"Masih marah?" Tanya Dikta setelah selesai manggung. Pria itu langsung duduk di hadapan Tiara kemudian menyeruput kopi yang tiba-tiba saja dibawakan oleh pelayan cafe.
Dikta memang selalu memesan kopi ini setiap kali ia kemari. Dan karena sudah hafal dengan pesanan Dikta, biasanya karyawan cafenya akan membuatkan dia kopi itu dengan sendirinya setelah ia selesai manggung atau setiap kali Dikta datang.
"Engga.." Kata Tiara pelan. Dikta tersenyum mendengarnya, dia kemudian menanyakan bagaimana penampilannya tadi dan Tiara tentu saja sangat menyukainya. Mereka menghabiskan malam dengan pun berbincang banyak di cafe.
Seusai berbincang dan Dikta yang menghabiskan makan malamnya, mereka pun pulang. Dikta mengantar Tiara hingga di depan apartemennya.
"Gimana seneng gak hari ini?" Tanya Dikta segelah memarkirkan mobilnya di depan apartemen Tiara.
Sepanjang jalan, mereka memang tidak berhenti bercerita hingga Dikta lupa untuk menanyakan Tiara akan hal itu. Dikta harus tahu karena ini merupakan kencan pertama mereka dan dia tidak ingin mengecewakan Tiara.
"Seneng banget! Makasih banyak Kak Dikta. Jangan bosen-bosen ya ajak aku jalan-jalan kaya gini." Ujar Tiara bersemangat.
"Iya, pasti dong." Balas Dikta sambil tersenyum manis kepada Tiara.
"Kak Dikta gimana? Maaf ya.. Tadi pas nonton aku minta buru-buru pulang, ngancurin suasana banget." Tiara seketika murung mengingat rencana awal mereka yang ingin nonton di bioskop tapi harus gagal karena Tiara.
Dikta mengusap kepala Tiara dengan sayang, entah kenapa dia suka sekali melakukan itu. "Gapapa Sayang, kan masih ada hari lain."
Tiara mendongak dan menatap Dikta sedikit terkejut, pipinya merona mendengar panggilan Dikta padanya. Hingga sekarang, Tiara masih tidak menyangka bahwa Dikta menyukainya dan hubungan mereka berjalan cukup baik. Semua ini seperti mimpi yang jadi kenyataan baginya.
Dikta gemas melihat Tiara yang malu-malu di hadapannya. Ia memfokuskan perhatiannya pada Tiara dan membuat gadis itu semakin menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya. Dikta pun tertawa, ia kemudian mengacak-acak rambut Tiara dan mengecup puncak kepada Tiara.
"Ah Kak Dikta mah ngacak-ngacak rambut aku." Rajuk Tiara sambil membenarkan rambutnya, meskipun Tiara kesal tetap saja dia tidak bisa menahan senyumannya.
"Haha.. Maaf, maaf. Sini aku bantuin." Dikta kemudian membantu Tiara merapihkan rambutnya.
Ketika pandangan mereka bertemu, Tiara lagi-lagi merasakan seperti terdapat banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Sampai saat ini, Tiara masih ingat bagaimana sentuhan Dikta pada tubuhnya dapat memberikan sensasi aneh yang sebelumnya tidak pernah Tiara rasakan. Dan sejujurnya, Tiara ingin merasakannya lagi.
Dikta dan Tiara pun sama-sama terdiam. Dikta sebenarnya ingin sekali mengecup bibir Tiara, namun ia ragu terhadap pandangan Tiara akan dirinya. Meskipun Dikta sudah pernah beberapa kali mencium gadis itu, tetap saja dia adalah murid Dikta, dia tidak ingin merusaknya.
Dengan jarak sedekat itu, Tiara tentu saja menantikan tindakan Dikta selanjutnya. Tiara tidak mengerti arti tatapan Dikta, meskipun begitu dia sangat ingin Dikta untuk menciumnya dan melakukan hal lebih.
"Kak Dikta kenapa baik banget sih? Aku beruntung banget bisa jadi pacar Kak Dikta."
Dikta terdiam menatap Tiara yang sedang tersenyum manis. Perempuan di hadapannya benar-benar cantik, ditambah lagi lampu jalan yang menerangi jalanan di belakang Tiara membuat pemandangan di depan matanya terlihat sangat indah. Rasanya Dikta ingin melindungi miliknya yang berharga itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm All Yours
RomanceWarning: Mature Content, Konten Dewasa (18+) Mereka tahu, hubungan mereka terlarang. Tak seharusnya seorang guru menjalin hubungan asmara dengan gadis yang merupakan muridnya. Tapi, apakah cinta yang tidak bisa mereka kendalikan ini adalah sebuah do...
