Hope you like it
and
Happy reading~
----oOo----
"Aerin itu cewek Gar, lagian dia juga murid baru yang nggak tau apa-apa. Jadi biarin aja lah," peringat Elang. Laki-laki itu sudah bosan untuk terus mengingatkan sepupunya yang satu ini. Hhh susahnya minta ampun.
"Udah puluhan kali lo ngomong itu," jengah Garda, menyenderkan punggungnya pada pinggiran gazebo.
"Tapi lo nggak pernah dengerin gue, Gar. Kapan lo mau berubah?"
"Kapan-kapan."
"Tapi gue harap lo nggak sampai lukain dia," ucap Vano yang duduk di sebelah Garda. "Walaupun gue sering gonta-ganti cewek, gue nggak pernah lukain cewek kali. Tapi sumpah cok, si itu ... siapa namanya?" Vano mencoba mengingat sebuah nama.
"Aerin," timpal Gading.
"Nah iya Aerin. Anaknya cakep juga ya. Jadi pengen gebet," ujar Vano yang menengadahkan kepalanya membayangkan paras ayu Aerin yang terngiang-ngiang di pikirannya.
"Namanya juga selebgram, cakep lah," celetuk Geni yang membuat mereka melongo. Kecuali Garda, laki-laki ini sedang tidak nafsu membicarakan wanita.
"Selebgram?" tanya Vano kembali memastikan, Geni mengangguk sekilas. "Pantesan gue kayak pernah liat mukanya. Kayak ... kayak family gitu."
"Familiar ...," celetuk Elang membenarkan. "Family mah keluarga, dodol!"
"Aerin punya gue fix," Vano mengklaim dengan entengnya yang kemudian mendapat toyoran keras dari Geni dan Gading. Toyoran dari kanan, lalu toyoran dari kiri. Beuh ... paket komplit.
"Dasar playboy cap ikan teri!" olok Gading dengan sewotnya.
Vano lantas turun dari gazebo lalu berkata, "dahlah, gue mau minggat aja."
"Lah bodo amat. Ya udah sono lo," usir Geni pada laki-laki berkulit sawo matang itu. Yang diusir pun manut saja, meninggalkan gazebo tersebut. Dasar Zevano.
"Gue juga, mau balik aja ke kelas. Belajar sekalian pacaran," Gading ikut turun dari gazebo. Menaik-turunkan alisnya. Sombong.
"Belajar mulu perasaan dah. Kagak capek lo, tiap hari bacain buku selusin?" gerutu Geni keheranan.
"Udah mau lulus, tetep mau goblok?" ejek Gading kemudian melenggang pergi.
"Jleb hatiku bang ...," Lebay Elang bergaya seolah hatinya sedang tersakiti.
Sedangkan Garda sedari tadi hanya menggeser layar ponselnya saja. Tidak ada hal yang menarik dari benda pipih nan padat itu. Bahkan moodnya untuk bermain game sudah hancur. Otaknya dipenuhi wajah Aerin yang membuatnya muak. Rasanya ingin sekali membuat gadis itu berlutut sembari menangis di hadapannya.
----oOo----
"Langsung balik, Gar?" tanya Geni yang tengah memasangkan helm di kepalanya.
"Gramed bentar, beli pulpen sama Tipe-X, udah pada habis," balas Garda. Men-starter motornya, menimbulkan suara yang begitu nyaring.
"Kagak ikut kita ke MB aja? Gading katanya mau nyusun rencana," tawar Geni.
"Besok tinggal nanya ke Gading, clear. Gue pengen istirahat. Bilangin ke Elang kalo gue nggak ikut rundingan hari ini," ujar Garda lantas melajukan motornya meninggalkan area sekolah.
"Gampang banget ngomongnya. Kayak nggak ada beban," gumam Geni. Berdecak di balik helm full facenya.
Garda melajukan motornya pelan. Menikmati hembusan angin sore yang tenang ini. Jarang-jarang dirinya bisa sesantai ini. Karena biasanya sepulang sekolah dia akan langsung pergi ke MB untuk sekedar nongkrong atau menyusun strategi pra-tempur.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARDA: Evanescent
Romance❝Udah selesai ya? Maaf udah naruh rasa tanpa peduli aturan semesta. Walau nggak bisa bersama, seenggaknya semesta pernah jadi saksi betapa bahagianya gue waktu sama lo.❞ - Garda Edrian Kartanegara ❝Ketemu sama lo itu, ibarat gue terjebak situasi bom...
