10. Mencari Zifa

787 92 8
                                        

Dua bulan sudah setelah Rina melahirkan. Dia ditemani oleh ayah dan ibunya, juga Raihan. Dia juga sudah merasa sehat sekali, saatnya dia mencari sahabatnya. Sebenarnya ayahnya dan Raihan yang akan mencari Zifa, tetapi Rina melarangnya dengan keras kepala. Dia ingin mencari Zifa sendiri, dia harus menebus kesalahannya sendiri.

Rina mencium pipi putranya yang menggemaskan, Alben. "Mama pergi dulu, ya. Jangan rewel bersama Oma."

Bayi itu hanya menatap Rina dengan mata beningnya. Sebelum pergi, Rina memompa ASI-nya untuk Alben. Hari ini dia hanya akan datang ke sekolahnya yang dulu untuk menanyakan ke mana Zifa pindah.

Rina keluar kamar sambil menggendong putra mungilnya, dia melihat ibunya sedang bersantai. Ayahnya jam segini sudah berangkat bekerja. Ayahnya memang membuka usaha, tetapi di Bogor, berhenti bekerja di Kalimantan dan pindah ke sini. Ayahnya tidak setiap hari ke Bogor, hanya tiga hari sekali, terkadang seminggu sekali untuk mengontrolnya.

Ibunya sudah berhenti menerima pelanggan jahit, sekarang Rina lah yang sering menjahit. Setiap hari ibunya hanya mengurus rumah dan bersantai, terkadang menjaga cucunya ketika Rina menjahit atau membereskan rumah.

Rencananya mereka akan pindah ke Bogor minggu depan. Rina hanya ikut sang Ayah saja dibawanya ke mana.

"Bu," panggil Rina sambil duduk.

"Alben tidak tidur?" tanya Rini sambil mengambil cucunya.

"Tidak mau tidur dia, melotot saja matanya."

Rini terkekeh kecil. "Mungkin tahu ya mau ditinggalkan oleh mamanya. Ulululu cucu Oma, utututu." Dia menciumi wajah Alben gemas.

"Aku berangkat, ya, Bu," pamit Rina sambil berdiri.

"Hati-hati, ya. Cepat pulang jika sudah mendapat kabar tentang Zifa. Ibu tidak sabar ingin menemui dan menjemputnya."

"Siap, Bu."

🔗🔗🔒🔗🔗

Rina menarik napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. Jantungnya berdebar kencang, ada rasa ragu ingin masuk ke dalam sekolahnya yang dulu. Tetapi dia harus memberanikan diri, pasti rumor tentang dirinya tersebar karena ada siswi yang satu kampung dengannya dulu di sini.

"Ayo, Rin, demi Zifa!" ucap Rina menyemangati dirinya sendiri.

Rina masuk, menyusuri koridor menuju ruang kepala sekolah. Dia memang memilih ke sana karena kepala sekolahnya lumayan dekat dengannya.

Rina sampai di depan ruang kepala sekolah, lalu mengetuk pintu. Dia membuka pintu saat ada sahutan dari dalam menyuruhnya masuk, Rina melihat Bu Kepala Sekolah sedang sibuk dengan berkas di tangannya.

"Bu Anna," panggil Rina.

Kepala sekolah langsung mendongak mendengar suara yang sangat dia kenali.

"Rina?!"

Anna langsung memeluk Rina. "Kamu ke mana saja? Kenapa tiba-tiba menghilang? Ibu khawatir sekali. Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya heboh sambil memeriksa tubuh Rina yang sehat dan bugar.

"Aku baik-baik saja kok, Bu. Aku ke sini ingin menanyakan ke mana Zifa pindah sekolah."

"Maaf, Rin. Jika soal itu, itu sudah jadi privasi sekolah. Beberapa bulan lalu juga ibumu ke sini menanyakan Zifa, tapi Ibu tidak memberitahunya. Dan saat Ibu menanyakan kamu, ibumu tidak menjawab apapun, membuat Ibu semakin khawatir saja."

Rina menghela napas. "Soal itu nanti saja ya, Bu. Aku hanya ingin tahu keberadaan Zifa dulu. Ke mana dia pindah? Aku mohon, Bu. Beri tahu ke mana Zifa pindah." Dia memelas menatap Anna.

Balanced Hate and Love ⭕Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang