Manik abu-abu itu tenggelam dalam buku tebal, di sebelahnya ada kelereng biru tua menatap penasaran.Mendorong bahu yang lebih tua, si abu-abu menghela napas kasar. Ia tidak suka dengan Taufan, apalagi tampang konyol dan bodohnya.
"Menjauh Taufan, keberadaan mu mengganggu ku." Si abu-abu melirik kesal ke arah sebelahnya, sedang yang biru senyumnya melengkung ke bawah perlahan-lahan.
"Oh! Maaf, Solar! Taufan tidak bermaksud..." Kalimat Taufan tergantung di udara, tidak terselesaikan karena malu menjadi pengganggu.
Mendengus, Solar memutar matanya sinis, melupakan jika Taufan adalah kakaknya. Percuma di beritahukan, kakaknya adalah orang yang bodoh.
"Taufan hanya penasaran apa yang di baca Solar, itu saja." Mata biru tua itu berikan pandangan memelas, sedang Solar yang mendengarnya hanya menaikkan alisnya menghina.
"Kau itu bodoh, untuk apa penasaran? Lagipula, rasa penasaran membunuh kucing itu." Ujarnya menghina, senyum di bibir pucatnya menghilang, Taufan segera pergi menjauh dari adiknya dengan mengingat kata-kata caciannya.
"Solar, untuk apa kau penasaran? Lagipula kau itu pintar, terutama rasa penasaran membunuh kucing. Jadi, tolong mengerti batasan privasi, ya?" Mendorong bahu tegap Solar menjauh, Taufan berikan senyum tipis. Sedangkan Solar membulatkan matanya mengingat sesuatu.
Hiraeth
All part of this stories belongs to Nathan
Don't take out without permission!
Slow update, read at your own risk!
Happy reading fellas~***
Solar adalah anak bungsu dari keluarga Boboiboy, pandai dan selalu membaca buku tebal yang bahkan para mahasiswa sarjana tidak tahu itu apa. Orang-orang tahu jika ia anak ke-enam, bahwa ayahnya adalah seorang yang baik hati, dan keluarganya yang harmonis. Itu memang benar, jika kau melihatnya dari sudut luarnya saja.
Ada kalanya Solar bosan dengan kehidupannya, sering dirinya merasa bahwa hidupnya tidak adil, hingga ia lupa jika ia memiliki Taufan yang notabenenya adalah kakak kembarnya diasingkan. Ia ingat perbincangannya dengan Taufan saat saudaranya duduk di sofa dengan cokelat hangat, sedang matanya menatap jendela penuh rintik hujan deras.
Hangatnya cokelat tidak selalu bisa melelehkan hati si biru tua, apalagi hujan deras mengguyur kota tersebut, membuat kenangan dirinya dengan kucingnya yang tiada selalu timbul, rasa-rasanya hujan ikut berduka akan kepergian kucing berhidung pendek tersebut.
Solar yang melihatnya tidak bisa tidak merasa simpati, apalagi Taufan yang memang raut air wajahnya selalu tenang. Tidak ada riak maupun urat yang bergelombang tandakan ekspresi. Sesekali bibir pucatnya akan meresapi lelehan cokelat hangat, lalu bibir tipisnya akan sedikit mengembang tandakan senyum tipis.
Solar yang memiliki kapasitas IQ di atas rata-rata, tetapi juga memiliki kapasitas EQ di bawah rata-rata tidak bisa tidak bertanya, terlepas jika itu hal yang tidak beretika maupun amoral. "Taufan, apa kau sedih karena Cattus mati?" Adalah ujaran kurang ajarnya Solar yang membuat Taufan menaikkan alisnya.
Bibirnya lalu berikan lengkungan senyum tipis, lalu berkata, "Kematian selalu menjadi momok mengerikan bagi mayoritas manusia, terlepas dari fakta bahwa manusia tidak bisa memiliki keabadian. Benar?"
Menganggukkan kepalanya setelah berpikir, Solar memikirkan kemana arah pembicaraan ini pergi. Lalu si biru membuka mulutnya, "Aku telah melihatnya beberapa kali. Terkadang, kematian memiliki proses yang menakutkan, kejam, penuh kesakitan tetapi tidak berdaya."

YOU ARE READING
Hiraeth
Fanfiction(n.) a homesickness for a home to which you cannot return, a home which maybe never was; the nostalgia, the yearning, the grief for the lost places of your past. (nomina.) Sebuah kerinduan untuk sebuah rumah yang tidak bisa anda datangi, Sebuah ruma...