Matanya terpejam menikmati sentuhan embun pagi dari lantai dua kelasnya. Namun ia tak terpejam lama, karena semakin ia tepejam semakin jelas wajah itu menjadi bayangan nyata.
"woi" aih! Nadin. Pagi sekali dia datang.
Arum tersenyum kemudian kembali fokus dengan lapangan kosong yang sekali-sekali dilewati oleh temannya yang lain. Entahlah, hatinya berbicara bahwa ada orang yang sebentar lagi datang.
Deg!
Tio!
Bukankah jelas siapa yang sebenarnya ia tunggu?
Astaghfirullah! anak itu lagi yang nongol. Kok perasaan gue aneh gini sih. Nggak, nggak mungkin! Kepikiran bentar doang kok.
Seonggok Tio yang kusut itu malah membuat hatinya berteriak riang, padahal ia sudah memaksa agar diam. Arum masih tepaku di depan koridor hingga Tio benar-benar hilang masuk ke dalam kelas. Ia berbalik badan. Wajahnya ambigu, harus senang kah atau bersedih? Apa yang Arum lakukan juga menjanggal di mata Nadin. Ia tak pernah-pernahnya membuka buku sebelum bel masuk berbunyi.
Pasti ada yang nggak beres sama ni anak, gumam Nadin sembari memperhatikan sahabatnya itu.
"tumbenan lu, kesambet apaan?"
Kesambet apaan anak ini, terngiang lagi kalimat yang ia katakan kepada Nandy beberpa hari silam.
"eh, ah!? Ada apa Din?" katanya kikuk.
"elo tu yang ada apa. Emang ada ulangan mendadak ya hari ini? Kok gue nggak tau?"
"enggaa... nggak ada ulangan kok. Gu.. gue cuman.. inihh.. gabut aja nggak tau mau ngapain hehe"
"aneh lu. Jauh-jauh sana!" lalu kembali fokus pada ponsel pintarnya.
"ya allah, Buk. Sensi bener."
Ekor mata Arum terganggu oleh sosok yang berdiri di ambang pintu kelas.
Siapa sih, gumamnya. Ia melihat bayangan itu kemudian cepat-cepat kembali menghadap buku yang terbuka.
Astaghfirullah! Apa lagiiii.
Tio berjalan masuk dengan sepatunya yang sengaja diseret. Langkahnya menuju meja Arum. Oh tidak, perasaannya semakin tidak karuan!
"lo kenapa sih, Rum? Aneh banget. Lo abis ngeliat setan ya?" sentak Nadin seraya mengguncang bahu kanan Arum.
"Dika mana?" sontak suara Tio juga mengagetkan keduanya.
"lah mana gue tau"
Arum diam-diam memperhatikan Tio, kusut. Terlihat garis di pipinya bekas bantal, rambut ikal yang sedikit rapi, dan bibirnya yang khas itu.
"lo kan ceweknya, masa nggak tau"
"gue bilang nggak tau ya nggak tau"
"ooh, lagi berantem yaa?"
"paansih kepo. Sama aja lo sama Arum"
Buseeet! Ngapain si entok ini nyama-nyamain gue!
Arum melirik Nadin dan mengalihkan matanya ke Tio.
"rajin" kata Tio pagi ini.
"ah? apa? Oh engga kok" sudahlah Arum, matamu tak bisa membohongi apa yang kau rasakan.
Tio berlalu dengan menyeret sepatunya. Benar-benar cuek. Ia menuju kelas Dika. Tak lama itu mereka berdua berdiri dan membicarakan sesuatu di koridor hingga tiba-tiba bel masuk berbunyi.
"ya Allaaaah!" lirihnya pelan.
"kenapa Rum?" tanya Nadin sekali lagi meyakinkan keadaan teman baiknya yang sedikit aneh pagi ini. Tidak! Bahkan ia benar-benar bertingkah aneh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Tio
Romancemungkin sudah biasa ketika cinta tak tergenggam, bahkan amat menyakitkan jika dipertahankan. mungkin melepaskan adalah sebuah jalan. dan mungkin percaya takdir adalah suatu jawaban.