5. Iya, Tio.

59 4 0
                                    

Dua hari terlewati namun rasanya lama sekali. Nadin masih enggan menganggapnya ada.

"Din" cobanya lagi membujuk sahabatnya itu.

Kiranya Nadin akan membalas panggilannya, namun ia menarik napas untuk dihembuskan lagi lalu keluar kelas begitu saja.

"Ya Allaaah. Sampe segitunya dia sama gue."

Arum sendirian. Sudah seperti ini ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Mau menyalahkan Tio? Atas dasar apa? Karena Arum suka sama dia? Ya tidak mungkin itu menjadi permasalahan. Tapi memang karena temannya yang tinggi itu ia harus berdiaman dengan sahabatnya.

Namanya juga anak SMA. Masa-masa transisi dari putih- biru dongker menuju putih-abu-abu yang abstrak ini.

Apakah pernah Arum berkhayal mencintai Tio? Bukan, maksudnya begini. Arum tak pernah membayangkan akan jatuh cinta dengan cara yang tak akan pernah ia lupakan. Jatuh cinta tanpa kejelasan alasan. Jatuh cinta tanpa melihat rupa ataupun warna. Jatuh cinta yang membuatnya berbalik arah, berbalik menuju hal-hal baik yang menakjubkan.

"Din, gue minta maaf. Gue sama sekali nggak ada niat ngomong kayak gitu sama lo. Gue cuman kaget karena pagi-pagi lo udah nanyain Tio. Gue juga nggak maksud nggak mau dengerin cerita lo.", ucapnya di sela jamkos siang ini.

"yaudahlah, nggak usah dipermasalahkan. Gue juga waktu itu lagi sensi doang."

What!? Ngak usah dipermasalahkan? Lah kan elo dari kemaren diemin gue, tikus tanah!

"iya, maafin gue ya Din"

"jadi kenapa Tio?"

Selang dua menit terdiam, Arum membuka bicara.

***

"sialan, siapa lagi sih cowok ini, ngapain dia follow-follow Nadin. Bangsat!"

"woi, selo bro. Itu cuman sosial media. Siapapun boleh ngelakuin apa aja. Wajar lah cowok pada nge-follow cewek lo, dia cantik" balas Tio dengan logikanya.

"ya tapi siapa lagi. Kemaren udah sama Danu, sekarang mau kecentilan sama siapa lagi tu anak!" Dika memuncak. Ia memang sulit mengontrol emosinya, apalagi soal Nadin.

"udah, lo tenang. Kalo cara lo kayak gini sayang ke Nadin, ntar pelan-pelan dia menjauh"

"ah nggak guna ngomong sama lo" kemudian pergi meninggalkan Tio dengan bekalnya.

Iya, Tio bawa bekal ke sekolah.

***

"gini Din. Lo inget nggak perpisahan kelas dua belas kemaren?" itu kalimat awal yang ia ucapkan.

"iya inget, pas gue nari kan?"

"nah bener. Kan gue juga ada di situ sama Nandy"

"lalu?"

"pas anak band lewat, ada Dika, Danu, Kevin, sama Tio"

"NAH! Pasti lo suka sama dia pas dia nge-band kan!?! Jujur!"

"duh bentar, pelan-pelan dong, intro gue belum kelar"

"anjir! jadi beneran!?"

"dengerin dulu!"

Hampir saja ia mengutarakan apa yang sebenarnya yang dirasakan, Zidan berlari sembari menginfokan bahwa Pak Edi akan masuk ke kelas sebentar lagi.

"woi! Minjem gunting kuku! Gunting kuku! Mampus gue belum gunting kuku! Anjir Pak Edi udah di tangga! Siapapun toloooong! Rum, minjem Rum" katanya tergopoh seraya mencari gunting kuku gratis.

"gue nggak bawa"

"ah lo! Pelit banget sih sama gue. Pas sama Neva aja dikasih"

"gue bilang nggak bawa ya engga"

Untuk TioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang