9.

6 5 1
                                    

"Lebih baik kita istirahat dulu, Xel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lebih baik kita istirahat dulu, Xel. Kita udah keliling desa ini, tapi masih belum ada tanda-tanda Noel," saran Rafa. Jujur saja, ia lelah.

Setelah yang lain mengangguk, Axel akhirnya setuju.

Rafa dan Lexa kembali membuat tenda. Dion lagi-lagi mencari kayu untuk dibakar. Axel menyalakan lentera bersama Syera. Mereka sebenarnya tidak mau berhenti, tapi mereka tidak bisa melanjutkan saat ini. Terlalu gelap dan berbahaya.

"Noel bagaimana, ya?" resah Lexa. Hatinya tidak tenang. Makanan yang ia pegang bahkan belum sama sekali dimakan.

"Doakan semoga baik-baik aja, ya?" balas Axel yang diangguki Lexa. "Malam ini gue yang jaga. Kalian sebisa mungkin harus tidur."

Syera berdecih, "Gak mungkin gue bisa tidur, Xel. Kita aja dalam bahaya!"

"Percaya aja sama Axel, Ra," sanggah Rafa, "kalau Axel udah bilang baik-baik aja, semua bakal baik-baik aja."

Axel tersenyum tipis. Hanya Lexa yang menyadarinya. Tanpa sadar, Lexa merasakan apa yang kembarannya rasakan. Rasa haru dan bahagia yang samar. Persona di sebelahnya memang sulit sekali ditebak.

"Gue tidur duluan, ya? Jangan lupa doa," peringat Dion, lalu masuk ke tenda.

Beberapa menit setelah Dion masuk, mereka turut masuk terkecuali Axel yang berdiri di depan api unggun. Pikirannya menerawang jauh. Telinganya sudah mendengar banyak sekali teriakan dan jerit kesakitan. Penciumannya terganggu dengan berbagai bau tak sedap dan bercampur. Dirinya sudah terbiasa. Dari kecil sudah bertemu dengan 'mereka' membuatnya kebal.

"Kenapa lu masih ikutin gue? Bukannya udah gue minta untuk pergi? Gue udah gak ada urusan sama lu," sungut Axel.

"Aku ingin bersenang-senang."

Axel hanya menghela napas malas. Beberapa jam Axel lewati dengan mendengarkan lagu dari ipod yang selalu ia bawa ke mana pun. Ratusan lagu sudah tersimpan di sana. Lima jam pun tidak cukup untuk menghabiskan semua lagunya. Melodi yang bergantian memasuki telinganya membuatnya cukup terlarut.

"AAAAAAAAAA!" teriak seseorang yang Axel kenal betul itu siapa, "tolong aku!"

"Semuanya bangun! Gue dengar suara Noel. Bangun, cepat!" Axel terburu-buru mengambil slim bag-nya yang sudah berisi senter, HP, juga beberapa benda tajam.

Teman-teman yang lain mulai bangun satu per satu. Mereka juga mendengar teriakan tersebut, ditambah teriakan Axel, cukup membuat kepala mereka berputar akibat bangun dengan terkejut.

"Ikut gue!" teriak Axel sambil berlari menembus sosok di depannya.

"Tunggu aku, Kak!" Lexa berlari secepat mungkin menyusul kakaknya. Axel sempat memperlambat langkahnya agar bisa berdampingan dengan Lexa.

Sesaat, Dua Kembar itu terhenti. Axel kebingungan harus ke arah mana. Akhirnya mereka mulai berjalan bersama yang lain. Fajar mulai menyingsing, namun tempat yang mereka pijak masih cukup tertutup sinar mentari.

The Secret UntoldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang