3.

10 6 11
                                    

Lexa lagi-lagi merengek saat berada di dalam mobil Axel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lexa lagi-lagi merengek saat berada di dalam mobil Axel. Axel mencoba mengacuhkan Lexa dan fokus pada jalanan. Tapi, memang dasar Adiknya terlalu bar-bar, Axel hampir saja menabrak trotoar jalan akibat tangannya ditarik oleh Lexa. Axel langsung berhenti di pinggir jalan.

"Lex! Aku mulai kesal, ya! Ini bahaya banget, kita lagi di jalan. Jangan sengaja mancing amarah aku! Aku gak suka ngebentak kamu, Lex ...," hardik Axel yang akhirnya melembut.

Lexa terdiam. Isakan kecil keluar dari bibirnya yang sedikit bergetar. "M-maaf, Kak. Aku cuma penasaran. Aku bahkan gak bisa tidur karena pengen tahu. Aku juga mau bantuin ekskul teater."

Axel mengembuskan napasnya berat. Rasa bersalah timbul dalam hatinya. Seceria apapun Adiknya, hatinya terlalu rapuh. Dibentak oleh Axel sedikit saja pasti akan seperti ini.

"Berbahaya, Lex. Sebisa mungkin gak usah ke sana. Please, i'm begging you." Axel menggenggam erat kedua tangan Lexa.

"Berbahaya kenapa? Kakak gak pernah kasih tau." Pertanyaan Lexa membuat Axel membeku.

"Just don't. Dengarkan aku untuk kali ini. Jangan coba-coba juga untuk pergi diam-diam sama Dion di belakang aku. Sampai iya, aku buntungin kaki Dion nanti. Ngerti?" tegas Axel sambil berpaling ke jalanan lagi, mengendarai mobilnya ke arah sekolah.

"Ck, baka¹," decak Lexa sambil tertawa kecil.

Maaf, gue gak bisa cerita, Lex. Ini terlalu menakutkan untuk kamu. Kamu gak akan kuat, biar gue aja. Shit, gue berasa jadi Dilan jalur paranormal, gerutu Axel dalam hati, Dilan, Dilan ... Dilanda masalah kali, ah.

"Ayo, keluar mobil. Cengo aja kaya keledai dongo!" omel Lexa sambil membuka pintu di sebelah Axel.

"Heh! Dari mana kamu belajar kata itu?!" seru Axel sambil membuka sabuk pengaman.

Lexa menunjukkan barisan giginya. "Rafa, hehe."

Axel menggendong tas di salah satu bahunya. Sambil mengunci pintu mobil. "Rafa? Oh, oke." Pandangan Axel mendatar. Ia mulai berjalan berdampingan dengan Lexa.

"Kak, mau apain Rafa? Jangan macam-macam," tuduh Lexa. Axel hanya tersenyum mencurigakan. "Kak, ih!" Lexa mengguncang lengan Axel sambil berjalan.

"Gak ngapa-ngapain, kok."

"Hm, kinda sus," desis Lexa. Setelah itu, mereka berpisah karena kelas yang berbeda.

"Belajar yang benar, Dik," ejek Axel sambil mengusak pelan rambut Lexa. Lexa hanya menepis tangan Axel dan menjulurkan lidahnya.

"Bye!"

"Untung Adek gue ...."

Lexa melangkahkan kakinya memasuki kelas. Tiba-tiba dirinya dihadang oleh Syera yang menagih janji Lexa.

"Maaf, Ra, aku gak tahu letak rumah yang kemarin aku ceritain. Udah gak ada yang ingat. Udah benar-benar gak ada yang tahu," bohong Lexa.

Syera berkacak pinggang. "Yakin? Bukan karena Axel yang melarang?" Syera langsung menembakkan pertanyaan menjebak pada Lexa.

The Secret UntoldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang