Pintu Lift

7.9K 690 50
                                        

Khalid menangis. "Pulang! Abah pulang!" Ia terus merengek minta pulang.

"Ayo, pulang!" Aku menarik tangannya. Gara-gara tingkah anehnya ini. Sukses membuat kami menjadi pusat perhatian.

Seorang penjaga toko datang menghampiriku. "Ada apa, Pak?" tanyanya.

"Biasa, lagi tantrum, tiba-tiba pengen pulang. Bisa tolong bawain trolinya ke kasir, langsung dihitung aja. Nanti saya ke sana," pintaku sambil berusaha menenangkan Khalid.

"Aku gak mau maenannya, Abah! Pulang ...." ucap Khalid ketika tau troli belanjaannya mau dibawa.

"Jadi gimana, Pak?" tanya Wanita penjaga toko.

"Aduh ... gimana ya." Aku bingung menghadapi situasi macam ini. Kuelus rambut Khalid, lalu memegang kedua pipinya sambil mengusap air matanya.

"Khalid harus berani, kan abah ada di sini. Sekarang pilih mainan mana yang mau dibawa pulang," ucapku lembut.

Tidak lama kemudian, Khalid sudah mulai tenang dan membuka matanya. Kuraih sebuah mainan di rak belakang. "Sayang, maen ini aja, jangan liat kemana-mana," ucapku sambil memberikan sebuah rubik, untuk mengalihkan perhatiannya. Usahaku berhasil, ia mulai memutar-mutar rubik itu.

"Sayang, mainan mana yang mau dibawa pulang?" tanyaku.

"Semua abah," balasnya, membuatku sedikit menyesal menanyakan hal itu.

Aku mendorong troli itu ke kasir. Sementara Khalid berjalan di sampingku, lengannya masih menggenggam dan menggeser-geser warna di rubik itu.

Wanita penjaga toko tadi tersenyum. "Jadi semuanya, Pak?"

"Iya," balasku pasrah.

Kutatap wajah Khalid, lalu mengelus rambutnya. Sementara itu, bunyi alat pengecek harga terus terdengar dari meja kasir.

"Semuanya jadi 6.725.000, Pak," ucap Kasir.

Aku menarik nafas panjang, "Debit ya, Mbak," ucapku sambil menyerahkan kartu ATM yang tiba-tiba terasa lebih berat.

"Tidak apa-apa, sekali-kali mengeluarkan uang lebih. Toh ini demi kebahagian anak semata wayangku," batinku menghibur diri, sembari memasukan kembali semua mainannya ke dalam troli.

"Eh Mbak, ini rubiknya lupa dihitung." Aku lupa daritadi Khalid masih memegang rubiknya.

"Itu buat anaknya aja, Pak."

"Wah, makasih banyak." Mungkin karena aku sudah belanja banyak, jadi ada bonus. Tau begitu, tadi kuambil barang yang lebih mahal.

Setelah semuanya beres, kami berjalan ke luar toko. Khalid memasukan rubiknya ke dalam troli yang kubawa.

"Loh, kok udahan? Kan warnanya belum sama semua."

"Bosen abah."

Khalid sepertinya sudah lupa kejadian di toko tadi. Ia sudah kembali ceria dan berlari-lari mendekati deretan toko.

Aku terus memperhatikannya, tak bisa melepaskan pandangan. Sesekali harus berhenti untuk menariknya ketika ia berniat masuk ke dalam toko.

"Ayo, katanya tadi mau pulang," ucapku sambil mengajaknya mendekat ke troli.

"Abah, mau maenan itu!" Khalid menunjuk mainan yang terpajang di salah satu etalase toko.

"Ayo, Dek! Liat aja dulu." Rayu wanita penjaga toko itu, ketika mendengar percakapan kami.

"Gak, Mbak. Ini aja udah banyak," sahutku sedikit kesal.

"Abah ...." Khalid menarik-narik tanganku.

"Sayang, nanti lagi belinya. Sekarang pulang dulu." Aku terpaksa menariknya menjauh dari toko itu.

"Ada diskon loh, Pak," sahut Penjaga toko itu. Namun, aku tidak menggubrisnya, terus berjalan menuju lift.

Dari kejauhan, kulihat pintu lift terbuka. Kulambaikan tangan agar orang yang ada  di dalam lift tidak menutup pintunya. Namun, pintu malah tertutup. Sepertinya mereka tidak melihatku.

Kutekan tombol ke bawah, lalu berdiri di depan lift. Khalid mendekati lift, ia ikut menekan-nekan tombol itu. Sehingga membuat orang di belakangku tertawa melihat tingkahnya.

"Sayang, jangan dipencet-pencet. Sini deket abah aja!" perintahku, untungnya ia menurut.

Soalnya aku punya pengalaman buruk. Gara-gara iseng menekan-nekan tombol itu, liftnya malah macet dan bikin heboh satu mall. Malu sekali.

Ting!

Pintu lift terbuka, kami pun masuk lebih dulu. Kuambil posisi berdiri di paling belakang, karena tujuanku ada di lantai paling bawah.

Satu persatu orang di dalam lift ke luar, menyisakan aku dan Khalid. Sebelum lantai tujuanku, tiba-tiba lift terbuka. Kulihat ke luar tidak ada siapa-siapa di sana.

Khalid terlihat gelisah. Kutekan tombol tutup pintu. Namun, dalam hitungan detik pintunya kembali terbuka.

Khalid berpindah tempat, bersembunyi di balik tubuhku. Entah kenapa, pintunya tidak juga tertutup.

"Abah, tutup pintunya!" Khalid berteriak.

"Bismillah!" Kutekan tombol tutup pintu. Akhirnya pintu pun tertutup. Lift mulai turun ke bawah. Dalam hitungan detik, kami sudah sampai di basemen.

Kudorong troli itu melewati pintu kaca otomatis, masuk ke area parkiran. Kulirik Khalid, ia diam saja. Tangan mungilnya terus menggenggam tanganku erat. Kepalanya terus menunduk, tak mau melihat ke depan.

Sesampainya di mobil, kubuka pintu depan, lalu meminta Khalid duduk di sana. Sementara aku, berjalan ke bagasi belakang.

"Abah!" Khalid memanggilku.

"Bentar, Sayang," sahutku sambil memasukan satu persatu barang belanjaan.

"Abah!" teriaknya lagi.

"Arghhh ... ABAH!" Ia menjerit keras sekali.

BERSAMBUNG

Kutukan Kembang DesaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang