Chapter 4

1K 145 9
                                        

LOVE PSYCOPATH
NANON X CHIMON

***

Tak..

Tak...

Tak...

Suara pisau beradu dengan meja kayu terdengar sedikit mengusik tidur nyenyak Chimon. Di seberang ranjang Chimon, tepatnya ranjang Fiat, Chimon melihat teman sekamarnya berdiri membelakanginya menghadap meja belajar yang setinggi pinggulnya.

Mata sayunya mengerjap pelan untuk menormalkan penglihatannya. Memperhatikan Fiat didepannya.

"Fiat.." panggil Chimon pelan.

Namun tak ada jawaban. Chimon menengok jam weker di nakas. Pukul dua malam. Chimon mengernyit heran, apa yang dilakukan Fiat di tengah malam begini.

Netra nya kembali menatap punggung yang tak bergerak seinci pun didepannya, mengabaikan panggilan Chimon yang diyakini cukup keras. Tidak mungkin Fiat tidak mendengarnya kan. Hanya tangannya yang terlihat bergerak dengan gerakan.. memotong? Chimon tidak yakin, tapi suara itu benar-benar suara pisau yang sedang mencincang. Chimon tau karena sering mendengar ibunya saat memasak.

"Fiat, Lo ngapain sih malem-malem gini?"

"..."

Tak..

Tak...

Tak...

Tak...

Tak...

Tiba-tiba gerakannya semakin cepat, hingga mengahasilkan bunyi nyaring di dalam kamarnya. Merasa tak beres, Chimon memundurkan tubuhnya menjauh dengan waspada.

"Fia-"

Bruk!!!

Tubuh tegap Fiat jatuh terlentang menampakkan perut bolongnya.
















Hah.. hah... Hah...

Chimon terbangun dengan nafas tersenggal, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya di ikuti jantungnya kini berdegup kencang karena syok. Mimpi yang terasa begitu nyata dan menyeramkan.

"Sayang, kamu kenapa?"

Tubuh kecilnya terlonjak kaget saat mendapati Nanon berada di kamarnya, tepat di sampingnya. Wajahnya mengernyit bingung masih belum menyadari apa yang terjadi.

"Nanon??" ditatapnya bingung kemudian beralih menoleh ke arah ranjang Fiat.

Kosong.

Tak ada Fiat disana.

Nafasnya masih memburu. Chimon kembali memusatkan pandangannya pada Nanon yang juga sedang menatapnya bingung.

"Kok kamu ada disini?" tanya Chimon.

Nanon mengusap keringat Chimon yang bercucuran di sekitar kening dan pelipisnya. "Nemenin kamu tidur. Kamu kenapa? Mimpi buruk?" tanya Nanon lembut.

Chimon mengangguk sambil menelan ludahnya payah. "Fiat mana?"

"Dia nemenin Patrick tidur, Phuwin pulang kampung katanya." jelas Nanon. Kemudian beranjak dari ranjang untuk mengambilkan minum kekasihnya yang ketakutan.

Chimon masih diam, nafasnya sudah mulai teratur namun perasaan syok dan takut masih menguasai hatinya. Mimpi buruknya masih benar-benar terngiang jelas di ingatannya. Dan lagi, Chimon belum pernah mimpi seperti itu.

"Minum dulu."

Chimon menerima tanpa protes, ia meneguk air segelas itu dalam sekali tegukan brutal. Nanon kini sudah kembali naik ke ranjangnya, selesai minum Nanon menidurkan tubuh Chimon kembali dan menyelimutinya.

LOVE PSYCOPATH [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang