Hope you like it
and
Happy reading~
----oOo----
"Marilah anak-anakku, kita tundukkan kepala dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing agar diberikan kemudahan dalam melaksanakan olimpiade nanti. Berdoa mulai!" Pak Rudi memimpin. Di hadapannya, belasan murid berjejer rapi seraya tertunduk merapalkan doa kepada yang maha esa.
"Mohon maaf anak-anak, ternyata mobil sekolah sedang dipakai mengantar anak-anak klub Bahasa Inggris lomba di Kebon Rojo," ujar Pak Rudi setelah mendengar hal tersebut dari Pak Burhan, wakil kepala sekolah.
"Terus kita berangkatnya gimana, Pak? SMAKAR 1 itu nggak deket, lho, Pak," tanya seorang siswi.
"Pakai kendaraan masing-masing dulu, ya? Tolong temannya yang nggak bawa kendaraan dikasih tebengan! Bapak angkat telepon dulu," balas Pak Rudi yang kemudian beranjak dari sana.
Aerin yang pada dasarnya tidak membawa kendaraan pun dibuat bingung. "Adelyn, lo sama siapa?" Akhirnya dia memilih untuk bertanya.
"Gue sama Gading, Rin. Lo nggak ada tebengan?" Aerin menggeleng.
"Sama gue aja," celetuk Raden yang berdiri di samping Aerin.
"Beneran?" tanya Aerin kembali memastikan.
"Iya .. yuk!"
----oOo----
Adelyn baru saja menyelesaikan soal-soal olimpiade matematikanya dan diperbolehkan untuk keluar dari ruangan setelah mengumpulkan lembar jawaban. Dilihatnya ruang kelas di mana Aerin dan Gading melaksanakan olimpiade masih tertutup rapat. Mungkin baru dimulai karena mereka berada di sesi dua sedangkan dirinya berada di sesi satu sehingga rampung lebih dulu.
Daripada merasa bosan menunggu kedua temannya, Adelyn memutuskan untuk berkeliling SMA Kartanegara 1. Kalau diingat-ingat, sudah lama juga dia tidak ke sini sejak pekan olimpiade tahun lalu.
Tidak terasa waktu 1 jam dia habiskan sendiri hanya untuk berkeliling sekolah. Adelyn mendudukkan dirinya pada kursi taman belakang sekolah sembari menikmati jus wortel buatan Mamanya yang ia bawa dari rumah.
"Kita ketemu di waktu yang pas."
Adelyn menoleh ke sumber suara, dan mendapati Baron yang berdiri 5 meter di depan sana. Dia hampir lupa kalau ini adalah tempat sekolah laki-laki gila itu, dan juga ... tempat sekolah Garda. Tapi itu dulu. Sebelum Garda pindah ke sekolahnya.
"Nggak usah takut gitu."
Hei apa katanya? Bagaimana Adelyn tidak merasa takut kalau dia saja pernah menjadi sandera dan hampir mati di tangan laki-laki gila itu jika saja Gading dan teman-temannya tidak datang menyelamatkannya. Dan laki-laki itu memintanya agar tidak takut? PSIKOPAT!
Adelyn mengeluarkan penggaris besi dari dalam tasnya dan menodong Baron. "Jangan deket!"
Baron tersenyum kecut. Mempercepat langkahnya mendekat ke arah Lusi. Sedangkan Lusi semakin dibuat ketakutan, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"WOY!"
Selangkah lagi lebih dekat, Baron terdiam di tempatnya. Menolehkan kepalanya ke arah seseorang di ujung sana. Kedua tangannya terkepal.
"Anjing!" Baron mengumpat. "Kita ketemu lagi, lo nggak selamat!" Setelahnya laki-laki itu berlalu meninggalkan Adelyn yang tubuhnya bergetar hebat. Dia trauma.
"Kamu nggak pa-pa?" tanya Gading yang merengkuh erat tubuh Adelyn. Dia datang bersama Aerin.
Di dalam rengkuhan Gading siang itu Adelyn menggeleng. "Aku takut."
KAMU SEDANG MEMBACA
GARDA: Evanescent
Romance❝Udah selesai ya? Maaf udah naruh rasa tanpa peduli aturan semesta. Walau nggak bisa bersama, seenggaknya semesta pernah jadi saksi betapa bahagianya gue waktu sama lo.❞ - Garda Edrian Kartanegara ❝Ketemu sama lo itu, ibarat gue terjebak situasi bom...
