[ON GOING]
⚠Jangan lupa follow author!⚠
Alexi dan Alexa, sepasang saudara kembar yang tanpa sengaja terlibat hal mistis setelah mengetahui tentang rumah peninggalan Kakek mereka. Teror-teror menyeramkan mulai berdatangan mengganggu Alexa.
Alexi-lela...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebuah mobil Toyota Harrier hitam terpakir di pekarangan suatu rumah. Laki-laki bertubuh tinggi dan tegap, berambut lurus hitam kecokelatan, hidung mancung, kulit sawo matang, dan mata sebulat bulan, turun dari sana, dengan tas yang disampirkan pada salah satu bahunya.
Ia adalah Alexi Sapphire Jayachandra, atau kerap dipanggil Axel oleh keluarga dan teman-temannya.
Seorang perempuan dengan ciri yang hampir serupa turut turun dari mobil tersebut. Mereka berjalan beriringan ke arah teras.
Tiba-tiba suara barang berat terjatuh, menggema sampai ke luar rumah. "Ma?!" Axel segera berlari masuk tanpa menanggalkan sepatunya.
"Hah? Ada apa?" Lexa hanya mematung di depan pintu, tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Axel berjalan di belakang wanita dengan rambut hitam dikuncir ke samping. Wanita itu datang menghampiri Lexa dengan langkah cepat. "Alexa Carnelian Jayachandra!"
"Ah, oh." Lexa mencoba kabur.
Wanita itu segera menggeplak kepala Lexa tanpa aba-aba. "Gak usah teriak-teriak, ini bukan hutan! Mama jadi kaget!"
"Tapi, Mama juga teriak-teriak!" Lexa mengusap kepalanya.
"Berani kamu melawan Mama, Alexa?! Axel, lihat kelakuan Adikmu ini!" Andrea–Mama Alexi dan Alexa–berganti menjewer telinga Lexa.
Axel hanya sedikit meringis memerhatikan Adiknya dijewer oleh Mamanya. Lexa terus mengaduh dan berusaha melepaskan diri. Upaya yang ia lakukan berhasil, Lexa langsung berlari ke kamarnya, menghindari omelan Mamanya.
"Ck, Adikmu itu ...," decak Andrea. "Xel, tolong ambil salep di kotak P3K. Pinggul Mama biru kayaknya, gara-gara jatuh terpeleset di depan kamar mandi."
"Iya, Ma."
Andrea menjatuhkan bokongnya di atas sofa abu-abu dove di ruang keluarga. "Bisa-bisanya aku punya anak kembar, tapi kelakuannya bertolak belakang. Satu kayak malaikat, satu lagi kayak setan."
"Ma, ini salepnya. Axel ke atas dulu."
"Makasih, Xel. Setelah mandi, langsung makan malam, ya. Papa pulangnya bakalan telat, mendadak ada tambahan pekerjaan," jelas Andrea yang diangguki Axel. "Bilangin Lexa."
"Iya."
Andrea mengoleskan salep pada bagian pinggul kanannya. "Axel mirip Papanya banget. Lexa mirip ... gak tahu mirip siapa, bukan anakku."
"Huwe, Mama jahat!" teriak Lexa yang mendengar perkataan Mamanya. Andrea hanya tertawa mendengar anak perempuannya merajuk.
☠
Dentingan sendok mewarnai makan malam keluarga kecil di dalam rumah bernuansa modern.
"Ma, tiba-tiba aku kepikiran. Kakek ada warisan, gak, sih? Tadi siang aku ngobrol sama Syera soal itu. Habisnya Papa, 'kan, berasal dari keluarga yang lumayan gitu," tanya Lexa yang membuat dua persona di hadapannya menghentikan aktivitas mereka.