Kejadian Aneh

5.5K 534 11
                                        

#13

"Padahal ibu dah bawa baju banyak, tapi malah boleh pulang," gerutu Ibu.

"Bukannya malah bagus ya, Bu. Bisa pulang lebih cepet. Jadi biaya rumah sakitnya gak membengkak," balasku.

"Iya, sih. Cuman ibu bingung, kok Khalid bisa sembuh secepet itu. Kamu tau sendirikan tadi pagi, kepala sama kakinya masih diperban."

"Jangankan ibu, aku sama dokter aja tadi bingung."

Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Kami pun berjalan ke bagian administrasi. "Ini, Bu," ucapku seraya menyerahkan dompetku. "PIN-nya masih sama," imbuhku.

Ibu pergi mengurus administrasi, sementara aku terus mengawasi Khalid yang tidak bisa diam. Tak lama ibu sudah kembali. "Berapa, Bu?" tanyaku.

"Harusnya tadi pake asuransi aja, Dar," balas Ibu seraya menyerahkan tagihan rumah sakit.

Kutatap tagihan itu, spontan menghela nafas saat melihat angkanya. "Gak apa-apa, Bu. Biar cepet pulang, aku juga males urus syarat-syaratnya."

"Sayang aja uangnya. Belum lagi benerin mobil yang rusak."

"Kalau yang itu nanti aku urus pake asuransi aja, Bu."

"Ya udah kalau gitu."

"Khalid!" panggilku. Ia pun berlari ke arahku. "Ya, abah," balasnya.

"Ayo, pulang!"

"Naik apa, Dar?"

"Taksi aja, Bu."

Ibu meminta satpam mencarikan taksi. Sekitar lima menit kemudian, taksi pun datang. Bergegas kami pun naik.

"Ke perumahan Gading Mas, Pak," ucap Ibu.

Letak rumahku tak begitu jauh dari rumah sakit. Hanya dalam hitungan 15 menit kami pun tiba di depan rumah. Ibu dan Khalid turun duluan, membuka pintu. Sementara aku masih duduk di kursi belakang.

"Pak boleh minta bantuan," ucapku pada supir taksi. Walaupun sudah diberi obat pereda sakit, aku masih belum berani berjalan sendiri.

Pak Supir membantuku berdiri dan memapah sampai ke depan pintu. Selanjutnya, ibu yang gantian memapahku sampai ke kamar.

"Kalau perlu apa-apa teriak aja, Dar," ucap Ibu, kemudian berjalan ke luar kamar. Kurebahkan badan dan menyalakan pendingin ruangan. Kemudian, menarik selimut untuk tidur.

_________

Krek! Krek!

Aku terbangun karena mendengar suara berisik di kamar.

Krek! Krek!

Kubuka mata, terlihat lampu duduk di meja kerja bergerak dengan sendirinya dan dalam keadaan menyala. Siapa yang menyalakan lampu, batinku.

Ingin beranjak dari tempat tidur, tapi tak bisa. Terpaksa kupanggil ibu. "Bu!" teriakku untuk kesekian kalinya. Namun ibu belum juga datang ke kamar.

Kuambil posisi duduk, menggeser kaki perlahan. Saat menurunkan kaki ke lantai ....

Kriet!

Pintu terbuka. "Kan udah dibilang sama dokter, jangan dipake jalan dulu!" omel Ibu sambil berdiri di dekat pintu.

"Abisnya daritadi dipanggil gak datang," balasku.

"Ibu lagi masak di dapur. Kamu malah teriak-teriak. Ada apa sih?"

"Itu!" Aku menunjuk lampu duduk di meja kerja.

"Lampu?"

"Iya. Ibu tau sendiri aku gak bisa tidur kalau terang."

"Lagian kenapa dinyalain?" Ibu berjalan ke arah meja kerja dan mematikan lampunya.

"Ya ... mana aku tau. Pas baru tidur itu lampu berisik banget, gerak-gerak sendiri."

"Gerak sendiri?"

"Huuh."

"Wah jangan di kamar kamu ada hantunya, Dar."

"Mulai deh, Bu! Dah tau anaknya lagi susah jalan, pake ditakut-takutin pula."

