*Kalau ada tokoh/ nama yang belum diganti atau yang bikin kalian bingung bisa komen ya^^
Malam itu, Pangeran Hyunjin sengaja berkunjung ke Pavilliun Selir Bae, Sang Ibu setelah lama tidak berkunjung.
Seperti biasa, ketika masuk, tidak ada senyum hangat menyambutnya. Ibunya masih marah akan perbedaan prinsip diantara mereka berdua yang di debatkan tempo hari.
"Kau masih ingat jalan ke Pavilliun-ku, Pangeran?" Sindir Selir Bae.
Pangeran Hyunjin tersenyum kecil, dan memerintahkan beberapa Dayang untuk keluar agar lebih mempunyai privasi dengan sang Ibu.
Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"Aku rasa Ibu merindukanku." Ucapnya yang membuat Selir Bae berdecih.
Sejahat apapun, tidak ada seorang Ibu yang tidak merindukan Puteranya, begitupun Selir Bae.
Pada dasarnya, Selir Bae adalah wanita yang baik. Hanya keadaan dan kondisi yang mengharuskannya bersikap demikian.
Tidak ada yang tahu bagaimana setiap malamnya ia tidak bisa tidur karena mencemaskan keadaan Putera dan Puterinya setelah pengangkatan Jeno sebagai Raja. Apalagi seperti sebuah tradisi dalam Kerajaan untuk saling menebaskan pedang antar saudara demi mengokohkan posisi sebagai seorang Raja.
Sikap Jeno yang tidak peduli dan terkesan membenci mereka, membuatnya semakin takut dan cemas setiap harinya ditambah sikap Ibu Suri yang semakin hari semakin menekannya.
Dengan semua ketakutan dan tekanan itu, bukankah wajar jika ia tidak ingin melihat Jeno semakin kuat di posisinya?
"Aku ingin melakukan pengakuan Dosa kepada-mu, Ibu."
Selir Bae tersadar dari lamunannya dan menatap Pangeran Hyunjin dengan alis tertaut.
"Dosa apa yang telah kau lakukan? Kau telah menolak membantuku, tetapi kau justru melakukan kejahatan lain. Apakah Ibu Suri yang menyuruhmu?"
Selir Bae meninggikan suaranya. Merasa tidak terima bahwa Puteranya melakukan Dosa demi orang lain.
"Aku tahu jika diriku hanyalah sebuah bayangan di samping Yang Mulia Raja. Terkadang aku bertanya, kenapa dia tidak membunuhku saja di hari pengangkatannya? Karena menjalani hidup sebagai bayangannya, sebagai orang yang tidak diinginkan, jauh lebih menyakitkan dari pada kematian. Hari itu, aku sangat marah saat mendengar langsung Ibu Suri menginginkan kematianku karena takut posisi Yang Mulia terancam. Dan semuanya terjadi, bu. Aku melakukan semuanya. Aku merencanakan penculikan dan pembunuhan Calon Ratu. Aku bahkan merusak hubungan kepercayaan antar saudara. Aku membuat pemuda polos yang tidak tahu apapun menjadi mengerikan seperti Iblis," jeda sejenak. Dia mengambil nafas panjang saat air matanya keluar. "Aku tidak bisa mengehentikannya. Pemuda itu, adalah Putera Dayang Seo. Dan aku yakin, setelah Hyunsuk, temannya tertangkap, tidak akan lama Raja juga akan menangkapnya, dan menangkap diriku."
Selir Bae tidak bisa menutupi keterkejutannya. Ia mengerti situasi saat ini meski Pangeran Hyunjin tidak menjelaskannya secara rinci. Jawaban atas pertanyaannya tentang siapa yang menggagalkan usahanya menculik sang Calon Ratu saat itu, terjawab sudah.
Kini, ia hanya bisa menatap wajah Puteranya yang frustasi dengan tatapan prihatin.
Hyunjin adalah seorang pemuda berhati bersih. Ia bahkan tidak pernah bertindak menyebalkan sejak kecil. Untuk pertama kalinya melakukan kejahatan sebesar itu -meski tidak terlibat jauh- pastilah membuatnya tertekan.
Naluri seorang Ibu yang sudah lama di kuburnya, kini bangkit. Ia menangis dan memeluk Pangeran Hyujin untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Dan menepuk punggung itu dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternal (Nomin Remake)
FanfictionRemake story by @escoutemoi on Wattpad Na Jaemin adalah seorang pemberontak dari desa terisolasi Bucheon. Lee Jeno adalah seorang Raja kesepian. Perbedaan kedudukan, dan ramalan menggariskan mereka bertemu dalam suatu lingkaran takdir. ❗ BxB
