Hope you like it
and
Happy reading~
----oOo----
Mata Garda memicing kala melihat manusia yang dikenalinya berdiri di tengah lapangan basket indoor dengan mengenakan baju basket yang serupa dengannya. Cowok itu dengan cepat menegak sebotol air mineralnya hingga tandas, kemudian membuang sampah botol plastik itu sembarang arah tanpa peduli. Yang ia pertanyakan adalah, mengapa gadis mini itu berada di sini?
Dengan sengaja, Garda melemparkan bola basket yang ada di tangannya ke arah gadis itu.
"Ack!"
Tepat sasaran.
"Sengaja lo ya?" desis gadis itu mengaduh kesakitan seraya mengusap-usap kepalanya yang tertimpa bola. Garda tersenyum miring. Cowok itu mengambil kembali bola basket yang menggelinding jauh darinya.
"Ngapain lo di sini?" Bersamaan dengan pertanyaan yang dilontarkan, Garda melempar kembali bola basket itu ke arah Aerin. Yang untungnya bisa gadis itu tangkap.
"Terserah gue dong," judes Aerin yang balik melemparkan bola basket itu dengan sekuat tenaga lantaran tidak terima. Bola itu hampir meleset. Namun untungnya Garda berhasil menangkapnya walaupun badannya sempat terhuyung dan hampir terjatuh.
Dengan tatapan tidak suka. Garda menghampiri Aerin dengan bola digendongannya. Gadis berkuncir kuda itu mundur selangkah ketika garda menunduk dan mendekatkan wajahnya. Aerin dapat merasakan deru napas hangat cowok itu menerpa wajahnya.
"A-apa?" Aerin berusaha menetralkan detak jantungnya. Dirasa, wajahnya memanas. Apakah kini wajahnya sudah semerah kepiting rebus?
Garda menyentuh ujung kaos basket Aerin. "Dapet dari mana?"
Aerin berusaha memahami apa yang Garda maksudkan. Ketika pandangan cowok itu menunjuk pada kaos basketnya, Aerin menghela napasnya lalu tersenyum manis. "Gue kan ikut ekskul basket ..."
Garda mengerutkan keningnya. Benarkah? Sejak kapan? Lalu kemana saja gadis itu minggu-minggu lalu?
Kerutan di kening Garda seketika menghilang saat Aerin mendorong keningnya dengan jari telunjuk gadis itu. Membuatnya kembali menegakkan tubuh. Dilihatnya, rekan-rekan se-timnya mulai berdatangan. Ada Geni juga di deretan itu.
Mereka satu persatu menyalami Aerin dengan senyuman ramah. Apalagi para lelaki yang di dalam hatinya bersorak gembira karena bertemu dengan sang idola. Bahkan ada yang melama-lamakan salamannya agar bisa menatap lebih lama paras ayu Aerin yang bak dewi Yunani. Kenyataan tentang Aerin yang merupakan selebgram terkenal tidak menjadikan hal tersebut aneh.
"Lo ikut basket?" Geni bertanya. Dalam pikirannya, cowok itu merasa bingung mengapa gadis di depannya ini bergabung dengan klubnya. Apa gadis itu tidak tahu jika Garda berada di klub ini?
Dengan seulas senyuman yang tercetak manis di wajahnya, Aerin mengangguk yakin. "Gue pengen belajar basket," alasannya.
Geni mengusak rambut Aerin gemas. "Semoga betah deh ...," ujarnya.
Dari sini, Aerin dapat menyimpulkan kalau anggota klub basket ini semuanya adalah kaum adam. Benar kata Adelyn. Dia tidak seharusnya masuk ke mulut singa setelah masuk ke lobang buaya sebagai pembimbing Garda.
Namun penyesalannya sirna tatkala melihat seorang gadis dengan baju yang serupa berlari dengan napas terengah. Mata Aerin berbinar. Dia tidak jadi menyesal.
"Hahhh hahhh hahh sorry gue tel-atthh hahh," ucap gadis itu yang membungkuk seraya menumpukan tangannya pada lutut. Keringat mengalir dari pelipisnya. Salah seorang anggota yang Aerin ketahui bernama Septian menyodorkan sebotol air mineral kepada si gadis, yang kemudian diterima dan ditegak hingga tersisa setengahnya. "Thanks."
KAMU SEDANG MEMBACA
GARDA: Evanescent
Romance❝Udah selesai ya? Maaf udah naruh rasa tanpa peduli aturan semesta. Walau nggak bisa bersama, seenggaknya semesta pernah jadi saksi betapa bahagianya gue waktu sama lo.❞ - Garda Edrian Kartanegara ❝Ketemu sama lo itu, ibarat gue terjebak situasi bom...
