#7
Aku masih panik, karena tak bisa melihat Khalid. "Kenapa anak saya, Pak?" tanyaku lagi.
"Mas, tenang dulu. Tadi anaknya sudah dibawa ke rumah sakit," balas Bapak itu.
"Bisa tolong antar saya ke sana?" pintaku.
"Antarin aja, Pak." Seorang ibu yang berdiri di dekatku meminta bapak itu untuk mengantarku.
"Tunggu sebentar ya, saya ambil motor." Bapak itu pergi ke rumahnya.
Aku berusaha berdiri tapi kaki ini masih terasa sakit. Hingga akhirnya harus dibopong oleh salah satu warga, duduk di teras rumahnya.
Seseorang menyerahkan ponsel dan dompetku, yang sempat tertinggal di mobil. Ingin rasanya menelepon ibu, tapi aku masih belum mengetahui kondisi Khalid.
Tin!
Suara klakson motor memanggilku. Bapak tadi sudah ada di depan. Aku pun dibopong dan dinaikan ke sepeda motornya.
"Mas, pegangan ya!" perintah Bapak itu.
"Iya, Pak."
Motor pun melaju, meninggalkan kerumuman warga.
"Pak, gimana kondisi anak saya sebelum dibawa?" tanyaku.
"Dia pingsan, Mas," sahutnya.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Saya gak ngerti, nanti Mas bisa lihat langsung di rumah sakit."
"Rumah sakit mana ya, Pak?"
"Rumah Sakit Bunda, deket sini."
Tak kurang dari sepuluh menit, kami pun sudah sampai di rumah sakit. Bapak itu memarkirkan sebentar motornya di depan IGD.
"Mas mau turun duluan? Saya mau cari tempat parkir," ucap Bapak itu.
"Iya, Pak." Aku pun turun dan berdiri di depan IGD.
Kutatap tulisan 'Instalasi Gawat Darurat' sambil terus berdoa semoga Khalid baik-baik saja di dalam sana. Ingin rasanya melangkahkan kaki ke dalam. Namun, kaki ini masih terasa lemas. Lagi pula aku masih belum sanggup menerima kenyataan, jika terjadi sesuatu anakku.
Tak lama, Bapak tadi datang. Membantuku berjalan ke dalam IGD. Seorang perawat sedang berdiri di depan ruangan IGD. Melihat aku sedang dibopong, ia langsung menghampiri kami.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Perawat itu.
"Sus, tadi ada yang bawa anak kecil korban kecelakaan ke sini?" tanyaku.
"Ada. Apa itu anaknya Mas?"
"Iya."
"Sekarang anaknya sedang dalam perawatan intensif, jadi Mas gak bisa melihat ke dalam."
"Bagaimana kondisinya?"
"Kondisinya baik-baik saja." Perawat itu berusaha menenangkanku.
"Apa saya boleh menunggu di sini?" tanyaku.
"Apa Mas juga mengalami luka?" tanya Perawat itu sembari melihat noda darah di pundakku.
"Iya, Sus. Kepala bagian belakangnya berdarah tadi," balas Si Bapak. Saking paniknya aku sampai lupa dengan luka itu.
"Sebaiknya, Mas diperiksa dulu." Perawat itu mengantarkan kami ke ruang perawatan. Lalu memeriksa keadaanku. Mulai dari bagian kepala hingga kaki.
"Sepertinya hanya luka di kepala saja, Mas," ucapnya sambil menuangkan alkohol di atas kapas.
"Aw!" Rasanya pedih ketika kapas itu menyentuh lukaku.
Setelah dibersihkan dan diperban, aku diperbolehkan untuk kembali ke depan ruang IGD.
"Pak, sebaiknya bapak pulang, gak usah ikut menunggu di sini," ucapku pada Bapak yang daritadi menemaniku.
"Iya, Mas," balasnya.
"Boleh saya tau siapa nama Bapak dan minta nomor teleponnya?" Aku sampai lupa tidak menanyakan namanya daritadi.
"Nama saya Deden," ucapnya lalu mulai mengeja satu persatu nomor teleponnya.
"Terimakasih, Pak. Maaf sekali sudah merepotkan."
"Enggak apa-apa, Mas. Semoga anaknya baik-baik saja." Pak Deden tersenyum, lalu pamit pulang.
______
Aku terus menatap layar ponsel, masih ragu untuk menghubungi ibu. Kutarik nafas panjang, lalu memberanikan diri untuk meneleponnya.
Tut!
Tut!
Telepon diangkat.
"Assalamualaikum," sapaku.
"Walaikumsalam ... ada apa, Dar? Tumben telepon malem-malem."
"Bu ...." Bibirku bergetar menahan tangis.
"Dar? Kenapa?"
Air mataku mulai jatuh, "Khaidar kecelakaan, Bu."
"Innalilahi, kamu gak apa-apa kan, Dar?"
"Enggak apa-apa, tapi ...." Aku tak sanggup memberitahu ibu tentang kondisi Khalid.
"Tapi apa?"
"Khalid lagi dirawat di IGD, Bu." Tangisku pecah.
"Sekarang kamu di mana?" Terdengar jelas ada kepanikan di suara ibu.
"Di Rumah Sakit Bunda," balasku terisak.
"Ibu ke sana sekarang!"
Tut!
Telepon ditutup.
________
Selang 15 menit kemudian, ibu sudah tiba di rumah sakit. Dia masuk ke ruang IGD dengan tergopoh-gopoh.
"Mana Khalid, Dar?" tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.
"Masih di dalem, Bu."
"Kamu ini gimana sih, bawa mobil gak hati-hati," omelnya.
"Maaf, Bu. Aku juga gak tau, semuanya serba aneh."
"Serba aneh gimana?"
"Aku gak tau gimana kejadiannya sampai mobil nabrak pohon di samping irigasi."
"Enggak tau gimana sih? Jangan bikin ibu bingung. Kan kamu yang nyetir."
"Yang aku ingat, ada suara benturan. Terus tiba-tiba kaca depan mobil penuh darah."
"Kamu nabrak orang?"
"Enggak, Bu. Aku cek gak ada orang. Aku bingung juga gimana jelasinnya, soalnya situasinya aneh. Jalan yang tadinya rame tiba-tiba sepi. Terus datang Wanita Iblis itu."
"Wanita Iblis?"
"Iya, Wanita yang ...." Ucapanku terpotong ketika melihat dokter ke luar dari ruang IGD. Spontan aku langsung menanyakan kondisi Khalid. "Dok, gimana anak saya?"
"Iya, Dok. Gimana kondisi cucu saya?" tanya Ibu.
"Anak yang kuat, dia baik-baik saja. Sekarang kami akan pindahkan ke ruang perawatan," balas Dokter itu dengan suara tenang.
Tak lama, terlihat perawat membawa Khalid ke luar. Ini pertama kali aku bisa melihat kondisinya secara langsung. Ia masih tak sadarkan diri, di atas brankar. Ada perban yang mengitari kepala dan kakinya.
BERSAMBUNG
KAMU SEDANG MEMBACA
Kutukan Kembang Desa
Terror"SIAPAPUN YANG MASUK KE RUMAH INI, MAKA NASIBNYA AKAN SAMA DENGANKU!" Sepucuk surat yang ditulis oleh Rahmi - seorang kembang desa, sebelum mengakhiri hidupnya.
