Hope you like it
and
Happy reading~
----oOo----
Asap rokok mengepul memenuhi ruangan di mana keenam laki-laki ini berkumpul. Duduk melingkar dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"Anak kelas 10 perlu juga?" tanya Vano. Menghisap rokoknya, kemudian menghembuskan asap rokok yang ada di dalam mulutnya ke udara.
Para anggota Mizor kini berada di MB. Seperti yang sudah dikatakan oleh Elang, mereka akan mempersiapkan strategi untuk besok. Yaitu penyerangan para anggota Simon ke sekolah mereka.
Karena tidak memungkinkan untuk hanya 5 orang saja yang melawan Simon, Elang meminta bantuan kepada siswa kelas 12 dan 11 yang lainnya. Dan beruntungnya mereka mau. Bagaimana bisa mereka menolak untuk membantu? Yang diserang kan sekolah mereka.
Kini mereka juga tengah berpikir untuk mengajak siswa kelas 10 atau tidak. Karena hal ini nantinya akan sangat berisiko.
"Bahaya! Mending jangan!" ujar Geni. Menyesap minuman bersoda dari kalengnya.
"Iya njir mending jangan. Gue takut mati," sahut Vano.
Dahi kelima laki-laki itu mengernyit. Bingung dengan kalimat 'mati' yang entah arahnya ke mana.
"Mati?" Gading bertanya, mewakili pertanyaan yang sejak tadi berkecamuk di dalam pikiran mereka berlima.
"Kalo anak-anak kelas 10 diajak terus babak belur, dikeroyok lah kita sama emak-emaknya. Serangan emak-emak itu lebih mematikan dari kawanan lebah," jelas Vano yang mendapat gelengan kepala dari kelima temannya.
"Kalau gitu anak kelas 10 nggak usah. Nanti gue minta Raden buat koordinasiin mereka buat jaga anak-anak cewek aja di dalem aula," mereka mengangguk setuju dengan keputusan Elang.
Strategi untuk besok sudah tersusun rapi berkat kecerdasan Gading dan tentunya ketegasan Elang. Mereka semua tidak langsung pulang, dan memilih untuk menghabiskan sore ini hingga malam nanti di MB.
Dari mulai mabar game online, bermain PS, menonton pertandingan sepak bola di tv, memesan makanan dan kemudian makan bersama.
Bahagia itu sederhana.
"Perasaan bonyok kita orang tajir deh, tapi tiap nongkrong yang kita pesen nasi gorengnya Mas Bambang mulu ... Bosen gue," celoteh Vano dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"Iya, sekali-kali pesen McD atau KFC gitu kek. Bosen anjir," imbuh Geni.
"Bangor amat mulut lo Van, heran gue."
Jlebb, kata-kata yang diucapkan oleh Gading benar-benar menembus ke ulu hati Vano.
"Ding, lo kalo ngomong ...," Geni sedikit menaikkan nada bicaranya. "suka bener."
Huh, Gading mengira Geni akan marah padanya karena meledek Vano yang notabenenya adalah adek kakak ketemu gede-nya.
Mereka semua terbahak. Terkecuali Vano yang mengunyah nasi gorengnya dengan perasaan dongkol.
Mereka sekarang sedang makan malam bersama, dengan nasi goreng Mas Bambang hasil traktiran dari Elang. Posisi mereka kini duduk melingkari meja kayu bundar dengan urutan Elang-Garda-Geni-Gading-Vano.
"Yang penting gratis. Kan Elang yang bayarin. Iya kan, Lang?" Vano menaik turunkan alisnya bagaikan om-om pedofil yang menggoda anak kecil.
Elang bergidik. "Yain."
KAMU SEDANG MEMBACA
GARDA: Evanescent
Romance❝Udah selesai ya? Maaf udah naruh rasa tanpa peduli aturan semesta. Walau nggak bisa bersama, seenggaknya semesta pernah jadi saksi betapa bahagianya gue waktu sama lo.❞ - Garda Edrian Kartanegara ❝Ketemu sama lo itu, ibarat gue terjebak situasi bom...
