumah sakit.
Salah satu perawat berusaha membuatnya nyaman, sedang dokter memeriksa keseluruhan tubuhnya dengan semacam alat aneh.
"Tolong jangan mengedip beberapa saat." Pintanya, yang ia lakukan. Cahaya senter menyinarinya sebentar, lalu dokter tersebut berbisik kepada perawat disebelahnya, yang segera mencatat. Dokter itu tersenyum, lalu pergi ke arah pria tinggi yang sedari tadi menatap melalui kaca diluar ruangan.
Mereka berbicara cukup lama, lalu dokter itu pergi dan pria itu masuk keruangannya. Ia bergerak tidak nyaman, sesekali menghela napas lega dan penuh haru.
"Taufan, ingat ayah?" Tanyanya. Kelopak mata itu mengedip, membuka belah bibirnya hanya untuk ditutup kembali akibat suara yang terlalu kecil. Tidak putus asa, remaja itu berikan gelengan pelan.
Ayahnya hanya tersenyum lalu mengangguk, "Ini ayah, Amato. Tidak apa-apa, ayah mengerti." Pria yang mengaku ayahnya berusaha menjelaskan dengan lembut, sesekali mengusap rambutnya perlahan.
"Mungkin ini sulit, tapi ayah akan menjelaskan saat keadaan Taufan sudah membaik. Mengerti?" Taufan hanya mengangguk, lalu berikan senyum canggung kepada ayahnya.
Lalu percakapan itu terhenti saat pintu ruangan itu terbuka, menampilkan remaja bertubuh tinggi dengan mata merah yang menonjol. Ia tidak mengenalnya, tapi ada kesan familiar saat mata itu mengarah padanya.
"Taufan, ini saudara kembarmu yang lebih tua. Halilintar namanya." Ayahnya memperkenalkan laki-laki itu kepadanya, Taufan buka mulutnya ucapkan 'Halo, kakak' dengan suara yang serak, lambaikan tangan dengan canggung diakhiri senyum tipis.
Remaja tinggi itu hanya mendengus, lalu menatap ayahnya. Taufan hanya berkedip pelan, bingung dengan apa yang terjadi. Ayahnya berusaha berikan Taufan senyuman lembut, walau ekspresi wajahnya jelaskan hal lain.
"Taufan, ayah berbicara sebentar dengan Halilintar. Beristirahatlah." Ucapnya, lalu menarik kakaknya keluar dari ruangannya. Matanya mengikuti mereka menjauh, lalu berhenti saat pintu tertutup.
Beberapa saat kemudian, teriakan terdengar dari arah luar. Ia hanya menutup kupingnya karena takut.
***
"Bisakah kau sedikit lembut dengan adikmu, Halilintar? Dia baru saja bangun dari koma yang lama. Apakah kau ada masalah dengan Taufan?" Ayahnya berbicara tegas, gurat dahinya terlihat.

YOU ARE READING
Hiraeth
Fanfiction(n.) a homesickness for a home to which you cannot return, a home which maybe never was; the nostalgia, the yearning, the grief for the lost places of your past. (nomina.) Sebuah kerinduan untuk sebuah rumah yang tidak bisa anda datangi, Sebuah ruma...