#27 Ragu?

1.5K 200 11
                                        

Happy Reading
Jangan lupa tinggalkan jejak

♕︎

[ ʟɪᴏɴ ᴋɪɴɢᴅᴏᴍ ]

♔︎

Woomi berjalan entah kemana, yang terpenting ia sedikit menjauh dari Chan dan Dongjin. Tanpa sadar ia berhenti di antara bunga - bunga besar dan duduk sambil memeluk lututnya.

"Apa mereka melupakanku?" gumam Woomi sendu.

"Bukan sekali mereka melupakanku, tapi memang pantas mereka melupakanku aku bukan siapa - siapa, jangan terlalu berharap Woomi" gumam Woomi sambil tersenyum, bukan senyum manis tapi senyum miris.

Mata Woomi mulai berkaca - kaca. Ya memang seharusnya ia tidak berharap terlalu tinggi, ia bukan siapa - siapa, ia juga tidak tahu apa alasan Jeonghan membawanya ke istana. Seharusnya ia sadar Jeonghan hanya menjadikannya sebagai saksi tidak lebih.

Air matanya pelahan mulai berjatuhan dan isakan tangis mulai keluar dari bibir kecilnya, perlakuan yang ia dapat dari para ratu dan para pangeran membuatnya berharap. Seumur hidupnya ia belum pernah disayangi seperti itu. Bayangkan saja, dari lahir Woomi hanya hidup bersama neneknya, awalnya hidupnya terasa bahagia walaupun hanya bersama sang nenek. Tapi tiba - tiba neneknya sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya. Karena tidak memiliki siapapun lagi, ia harus mencari pekerjaan, tapi tidak ada yang mau mempekerjakannya karena ia masih kecil. Jadi ia harus mencuri untuk makan. Miris sekali bukan?

Tapi setelah berada di istana, ia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga dan juga kasih sayang.  Bolehkah ia berharap bisa menikmati waktu bahagia itu selamanya? Bolehkah ia tetap berharap? Ia ingin kehangatan dan kasih sayang itu tetap ada selamanya.

Walaupun ia anak kecil tapi jangan salah, pemikirannya hampir sebaya dengan seorang remaja. Memang seharusnya anak kecil seusianya bermain dengan teman - temannya maupun bersenang - senang tanpa memikirkan apapun. Tapi ia? harus memikirkan besok harus makan apa, dimana ia akan mencari uang, dan dan apa yang harus ia lakukan untuk tetap hidup.

Apakah tuhan adil? Jika adil maka tolong biarkanlah ia merasakan kehangatan dan kasih sayang ini lebih lama lagi. Ia selalu berharap bisa tersenyum senang tanpa beban di pikirannya. Ia terlalu lelah untuk selalu menyakinkan dirinya bahwa ia baik - baik saja.

"Hey cengeng" ucap seseorang anak laki - laki yang membuat Woomi menoleh.

"S-siapa kau?" tanya Woomi sambil sesenggukan.

"Aku adalah orang yang kuat, tidak sepertimu cengeng" jawabnya.

Woomi mendengus kesal, "Apa urusannya denganmu? kau tidak tahu apa - apa lebih baik kau diam" ucap Woomi kesal.

Woomi sedang bersedih bukannya menghiburnya tapi anak laki - laki ini malah mengejeknya.

"Hey cengeng, biar kau tahu tangisanmu itu menggangguku tidur" protesnya.

"Maaf karena mengganggumu" ucap Woomi sendu.

Anak laki - laki itu duduk disebelah Woomi,"Kau kelihatan berbeda dari anak seusia mu" ucapnya.

"Benarkah?" tanya Woomi.

Anak laki - laki itu mengangguk, "Kau tahu anak seusiamu seharunya bermain, bukannya menangis dan berkata seperti tadi" ucapnya.

"Aku tidak punya teman, mana ada yang mau berteman dengan orang miskin dan menyusahkan sepertiku" ucap Woomi sendu.

"Tapi dari penampilanmu tidak terlihat seperti orang miskin" ucapnya.

Lion Kingdom || SEVENTEEN GSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang