Ku pikir kabar burung itu hanyalah sebatas kabar yang berusaha menyenangkan hatiku. Oh tidak, ini juga melukaiku. Tio pasti sakit hati. Tio pasti benci hal ini, sama halnya dengan aku yang sedikit membenci ini beberapa waktu silam.
"gue-nggak-nyangka-banget. Setega itu dia sama orang yang udah ngorbanin semuanya demi dia! Anjir. gue nggak terima"
"lah, bukannya lo seneng?"
"gue seneng pas tau mereka udah nggak deket lagi, tapi gue juga sakit hati pas tau dibalik mereka jauh. Sialan tuh cewek"
"Tio juga sih, suka sama yang high class. Ya, maksud gue, Fira nggak mungkin mau sama Tio yang apa adanya ke sekolah. You know lah Rum"
"kesian Tio, pasti dia sedih. Yaah, gue nggak bisa liat dia yang ceria lagi deh"
"aneh ya lo. Pas Tio ngejar Fira lo sedih, pas Firanya nggak mau sama dia, lo juga sedih"
"gue ngerasain Din apa yang dia rasa. Sakit"
"bagus deh, dia nggak usah kaya orang bodoh lagi di depan Fira"
"maksudnya"
"ntar gue cerita. Tapi nggak sekarang, nggak usah maksa gue"
"ah males."
Benar. Muka Tio terlihat hampa. Ceria diwajahnya pudar. Bibirnya kembali manyun dan dirinya kembali sedikit kusut. Aku mengerti wajah itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Tio
Romancemungkin sudah biasa ketika cinta tak tergenggam, bahkan amat menyakitkan jika dipertahankan. mungkin melepaskan adalah sebuah jalan. dan mungkin percaya takdir adalah suatu jawaban.