Halo temen-temen! Aku kembali, maaf ya buat kalian nunggu. Semoga kalian suka sama part ini, jangan lupa vote dan komennya. Terima kasih! Enjoy~
****
Tiara melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa mempedulikan Dikta yang memanggilnya. Ketika sampai di lapangan, Tiara segera mengaku kepada guru olahraganya bahwa dirinya tidak membawa baju olahraga dan bersiap menerima hukuman. Tapi, tiba-tiba Dikta dengan seenaknya menyuruh guru olahraganya itu untuk tidak menghukumnya dengan alasan bahwa Tiara sedang sakit.
Mereka memang terbilang cukup dekat karena Dikta dengan guru olahraganya, Pak Irfan merupakan guru muda di sekolahnya dan mereka sering hang-out bersama dengan beberapa guru muda laki-laki lainnya ketika hari libur.
"Bro, sorry. Ini anak mukanya pucet banget, lagi sakit. Jangan suruh lari, ganti hukumannya nulis aja." Kata Dikta dengan akrab kepada Irfan.
"Gak usah, saya lari aja, Pak. 10 putaran kan." Tolak Tiara tanpa mempedulikan Dikta. Gadis itu segera berlari mengelilingi lapangan tanpa mendengarkan ucapan Dikta lagi. Sementara Dikta hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar karena Tiara yang begitu keras kepala.
Tiara tidak ingin pria itu menolongnya lagi, sudah cukup baginya menjadi pahlawan untuk Tiara. Ia tidak ingin terbawa perasaan lagi, walaupun sebenarnya Tiara tidak ingin lari karena setelah putaran keenam kepalanya terasa berputar.
Lama-kelamaan, Tiara makin merasakan pusing di kepalanya. Langkahnya melemah dan pandangannya buram hingga akhirnya gadis itu ambruk seketika. Dikta dan semua orang yang melihat itu terkejut dan segera berlari ke tengah lapangan. Dengan sigap, Dikta menggotong tubuh Tiara dan berjalan cepat menuju UKS tanpa membiarkan orang lain membantunya juga.
Ketika sampai di UKS, seorang siswi anggota PMR yang sedang piket segera menangani Tiara sementara Dikta menyuruh orang-orang yang mengikutinya tadi untuk kembali lagi ke lapangan. Walau dengan terheran-heran ketika melihat Dikta yang sangat panik tadi, tapi akhirnya semua orang kembali ke lapangan meninggalkan mereka berdua.
"Pak, maaf waktu piket saya udah selesai, jadi saya permisi dulu. Mau balik lagi ke kelas." Ujar siswi tersebut setelah menangani Tiara.
Dikta yang tidak memiliki jadwal mengajar untuk dua jam ke depan, memutuskan untuk berada di sana lebih lama. Ia terduduk di kursi samping ranjang Tiara dan memperhatikan Tiara yang tidak sadarkan diri di atas ranjang UKS dengan kedua kakinya yang dinaikkan lebih tinggi dari dadanya agar darah kembali mengalir ke otak.
Matanya beralih kepada tiga kancing seragamnya yang dibuka oleh anggota PMR tadi. Pemandangan itu membuatnya meneguk ludah. Dikta dapat melihat kulit mulus dan bersih milik Tiara serta belahan dada gadis itu. Dengan segera Dikta memalingkan pandangannya dan berkutat pada handphone miliknya.
Beberapa menit Dikta menunggu, akhirnya Tiara mulai membuka matanya dan mendapati lelaki itu tengah menatapnya lekat. Gadis itu mengernyitkan dahinya menahan pening yang masih terasa. Dikta kemudian tersenyum menenangkan.
"Pusing?" Tanya Dikta lembut, Tiara hanya mengangguk. Ia kemudian membuatkan segelas teh hangat untuk Tiara lalu membantu Tiara untuk bangun dan meminumnya. Suasana UKS benar-benar sepi karena hanya ada mereka sekarang. "Pak Dikta gak ngajar?"
"Nanti." Ujar Dikta singkat. Dia kemudian mendesah frustasi dan melanjutkan ucapannya. "Mutiara, kenapa kamu keras kepala banget? Saya udah bilang kan jangan lari karena wajah kamu pucat banget dari tadi, tapi kamu ngeyel. Akhirnya pingsan kan. Kamu bikin semua orang khawatir, tau gak?"
"Maaf." Ujar Tiara pelan sambil menunduk merasa bersalah. Wajahnya berubah murung dan tak berani menatap Dikta yang terlihat kesal. "Habisnya aku kesel sama Pak Dikta."
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm All Yours
RomanceWarning: Mature Content, Konten Dewasa (18+) Mereka tahu, hubungan mereka terlarang. Tak seharusnya seorang guru menjalin hubungan asmara dengan gadis yang merupakan muridnya. Tapi, apakah cinta yang tidak bisa mereka kendalikan ini adalah sebuah do...
