"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Harum ayam geprek. Kamu masak ayam geprek?" Baru saja pulang, hidung Adzril sudah dimanja oleh aroma masakan Qilla yang sepertinya sangat lezat, membuat perut Adzril merasa lapar.
"Yap, aku masakin ayam geprek buat kamu."
"Kamu tau aja kalo aku laper, yuk makan." Adzril menarik tangan Qilla dan mengajaknya makan bersama.
Suapan besar sudah mendarat di mulut Adzril, lagi lagi masakan Qilla bagai candu di mulutnya. Menurutnya ini sangat enak, makanan yang Qilla buat adalah makanan terenak yang pernah ia rasakan setelah masakan ibunya.
"Gimana enak kan?" Qilla membuyarkan lamunan Adzril yang terlalu hanyut ke dalam dunia ayam geprek.
"Enak...juara pokoknya."
"Hehehe, syukur deh. Oh iyah Dzril, dua bulan lagi bakal ada acara study tour ke Bali, aku boleh ikut? Kalo kamu gak izinin gapapa kok, ridho suami lebih berharga buat aku."
Adzril menatap manik coklat Qilla dengan sangat dekat membuat jantungnya berdegup kencang tanpa ampun.
"Aku gak mau jauh dari kamu." Pelukan hangat Adzril menyambar tubuh Qilla. Qilla hanya mematung di tempat tak tau harus melakukan apa, akhirnya Qilla membalas lembut pelukan Adzril.
"Aku kan bilang, kalo kamu gak izinin yah gapapa. Ridho kamu lebih berharga buat aku."
"Berapa hari?" Adzril melepaskan pelukannya, lalu menggenggam tangan Qilla.
"Lima hari."
"Lama banget."
"Dzril, kamu gak izinin aku gak akan ikut." Adzril nampak berpikir.
"Yaudah aku izinin, tapi aku mau kamu harus hati-hati. Jaga diri, jaga mata, jaga hati." Qilla hanya tertawa mendengar ucapan Adzril yang sangat mewanti wanti dirinya.
"Iya sayang, tenang aja. Aku gak akan berpaling kok, masa suami seganteng dan secerdas ini bikin aku berpaling. Hahaha." Tawa Qilla terdengar begitu renyah, Adzril hanya diam memutar mutar ucapan Qilla di otaknya.
"Apa tadi? Kamu manggil aku apa?" Seketika tawa Qilla terhenti, dia diam memutar kembali ucapannya sendiri. Pipi Qilla langsung terasa panas dan juga memerah, tatapan Adzril kepadanya semakin membuat wajahnya panas.
"I-itu... udah ah Qilla mau mandi, bentar lagi adzan ashar." Dengan berlari Qilla langsung pergi ke kamarnya, Adzril hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu.
.
.
.
Tangan Qilla meraba-raba ke semua sisi kasur dan akhirnya dia menemukan sebuah benda yang sedari tadi ia cari. Qilla mencoba menyalakan ponselnya tapi kini benda itu hanya mati, dia lupa tidak menchargernya tadi sore.
Qilla memutuskan pergi ke bawah untuk mencari sebuah senter, meskipun gelap Qilla tetap memaksakan bukan karena dirinya takut akan hantu, hanya saja ia takut jika ada sesuatu yang merayap ke tubuhnya seperti kecoa atau yang lainnya.
Dengan sangat pelan Qilla menuruni satu demi satu anak tangga, tangannya pun sedari tadi hanya menyusuri lembut pada tembok yang ada disisinya. Hujan begitu deras, suara petir samar-samar mulai terdengar. Qilla mulai khawatir, ditambah kenapa anak tangganya tidak habis juga.
"Awww..." Qilla meringis kesakitan, kakinya terkilir. Dia membungkukkan tubuhnya sedikit untuk memegangi tumitnya, tiba tiba...
Duar!
"Allahuakbar!" Qilla terkejut bukan main, tubuhnya kini mulai kehilangan keseimbangan, tangannya berusaha mencari pegangan namun nihil tangga ini tidak ada pegangannya, Qilla menutup matanya merasakan tubuhnya yang sudah siap untuk jatuh.
Namun sebuah tangan tiba tiba melingkar pada perutnya yang ramping, tangan satunya lagi memegang erat tangannya, membuat tubuh Qilla tertarik dan langsung berbalik jatuh ke dalam sebuah pelukan. Tubuhnya lemas, kedua tangan itu mengangkat tubuh Qilla dan mulai kembali naik berjalan ke arah kamar Qilla.
Setelah tubuhnya terbaring di atas kasur, suara lelaki muncul di dalam kegelapan.