Ibu malah tertawa. "Ya udah, kamu mau tidur lagi?"

"Enggak. Kan tadi katanya ibu lagi masak. Aku jadi laper nih," balasku, manja.

"Tunggu sebentar, nanti dibawain." Ibu pergi ke luar kamar. Sementara aku kembali berbaring di atas tempat tidur. Menutup mata.

Krek! Krek!

Bunyi itu kembali terdengar. Spontanku membuka mata, melihat lampu duduk yang kembali bergerak. Dengan lampu yang kembali menyala. "Astaghfirullah," ucapku, pelan.

Jangan-jangan, yang dibilang ibu benar, kalau di kamarku ada hantunya. Sejak kapan? Padahal selama ini tidak pernah ada gangguan. "Bu!" teriakku.

Kriet!

"Ada apa lagi, Dar?" tanya Ibu seraya membuka pintu.

"Itu!" Aku kembali menunjuk lampu duduk.

"Nyala sendiri lagi?" tanyanya.

"Iya."

"Bener, berarti di kamar kamu ada hantunya."

"Jangan gitu, Bu ...," protesku.

"Ibu ke dapur dulu."

"Khalid mana, Bu?"

"Dia lagi tidur."

"Oh."

Tek! Ibu menyalakan lampu kamar. "Biar terang sekalian. Dijamin gak ada yang iseng lagi," ucap Ibu, kemudian berjalan ke luar, tanpa menutup pintu. Tak lama, ia kembali dengan membawa nampan berisi makanan.

"Makan dulu, Dar." Ibu meletakan nampan itu di atas nakas.

"Suapin, Bu," balasku, manja.

"Kamu tuh bukan anak kecil. Malu dong sama Khalid."

"Kali-kali, Bu."

"Dah makan aja sendiri!" Ibu pergi ke luar kamar.

Kupindahkan nampan ke atas tempat tidur, lalu mulai makan. Setelah itu kutaruh nampan di atas nakas. Kembali berbaring, sambil melihat ponsel.

Awalnya tidak ada yang aneh, sampai dari ekor mata terlihat nampan itu sedikit bergerak. Sontakku menoleh ke nakas, tapi tak ada yang bergerak. Kulanjutkan menatap ponsel.

Prang!

Aku terperanjat sambil menatap piring dan gelas yang pecah di lantai. Perasaan tadi, tidak menaruhnya terlalu pinggir. Kenapa bisa jatuh?

Suara langkah kaki terdengar dari luar. "Ya Allah, Dar! Kenapa bisa jatoh gitu," omel Ibu seraya masuk ke dalam kamar. "Piring sama gelasnya ampe pecah juga," lanjutnya.

"Aku gak tau, Bu. Tiba-tiba aja jatoh."

"Gimana ceritanya tiba-tiba jatoh."

"Tadi aku simpen di sini ...." Kutunjuk nakas. "Terus tiba-tiba .... Prang! Nampangnya jatoh," jelasku.

"Kamu naronya terlalu pinggir."

"Enggak, Bu."

Ibu cemberut, lalu pergi ke luar untuk mengambil pengki dan sapu. "Lain kali hati-hati!" gerutunya seraya memberiskan pecahan piring dan gelas. "Udah punya anak, masih aja ceroboh!" imbuhnya.

"Iya, Bu." Dalam situasi seperti ini, aku sudah tidak bisa membantah. Ya ... mungkin memang aku yang ceroboh.

"Jangan dipikirin terus," ucap Ibu. Sepertinya ia tau yang ada di pikiranku sekarang. "Lama-lama juga terbiasa. Ibu udah sering banget ngalamin hal begini. Apalagi waktu kamu masih kecil dulu," imbuhnya.

"Iya, Bu."

"Ya udah, ibu mau beres-beres dulu. Kamu istirahat aja, biar cepet sembuh." Ibu berjalan ke arah pintu. "Ini lampunya mau dimatiin?"

"Biar nyala aja, Bu."  Aku masih sedikit trauma dengan dua kejadian aneh tadi. Saat lampu menyala pun, gangguan itu tetap terjadi.

BERSAMBUNG

Kutukan Kembang DesaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang