"Break (pukulan pertama dalam billiard)!" ucap Jessi memerintah.
"Me? Are you seriously, Jessi?" Aluna terkekeh.
"Yes. Break!" Jessi kembali memerintah.
"Are you kidding me, Jessi?" Aluna masih saja tak percaya.
"Why not?" jawab Jessi sambil mengangkat bahu.
"Oke! Jangan nangis kalau kalah."
Aluna mengambil posisi dengan sudut tepat. Lalu membungkuk dengan posisi stik billiard sudah diarahkan pada cue ball. Mata Aluna memicing tajam, membidik cermat cue ball dengan stick billiard sudah bergerak maju dan mundur. Bersiap-siap untuk menyodok cue ball mengenai sekumpulan bola membentuk segitiga.
Tak
Cue ball mengenai sasaran, menghancurkan bentuk segitiga. Bolanya terpental oleh benturan keras cue ball hingga memasuki lubang di setiap sudut meja billiard.
Aluna melirik Jessi. Seringai terukir untuk Jessi seolah sedang mengejek Jessi mempersilahkan pada sang ahli untuk memulai permainan.
"Wow!" Jessi pura-pura terkagum.
"Jika aku menang, apa hadiahnya?" Aluna menodong Jessi.
"Treatment spa?" Jessi menawarkan hadiah.
"No! Aku masih sanggup untuk membayar sendiri." Aluna menolak.
"Jadi, kau mau apa, Lun?" tanya Jessi dengan tulus.
"Pattaya 4 hari 4 malam, deal?"
"Oke, deal! Jika kau kalah bagaimana?" Jessi balik bertanya.
"Terserahmu! Aku pasrah." Aluna tak mau mengajukan, batinnya yang sudah percaya diri meyakini jika kemenangan akan direngkuhnya malam ini.
"Oke! Jika kau kalah, kau wajib melamar di perusahaanku sebagai manajer pemasaran." Jessi dengan lancar menyatakan keinginannya.
Deg
Jantung Aluna tersentak. Tubuh ramping yang berdiri tegak memicing tajam Jessi. Mengunci sosok sahabatnya itu tanpa ingin berpaling ke mana pun.
"Kau menjebakku?" Aluna menuduh tanpa ragu.
"Kau pengangguran. Pastilah kau butuh biaya hidup di masa depan. Pundi-pundi rupiahmu di rekening akan habis jika kau menguras tapi tak mengisinya kembali. Usiamu juga masih sangat produktif, Lun. Apalagi pengalaman kerja dan pendidikanmu yang tak bisa dianggap remeh. Kau wajib melamar dengan posisi itu!" pinta Jessi dengan memaksa.
"Kau gila, Jessi? Mana mungkin aku melamar di perusahaan itu!" Aluna menolak tegas.
"Apa karena si fucekboy kurang ajar itu?" Jessi langsung menuduh.
'Bukan, Jessi. Bukan! Aku tak mempermasalahkan mengenai Bastian kurang ajar itu. Yang jadi masalahnya adalah bagaimana bisa aku melamar di perusahaan milik pria yang kemarin malam aku habiskan bercinta dengannya!'
Suara hati Aluna menjerit, membantah tegas tebakan Jessi yang tak diketahui fakta sesungguhnya mengenai Aluna dan Oliver.
"Lun! Harusnya kau tak boleh terus berlari dari Bastian. Harusnya kau gunakan kesempatan emas ini untuk buat Bastian menyesal karena telah menyia-nyiakan intan berlian sepertimu!" Jessi membujuk.
"Lunch tadi aku tersentak ketika kita membicarakan obrolan mengenai pekejaanku. Aku teringat tentangmu yang dulu sukses menjabat dengan posisi yang sama." Jessi mencengkram bahu Aluna dengan lembut. "Departemen pemasaran adalah departemen emas di Bens Corporation. Kau harus mencobanya dan kembali berkarir seperti dulu. Kau harus buat orang-orang yang menghinamu itu menyesali perbuatan mereka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Traps
RomanceAluna dan Bastian memutuskan bercerai karena salah satu dari mereka sudah mengkhianati pernikahan yang diikrarkan dua tahun lalu. Rasa sakit Aluna yang dikhianati membuatnya trauma, namun takdir membawanya bertemu dengan seorang pengusaha tampan ter...
