"Ma, ayo bangun. Hari ini kan hari pertama aku masuk sekolah."
Tidur Rina terusik, dia menggeliat lalu membuka matanya. "Pukul berapa?" tanyanya malas.
Alben hanya mencium pipi Rina lalu berlari ke lemari pakaian mamanya. Mengambil pakaian dan tas Rina.
Rina menghela napas lalu duduk saat melihat jam. "Al, masih pukul lima."
Alben menyimpan pakaian dan tas Rina yang sudah dipilihnya di sofa, lalu naik ke kasur, cemberut memeluk mamanya.
"Aku mau mandi, Ma, tapi dingin. Kan sebelum berangkat sekolah harus mandi dulu. Masakan aku air panas, ya, Ma." Alben menatap mamanya lucu sambil menautkan kedua tangannya di depan dada.
Rina mengusap kepala Alben. "Kamu ini terlalu rajin tahu. Nanti saja pukul enam."
Alben memberenggut dan bersedekap dada. "Maunya sekarang. Ayo, Ma, aku mau mandi terus pakai seragam dan belajar dulu sebentar. Ayo, Ma...," rengeknya sambil menarik tangan Rina.
Rina menguap lalu mengangguk. "Iya deh, iya. Mama siapkan air hangat dulu untuk mandi kamu."
Alben bersorak. "Aku sudah siapkan pakaian untuk Mama, ya. Aku mau belajar dulu sebentar sambil menunggu air hangat untuk mandi," serunya sambil berlari keluar kamar.
Rina menggeleng dan tersenyum. Paginya selalu saja terasa hangat dan berbunga karena tingkah Alben yang menggemaskan. Putranya entah kenapa selalu bangun pagi sekali sejak umur dua tahun, paling telat bangun pukul 05.30 WIB. Dia kira itu memang kebiasaan balita yang suka bangun subuh, tetapi kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang.
Sejak masuk TK, setelah bangun pagi Alben langsung mandi sendiri lalu dengan rajin membangunkan mamanya, terkadang kalau udaranya sedang dingin sekali, putranya selalu membangunkan Rina terlebih dahulu untuk menyiapkan air hangat.
"Putraku memang terlalu rajin, ah, aku saja kalah olehnya." Rina terkekeh geli.
🔗🔗🔒🔗🔗
Rina tersenyum melambaikan tangannya pada Alben yang masuk ke kelas. Dia memang mengantar Alben ke dalam sekolah karena Alben anak baru dan dia harus mengurusnya dengan wali kelas Alben nantinya.
Rina berjalan menyusuri koridor sekolah, banyak murid berlalu-lalang dan para orang tua.
"Ingat, jangan nakal, Lia jangan cari masalah, Lio dan Leo harus jaga Lia, oke?"
"Oke, Bunda."
"Nanti Bunda jemput pukul sepuluh, kalian tunggu di pos satpam saja ya."
"Siap, Bunda."
Rina mengernyit memberhentikan langkahnya mendengar suara yang begitu familiar, suara yang begitu tenang. Rina menoleh ke sampingnya, dia melotot lalu menunduk, berjalan cepat lalu bersembunyi di balik tembok saat di tikungan.
Rina memukul kepalanya pelan. "Bodoh! Kenapa aku malah bersembunyi dari Zifa sih?" ucapnya kesal.
Dia yakin wanita anggun yang tadi dia lihat itu sahabatnya, suara dan wajahnya sangat mirip walau dibalut dengan make up natural dan garis wajah yang terlihat dewasa dan tegas.
Rina mengikuti Zifa saat wanita itu muncul dan berjalan dengan percaya diri. Rina buru-buru naik ke motor matic-nya lalu memakai helm saat melihat Zifa naik ke mobil. Dia mengikuti mobil itu, hanya satu menit, mobil itu berhenti di depan sebuah toko kue.
Rina berhenti di sebelah toko kue itu, lalu berjalan mendekati toko itu.
"Bakery L? Apa ini toko punya Zifa?" tanya Rina sambil menatap toko kue yang terlihat nyaman untuk nongkrong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Balanced Hate and Love ⭕
RomanceZenoraf ⭕ 🔗🔗🔒🔗🔗 "Beno, tunggu." "Kenapa? Aku buru-buru." "Aku sudah tahu, aku hanya dijadikan bahan taruhan, 'kan?" "Ck, iya, iya, baguslah kalau kau sudah tahu, jadi aku tidak ribet untuk menjelaskannya. Sudah kan itu saja? Aku sedang buru-bur...
