#12
Dokter mengangkat tubuh Khalid, kemudian membawanya pergi. Diikuti ibu. Sementar aku, masih duduk di lantai. Mencoba untuk berdiri, tapi tak bisa. Kaki ini terasa sangat sakit.
Tak lama, seorang perawat menghampiri, sembari membawa kursi roda. Aku dibantunya naik ke kursi roda. Kemudian dibawa ke arah lain, bukan jalan yang tadi dokter dan ibu lewati. "Sus, saya mau dibawa ke mana?" tanyaku.
"Ke ruang pemeriksaan," balas Perawat itu seraya mendorong kursi roda.
"Jangan dulu, Sus. Saya pengen tau kondisi anak saya gimana," tolakku.
"Ini sudah perintah dokter, Mas. Kakinya harus segera diperiksa dulu, takut cidera serius," jelas Perawat itu.
"Saya gak peduli, Sus! Sekarang tolong anter ke tempat anak saya!" Aku sedikit emosi.
Perawat itu menghentikan laju kursi rodaku. Kemudian berbalik arah, menuju tempat Khalid dibawa. Ternyata ia dibawa ke ruang perawatan intensif. Di depan ruangan itu, terlihat ada ibu yang sedang duduk.
"Bu!" panggilku.
Ia pun menoleh. "Kamu ngapain ke sini?"
"Khaidar mau liat Khalid, Bu."
"Bukannya dokter udah bilang suruh diperiksa kakinya, Sus?" tanya Ibu pada perawat yang membawaku.
"Iya, tapi ... Mas-nya nolak, Bu."
"Kamu ini gimana, Dar!"
"Bu ... aku mau liat Khalid," balasku mengiba.
"Khalid ada di dalem, percuma kamu gak bakal bisa liat. Mending ikut sama susternya, terus nanti balik lagi ke sini," perintahnya.
Kutatap pintu ruang intensif yang tertutup rapat. Di dalam pasti Khalid sedang berjuang. "Ya udah, Sus. Bawa saya ke tempat pemeriksaan," ucapku, pelan. Masih berat hati meninggalkan Khalid berjuang sendirian.
"Baik, Mas." Perawat itu memutar kembali kursi rodaku dan membawaku ke sebuah ruangan yang tak begitu jauh.
Di sana sudah ada seorang dokter menunggu. Dalam keadaan masih duduk di kursi roda, ia memeriksa kakiku perlahan. Menanyakan bagian-bagian yang terasa sakit. Aku hanya menjawab seadaanya, sementara pikiran ini masih terfokus pada Khalid.
"Apa waktu kecelakaan, terjadi benturan kencang, Mas?" tanya Dokter itu.
"Saya pingsan, Dok."
"Apa yang dirasakan waktu sadar?"
"Hanya pegal-pegal, sama sakit sedikit. Tapi bisa jalan normal."
"Apa tadi lututnya kebentur sesuatu?"
"Gak, Dok."
"Ya udah, Sus. Tolong bawa ke ruang Radiologi, untuk di rontgen."
"Baik, Dok." Perawat itu menarik kursi rodaku ke luar ruangan dan membawaku ke ruang radiologi.
Setelah kakiku di rontgen, aku masih diminta menunggu sebentar, untuk pembacaan hasil. "Ini hanya cidera ringan," ucap Dokter seraya melihat hasil rontgenku. "Sebaiknya kakinya diistirahatkan dulu. Jangan dipakai jalan dulu, sampai rasa sakitnya udah sangat berkurang," sambungnya.
"Nanti, kalau pulang ke rumah, langsung kompres air dingin, setiap dua jam sekali. Buat mengurangi pembengkakan. Saya resepkan obat salep untuk menghilangkan memarnya," sambungnya lagi.
"Tapi saya masih belum mau pulang, Dok," balasku.
"Kenapa?" Dokter tampak bingung.
"Anak saya ada di ruang intensif."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kutukan Kembang Desa
Horror"SIAPAPUN YANG MASUK KE RUMAH INI, MAKA NASIBNYA AKAN SAMA DENGANKU!" Sepucuk surat yang ditulis oleh Rahmi - seorang kembang desa, sebelum mengakhiri hidupnya.
