13.

10 5 1
                                    

DANGER!
BLOOD WARNING!
⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️

Skip kalau tak kuat!

Lexa merasa kakinya berubah menjadi jelly. Rasa takut Axel seperti tersalur lewat genggaman tangan yang lebih mirip cengkraman. Lexa berusaha keras agar ikut berjalan mundur dengan gemetar.

Pasalnya, kini Rafa terlihat seperti seorang psikopat yang haus darah. Ia tetap berdiri dengan seringai menyeramkan sambil mengangkat kapak berkarat. Detik selanjutnya, Rafa berlari sambil mengayunkan kapaknya ke arah mereka. Tepatnya pada Lexa.

"Lari!" Satu teriakan Axel berhasil membangunkan mereka dari lamunan.

Tangan Axel semakin erat menarik milik Lexa agar berlari ke arah tangga. Namun, Axel langsung mengurungkan niatnya. Bisa lebih bahaya kalau ada Rafa bertemu dengan Noel dan Syera yang larinya tidak secepat Lexa.

Dua persona yang tengah menunggu itu semakin merasa tak tenang, ditambah mendengar suara teriakan tiga persona yang pergi bersama itu. Demi apapun, Noel ingin menyusul—mencari tahu apa yang terjadi di bawah sana. Noel menyentuh lengan Syera, menandakan kalau ia khawatirnya.

"Gue mau pulang," lirih Syera.

Dengan hanya penerangan dari senter dan berada di tempat gelap di tengah hutan sudah lebih dari cukup untuk membawa ego Syera memuncak sampai ubun-ubun, menginginkannya untuk pergi tanpa memedulikan yang lain.

Noel hanya dapat merapalkan doa, menghiraukan ucapan Syera yang membuatnya kesal bukan kepalang. Tuhan ... bawalah mereka kembali.

Suasana di bawah semakin mencekam. Axel dan Lexa berhenti berlari, mereka sampai di pojok ruangan. Terlalu banyak benda menyeramkan di sekitar yang memaksa mereka untuk tak lagi berkutik. Napas Dua Kembar itu memburu. Rafa sudah berada dua meter di depan mereka.

Suara tawa melengking terdengar dari bibir Rafa. "Geef dat meisje of anders zal de gevolgen dragen." Kapak di tangannya diacungkan tepat di depan Lexa.

Axel tidak mengerti apa yang Rafa—ralat, makhluk yang ada di dalam Rafa—tengah ketakan, namun, ia paham kalau makhluk itu mengincar Lexa entah karena apa. Dalam keadaan genting, Axel melihat pergerakan di belakang Rafa. Segera ia melompat ke depan, bersamaan dengan seseorang di belakang Rafa.

Dion menahan tangan Rafa yang memegang kapak, sedangkan tangan Axel menggenggam sebuah batu oval pipih berwarna biru tua yang diambil dari saku, dan menempelkannya pada kepala Rafa.

"Go back to hell, you evil motherf*cker," desis Dion. Ia paham betul apa yang Axel lakukan dan alasan mengapa Rafa tidak mengejarnya; Rafa mengincar Axel dan Lexa.

Mereka terlalu merasa menang, sampai lupa kalau makhluk dari alam sana memiliki tenaga lebih kuat dari manusia biasa. Sontak dengan cepat Axel dan Dion terlempar hingga membentur benda-benda di sekitar mereka.

Rafa meraung, satu tangannya yang bebas memegangi dahi yang terluka, yang kini tertutup batu yang Axel tempelkan. Begitu batu tersebut berhasil dibuang, mata Rafa menatap Axel nyalang. Ia mengayunkan kapak dengan seringai yang kembali terpampang.

Saat itu juga Lexa menjerit—melihat Rafa yang berusaha memotong kaki kirinya sendiri sebatas betis. Sudah dua kali kapak berkarat itu dengan kejam mengoyak daging dan berusaha mematahkan tulang kering Rafa. Axel dan Dion sudah berusaha mengambil alih kapak atau menahan Rafa, tapi, lagi-lagi tenaga mereka kalah telak. Begitu kali ketiga kapak tersebut dicabut dari kaki Rafa, darah sudah membanjiri lantai, membasahi celana juga sepatu yang Rafa kenakan.

The Secret UntoldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang