13. Tidak Terduga

2.9K 69 5
                                        

Recommend music : Pamungkas - To The Bone

*****

Begitu Tiara kembali dari toilet, gadis itu segera meminta pulang sebelum film selesai. Dia meminta maaf kepada Dikta dan berkata jujur kalau dia tidak ingin teman-temannya mengetahui mengetahui tentang hubungan mereka. Selain karena Tiara yang belum siap, dia juga takut jika saja hal ini dapat merugikan Dikta yang notabennya adalah guru Tiara.

Untung saja Dikta memaklumi Tiara. Pria itu langsung mengikuti Tiara keluar dari bioskop tanpa bertanya apapun. Di balik itu, Dikta tersenyum kecil melihat tingkah Tiara. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan berakhir bersama anak ABG yang sekarang sedang berusaha sembunyi dari teman-temannya karena berpacaran backstreet dengan gurunya.

"Kita mau kemana habis ini?" Tanya Dikta di dalam mobil ketika mereka sudah meninggalkan mall.

"Eum.. Terserah Kak Dikta deh."

"Sebenernya aku ada kegiatan sih nanti malem. Karena ini udah sore, sekalian aja ya kita ke sana."

"Kegiatan apa?" Tanya Tiara bingung. Namun, Dikta hanya tersenyum misterius.

"Ada deh. Pokoknya aku mau kamu hadir di sana. Mau kan?" Tiara masih penasaran, tapi dia memilih untuk mengangguk setuju saja.

Akhirnya Dikta pun mengajak Tiara ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumah mereka. Di sana, Tiara segera menyadari bahwa Dikta sepertinya merupakan pemilik dari cafe tersebut karena begitu Dikta masuk, karyawan-karyawan di sana menyapanya begitu hormat.

"Kamu duduk di sini dulu ya, aku mau ke dalam dulu." Ujar Dikta menyuruh Tiara untuk duduk di tempat yang tak jauh dari jendela. Dikta kemudian memberikan sebuah buku menu dan menyuruhnya untuk memesan apa saja.

"Zal, titip dulu ya." Ujar Dikta kepada salah satu karyawan. Dikta kemudian meninggalkan Tiara begitu mendapat anggukan dari karyawan itu.

"Pacarnya Pak Dikta ya Kak?" Kata karyawan dengan nametag Rizal itu kepadanya.

Tiara bingung untuk menjawabnya, di satu sisi dia ingin sekali mengakui itu dan membuat semua orang tahu bahwa Dikta adalah miliknya. Tapi di sisi lain, Tiara tidak bisa berbuat seenaknya karena ini juga akan mempengaruhi karir Dikta. Akhirnya Tiara hanya membalas dengan tersenyum dan kembali membolak-balikan buku menu.

"Ih si Kakak malu-malu. Pak Dikta soalnya gak pernah bawa cewek ke sini." Kata Rizal lagi semakin gencar menggoda Tiara.

"Kata bos saya yang satu lagi sih, pacarnya Pak Dikta ini model. Jadi mungkin kakak sibuk kali ya? Baru sekarang bisa ke sini."

Deg

Dada Tiara seketika terasa nyeri mendengar perkataan dari karyawan itu. Berbagai pikiran negatif langsung merasuki otaknya. Tiara sadar, Dikta tidak mungkin hanya berpacaran dengannya yang merupakan anak SMA. Bodohnya dia. Dikta tampan dan juga cerdas, pasti banyak yang mengincarnya. Dan Tiara tidak tahu siapa yang disebut model itu.

Mood Tiara seketika hancur. Dia ingin sekali pulang sendiri sekarang, tapi dia tidak tahu jalan pulang dari cafe ini. Sementara Dikta tak kunjung muncul dari balik pintu ruang karyawan. Tiara pun akhirnya memilih untuk memesan minuman.

"Saya pesen Vanilla Latte deh." Kata Tiara dengan malas.

Akhirnya setelah Tiara memesan, karyawan itu pun pergi dan Tiara bisa bernapas lega. Walaupun sekarang dadanya terasa panas. Paling tidak, dia tidak perlu mendengar ocehan pria itu yang hanya akan membuatnya sakit hati.

Beberapa menit kemudian Dikta keluar dan duduk di hadapan Tiara dengan bingung karena gadis itu tiba-tiba terlihat murung begitu ia keluar. Tiara hanya diam saja sambil sesekali meminum minumannya yang sudah diantar. Suasana cafe pun semakin sore semakin ramai pengunjung.

I'm All YoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang