#14
Kuraih ponsel, menelepon orang kantor, mengabarkan tentang kecelakaan yang kualami. Sekaligus meminta izin untuk tidak masuk kerja beberapa hari, sampai kaki ini sembuh.
"Abah." Kulihat ke arah pintu, Khalid sudah berdiri di sana. Dengan gegasku akhiri telepon, lalu memanggilnya mendekat.
"Abah, mainan Khalid mana?" tanyanya sembari berdiri di samping tempat tidur.
Aku teringat dengan mainannya yang kusimpan di mobil. Terakhir kali terlihat berserakan di dekat mobil. Semoga aja, tidak ada orang yang mengambuilnya. Bagaimanapun harga mainan itu lumayan mahal. "Mainannya di mobil, Sayang," balasku.
"Ayo, ambil!"
"Mobilnya lagi dibawa orang."
"Siapa?"
"Temen abah."
"Ambil abah ... aku mau main."
"Jangan sekarang, Sayang. Abah kamu lagi sakit," balas Ibu seraya masuk ke dalam kamar. Sungguh waktu yang sangat tepat. Cuman ibu yang bisa menghadapi sikap keras kepala Khalid.
"Abah sakit apa nenek?" tanya Khalid.
"Kakinya lagi sakit, jadi gak bisa jalan," balas Ibu. Spontanku melotot ke ibu, tapi ia malah membalasku dengan senyuman.
"Mana yang sakit abah?" Khalid naik ke atas tempat tidur.
"Yang ini." Kubuka selimut, lalu menunjuk lutut kanan yang masih diplester. Khalid mengusap-usap lututku. Lambat laun sentuhannya terasa hangat. Kutatap wajah lugunya. "Sayang, sini duduk di samping abah."
Khalid bergerak ke sampingku. Kuusap rambutnya, lalu mencium keningnya. "Sayang, tadi pagi main sama siapa?" tanyaku.
"Dar!" sahut Ibu, sepertinya ia tidak setuju aku menanyakan hal ini.
"Aku penasaran, Bu. Ibu juga, Kan?"
"Sama temen," balas Khalid.
"Siapa?"
"Ada banyak abah."
"Terus main ke mana?"
"Ke taman bunga."
Taman bunga? Rasanya tidak ada taman bunga di sana. "Kamu di sana ngapain aja?" tanyaku, penasaran.
"Lari-larian."
"Apa temennya ikut ke sini?" tanya Ibu.
"Enggak, Nenek."
Aku bisa bernafas lega, ternyata kejadian aneh di kamar bukan ulah mereka. "Sayang, di sini ada Om atau Tante serem, Gak?"
Khalid menggelengkan kepala. Spontanku melirik ke arah ibu sambil berpikir .... Kalau tidak ada makhluk halus di kamar. Lalu, kejadian tadi itu ulah siapa?
Sayup-sayup terdengar adzan berkumandang. "Udah Magrib," ucap Ibu. "Ayo mandi dulu Khalid," imbuhnya.
Khalid turun dari tempat tidur, lalu berlari ke arah ibu. "Sholatnya tayamum aja, Dar," ucap Ibu.
"Iya, Bu."
Ibu dan Khalid berjalan ke luar kamar. Sementara aku mulai mengambil posisi untuk tayamum. Semoga dengan sholat, energi di kamar ini menjadi lebih positif dan tidak ada gangguan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kutukan Kembang Desa
Horror"SIAPAPUN YANG MASUK KE RUMAH INI, MAKA NASIBNYA AKAN SAMA DENGANKU!" Sepucuk surat yang ditulis oleh Rahmi - seorang kembang desa, sebelum mengakhiri hidupnya.
