Rina tersenyum haru melihat monitor di sampingnya, apa lagi saat mendengar penjelasan Raihan tentang perkembangan malaikat kecilnya.
Rina turun dari ranjang pasien dibantu suster dan ibunya setelah selesai pemeriksaan dan USG. Dia duduk di kursi di hadapan Raihan.
"Apa kau ada keluhan lain seperti mual-mual yang parah atau badan menjadi sering lemas di saat-saat tertentu?" tanya Raihan.
Rina menggeleng. "Aku jarang sekali mual, hanya sesekali saja. Badanku baik-baik saja. Hanya saja jadi tidak bisa mengangkat yang berat-berat."
Raihan mengangguk lalu menuliskan sesuatu di plastik klip biru berisi obat. "Aku hanya akan memberimu vitamin saja karena keadaan janin dan dirimu sendiri sangat baik. Jangan lupa bulan depan periksa lagi, ya, dan bawa ini." Raihan menyerahkan buku berwarna pink di atas meja dan vitamin.
"Jika vitaminnya sudah habis sebelum pemeriksaan selanjutnya, jangan sembarangan ya membeli vitamin sendiri. Bisa langsung tanyakan padaku atau tidak meminum vitaminnya lagi juga tidak apa-apa."
Rina mengangguk-angguk.
"Oh iya, Bu Rini. Jangan biarkan Rina mengalami stres apalagi sampai depresi, ya. Saran saya jangan ditinggal sendirian, harus terus ditemani. Walaupun janinnya kuat, kita tidak akan tahu ke depannya jika Rina mengalami stres dan depresi berat."
Rini melirik Rina lalu menatap Raihan. "Akan saya usahakan jika Rina sedang berada di rumah. Tapi saya kurang yakin saat Rina sedang bekerja atau keliar rumah, tidak ada yang menemani. Bagaimana jika Rina sedang bekerja, Nak Raihan sesekali melihat Rina ke apotek?" Rini menaikturunkan alisnya.
"Bu...." Rina melotot, dia menoleh mendengar kekehan Raihan. "Jangan dianggap serius perkataan ibuku, Ibu hanya bercanda."
"Serius juga tidak apa-apa kali. Jika saya tidak sibuk, pasti saya akan mengunjungi Rina sesekali," ujar Raihan.
Rini tersenyum mesem-mesem sedangkan Rina menahan malu, dia juga melihat suster di samping Raihan terkekeh geli.
'Ibu siapa sih ini astaga....'
🔗🔗🔒🔗🔗
"Bumil semangat, ya kerjanya!" seru Raihan ketika melewati apotek dan melihat Rina sedang melayani pelanggan, pria itu hanya lewat saja.
Rina memutar bola matanya malas, lagi-lagi Raihan membuatnya malu. Sudah sebulan belakangan ini Raihan selalu ke sini, entah ingin membeli obat ataupun hanya sekadar menyapanya, membuat orang-orang di sekitarnya salah paham saja.
"Cie... sepertinya dokter Raihan suka tuh padamu, Rin, sering sekali menyapamu. Atau jangan-jangan kalian pacaran?" tanya teman kerjanya heboh, Rara. Gadis berkerudung biru itu menatap Rina menggoda.
Rina bergidik. "Sembarangan saja kalau bicara. Jangan sampai itu terjadi."
"Ih tidak apa-apa kali, Rin. Dokter Raihan kan baik, ramah, tampan, mapan pula. Duh, pria idaman semua wanita pokoknya," puji Rara.
Rina menggeleng-geleng, memang benar sih yang dikatan Rara itu, tetapi sifat Raihan yang dia tidak suka, selalu saja membuatnya malu.
Rina melanjutkan pekerjaannya sampai pukul lima sore, setelah itu dia pulang. Lagi-lagi dia terpaksa menerima tawaran Raihan untuk menumpang di mobilnya karena dia tidak mendapat angkot sama sekali setelah menunggu hampir setengah jam.
"Besok jangan lupa, ya periksa kandungamu," ujar Raihan.
Rina hanya berdeham.
"Rin," panggil Raihan.
"Hem."
"Kau tidak ada niat untuk menikah lagi? Kau masih muda, anakmu butuh sosok Ayah."
Rina menghela napas berat dan tersenyum getir. "Aku tidak niat. Lagi pula siapa sih yang mau denganku yang seperti ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Balanced Hate and Love ⭕
RomanceZenoraf ⭕ 🔗🔗🔒🔗🔗 "Beno, tunggu." "Kenapa? Aku buru-buru." "Aku sudah tahu, aku hanya dijadikan bahan taruhan, 'kan?" "Ck, iya, iya, baguslah kalau kau sudah tahu, jadi aku tidak ribet untuk menjelaskannya. Sudah kan itu saja? Aku sedang buru-bur...
