"Kau gila?!" bentak pria yang duduk di kursi penumpang belakang.
"M-maaf, Pak." Sang sopir melepaskan seat belt lalu menoleh ke arah belakang. "Anda tidak apa-apa, Pak Oliver?" tanya sopir pada Oliver, pria yang membentaknya dengan kasar.
"Kemampuan mengendaramu sudah berkurang? Hah!" kembali Oliver membentak ditengah jantungnya berderu kencang dan shock masih menerpa jiwa.
"Aku menyuruhmu cepat bukan berarti kau harus ugal-ugalan seperti tadi. Apa kau lupa sedang bertanggung jawab atas nyawa orang penting seperti itu aku?" sambung Oliver memarahi dengan angkuh.
"M-maaf, Pak Oliver." Sopir itu tergagap, jiwanya yang masih shock harus dihantam oleh rasa takut atas kemarahan Oliver.
"Cepat periksa pengemudi mobil itu dan selesaikan dengan cara yang cepat pula. Aku tak mau kita sampai terlambat menjemput orangtuaku di bandara!" titah tegas dari Oiver yang tak ingin di bantah.
Sementara di dalam Honda Jazz merah, kesepuluh jemari yang mencengkram lemah setir kemudi gemataran. Gemuruh detak jantung yang kacau mempengaruhi sistem kerja dari organ-organ vital di tubuh.
Kelopak mata yang terpejam perlahan terbuka terhalang anak-anak rambut berantakan. Bibir yang terpoleskan lipmatte berwarna peach menganga kecil, menghembuskan napas terengah-engah.
Saliva tertelan dalam-dalam. Kelopak mata berbulu mata lentik alami itu mengerjap-ngerjap, mencoba memulihkan pandangan untuk kembali normal.
"Aku sudah mati? Aku sudah mati?" Aluna meracau, memastikan keadaan yang menyopotkan jantung dan membuat jiwanya lari terbirit-birit.
Kepala Aluna yang merebah di atas setir kemudi secara perlahan bangkit. Rambut panjang yang tergerai berantakan masih menutupi kedua pandangan mata. Tangan yang gemetaran di setir kemudi ikut bergerak ingin merapikan rambut, si penghalang pandangan kedua mata.
Pikiran Aluna sudah merasa nyawa tidak lagi berada di dunia ingin memastikan seperti apa kehidupan baru yang kini dijejaki setelah nyawa dicabut paksa.
Cahaya mentari terang menyambut pandangan kedua mata berbola matakan cokelat tua Aluna. Pemandangan sama tak jauh berbeda dengan tadi Aluna dapati sebelum insiden nyawa terenggut, malah sama persis.
"Apa aku benar-benar sudah mati? Bagaimana mungkin Tuhan begitu kejam padaku?" Aluna meringis seolah-olah menangis. "Bagaimana semua ini terjadi bergitu cepat? Oh, Tuhan. Sungguh ini bukan timing yang pas! Aku memang sedang hancur, tapi bukan berarti aku ingin cepat-cepat kembali ke sisi-Mu, Tuhan! Bastian kurang aja itu belum puas aku hajar! Belum sempat aku tendang miliknya untuk aku beri pelajaran."
Aluna menangis histeris di dalam Honda Jazz merah miliknya. Wanita cantik itu begitu tak terima takdir kehidupannya berakhir cepat disaat diri belum sempat memberi pelajaran berarti dengan si pendusta ulung yang tak berperasaan.
"Kenapa semua ini cepat sekali, Tuhan? Malaikat Izrail, please, letakkan kembali nyawaku pada tempatnya. Tunda dulu, please! Aku mohon. Semua ini enggak keren! Aku belum sempat memberitahu pada semuanya betapa bejat dan jahatnya si dajjal Bastian kurang ajar tak punya hati itu."
Segala permohonan akan Aluna yang frutasi begitu lancar keluar dari bibirnya. Penyesalan bercampur umpatan tentang Bastian pun meluncur bebas tanpa meragu. Tangisan Aluna pecah, semakin histeris tak tertahan di tenggorokan.
Setir kemudi yang tak berdosa dan memiliki kesalahan dijadikan korban amukan penyesalan. Dipukul-pukul kuat hingga rasa sakit Aluna dapatkan.
Deg
Jantung Aluna tersentak. Tangisan yang pecah pun ikut terhenti setelah kepalan tangannya merasakan sakit seperti layaknya manusia biasa.
Aluna mengangkat kepala tangannya. Mata yang basah akan airmata mengerjap-ngerjap untuk bisa melihat jelas pada kepalan tangannya. Cairan di dalam hidung tersedot ke dalam saat Aluna menarik napas dalam-dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Traps
RomanceAluna dan Bastian memutuskan bercerai karena salah satu dari mereka sudah mengkhianati pernikahan yang diikrarkan dua tahun lalu. Rasa sakit Aluna yang dikhianati membuatnya trauma, namun takdir membawanya bertemu dengan seorang pengusaha tampan ter...
