[ON GOING]
⚠Jangan lupa follow author!⚠
Alexi dan Alexa, sepasang saudara kembar yang tanpa sengaja terlibat hal mistis setelah mengetahui tentang rumah peninggalan Kakek mereka. Teror-teror menyeramkan mulai berdatangan mengganggu Alexa.
Alexi-lela...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Axel! Gimana kalau kita coba cari di bawah tanah lagi? Siapa tahu dia ada di tempat yang sama saat kita menemukan Noel?" saran Dion seraya menepuk pundak Axel yang masih termenung menatap foto.
Axel berdiri, menepuk lututnya. "Oke, ayo-ah, gawat!"
BRUGH!
Axel terjatuh dari lantai dua karena kayu yang dipijak terlampau lapuk. Punggung Axel langsung membentur lantai kayu di bawahnya.
"Ugh ... uhuk!" Axel berusaha bangkit, meski punggungnya terasa remuk. "Sial."
Derap langkah bersahutan mendekati Axel. Jantung mereka memompa lebih cepat, takut Axel terluka atau sebagainya. Rasa khawatir mereka terjawab. Darah merembes, menetes dari rambutnya. Kepala Axel terluka, walau tak seberapa.
Rambut Axel terpaksa digunting sedikit agar memudahkan Noel memebersihkan luka sobek di kepalanya. Axel menatap Rafa nyalang. Masih sempat-sempatnya Rafa mengejek di saat seperti ini.
Dion dan Syera berlari ke arah mereka setelah mengecek ruangan bawah tanah. "Lexa gak ada di sana, Xel. Terus—" Perkataan Syera disela oleh Dion.
"Kalian gak akan percaya apa yang kita lihat di ruang bawah tanah," celetuk Dion, "mirip di film psikopat."
"Maksudnya?" tanya Noel tidak paham sama sekali.
Syera menatap Noel tak enak. "Lihat aja sendiri."
"Gak perlu. Lexa lebih penting saat ini," balas Noel mencoba bersabar menghadapi suara ketus Syera.
Mereka hening selama beberapa saat. Mencoba berpikir apa ada ruangan atau rongga yang mereka lewati tanpa sadar. Hingga Rafa tiba-tiba berdiri.
"Gue tahu Lexa di mana!" seru Rafa yang langsung berdiri, "ikut gue!"
Rafa berlari ke daerah dapur, lalu mendekat pada salah satu kotak kayu berbentuk kubus yang sedikit tertutup di antara dua lemari besar. Rafa meminta yang lain membantunya menggeser salah satu lemari kayu. Namun nihil, lemarinya tak bergerak. Akhirnya Noel mengusulkan untuk memiringkan lemarinya, membuat jalur keluar untuk kotak itu.
"Ini alasan mengapa aku benci lemari kayu jati. Berat!" gerundel Noel tiba-tiba.
"Tarik kotaknya, Xel!" titah Rafa sambil terus menahan lemari bersama yang lain agar tidak menimpa Axel.
Axel menariknya sekuat tenaga. Sedikit sulit karena kotak tersebut berat, dan lantainya tidak mulus. "Sedikit lagi—"
Tepat setelah Axel berhasil mengeluarkan kotak itu, lemari yang mereka tahan terjatuh kembali ke tempat asalnya hingga kacanya pecah karena tekanan. Mereka mendekat pada kotak kayu yang tertutup, dan dipaku di tiap sisinya. Terlihat siluet sesuatu di dalamnya karena kotak itu memiliki celah yang membuat cahaya dapat melewatinya.