"Kamu gapapa?" Adzril menyalakan senter ponselnya, membuat kamar Qilla sedikit terang, menampilkan wajah Qilla yang masih meringis kesakitan, sedangkan Adzril khawatir dibuatnya.
"Mana yang sakit?"
"Kaki aku."
"Tunggu bentar." Adzril pergi keluar kamar Qilla, namun tidak lama ia kembali membawa sebuah botol kecil minyak urut.
"Maaf yah Qill." Adzril meneteskan sedikit minyak ke telapak tangannya lalu mulai membaluri kaki Qilla yang sakit, Qilla yang tau Adzril akan melakukan apa memejamkan matanya dan coba bersiap untuk menahan rasa sakit yang akan timbul.
Dan...
"AWW!" Qilla merasakan rasa sakit yang sangat hebat ketika Adzril memutar mutarkan ujung kakinya dan dengan sekaligus membenarkan tulangnya yang terkilir. Namun kini rasa sakit di kaki Qilla mulai sedikit berkurang.
"Maaf..." lirih Adzril yang tak tega melihat Qilla kesakitan.
"Makasih Dzril, rasa sakitnya mulai berkurang."
Adzril keluar kamar, tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa segelas air putih dan satu tablet obat.
"Nih minum dulu, biar cepet sembuh." Qilla tersenyum dan langsung mengambil obat dan air putih yang ada di tangan Adzril.
"Lain kali kalo kamu butuh apa-apa panggil aku aja, apalagi ini lagi mati lampu. Gimana kalo tadi kamu jatuh?" Senyum Qilla kembali terukir melihat Adzril yang begitu peduli dan khawatir padanya.
"Iyaa maaf, aku ke bawah cuman mau ngambil senter doang, lagian kalo aku kenapa kenapa kan ada kamu, dokter pribadi aku."
"Mentang-mentang aku dokter, kamu jangan seenaknya nyelakain diri sendiri. Kan aku yang repot."
"Oh, jadi kamu gak mau direpotin sama istri kamu? Yaudah ntar di Bali tinggal cari yang lain."
"Oh, jadi mau coba berpaling dari aku? Emang bisa?" Senyum itu lagi, senyuman yang membuat Qilla merinding sekaligus berdebar debar melihatnya.
"Hehe, nggak deh, gak jadi." Qilla tersenyum kikuk, lalu membuang pandangannya ke arah jendela yang tertutup gorden. Hujan masih deras, lampu masih belum menyala, dan yang paling Qilla takutkan adalah suara petir. Biasanya ayah nya yang akan menemaninya disaat seperti ini, namun kini...
Qilla menatap Adzril "Dzril kamu mau gak tidur sama aku?"
Adzril terkejut dengan perkataan Qilla, tangannya ia silangkan di dadanya, dengan pura pura memasang wajah ketakutan.
"Astagfirullah Qilla, aku masih polos." Qilla diam, menatap Adzril dengan tatapan kesal dan malas.
"Bukan itu Dzril ih, nemenin tidur doang. Kalo gak mau yaudah gapapa." Qilla menarik selimut dan mulai berpura pura akan tidur.
"Eh yaudah iya, kalo kamu mau lebih juga aku siap, enak lagi gelap."
"Adzril!"
"Iya iya." Adzril mulai membaringkan tubuhnya disamping Qilla, kini mereka saling berhadapan.
"Allahuakbar!" Suara petir membuat Qilla dengan refleks langsung memeluk tubuh Adzril.
"Kamu takut petir?" Adzril bertanya yang hanya dibalas anggukan oleh Qilla.
Adzril membalas hangat pelukan Qilla, kenyamanan dan kehangatan menyelimuti keduanya.
"Yakin cuman mau peluk doang? Gak mau lebih?"
"Aww!" Adzril pura pura kesakitan ketika mendapatkan satu cubitan dari Qilla yang masih memeluk tubuhnya, dia tersenyum sambil mengelus rambut Qilla.
Tidak lama kemudian Qilla sudah tertidur dengan sangat damai dalam pelukan Adzril. Lampu yang sudah menyala membuat Adzril bisa menatap wajah cantik Qilla dengan leluasa.
"Kamu masih belum inget aku Qill." Air matanya kini jatuh menetes, dengan segera ia hapus lalu mencium kening Qilla dengan lembut. Kenangan masa lalunya berputar kembali dalam benaknya.
.
.
.
Astagfirullah Adzril kamu ini berdosa banget:')
KAMU SEDANG MEMBACA
ASYA (ON GOING)✔
Storie d'amorePerjodohan dokter muda tampan dengan gadis SMA.^ Perjodohan? Nikah muda? Tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh Qilla. Semuanya begitu tiba-tiba bagi Qilla, namun bagi Adzril ini adalah hasil dari semua penantiannya. Namun seiring berjalannya wa...
