Hope you like it
and
Happy reading~
----oOo----
"Duh duh! Pelan-pelan Geni!!" pekik Aerin tertahan kala Geni menggerak-gerakkan pergelangan kakinya ke kanan dan ke kiri. Sungguh, itu sangat menyakitkan. Pergelangan kakinya nyeri bukan kepalang.
Geni, cowok itu datang di waktu yang tepat. Dia bilang, Pak Mamba menyuruhnya untuk mengawasi Garda dan juga Aerin. Takut-takut kalau Garda akan menimbulkan masalah baru. Dan benar saja, setibanya di sini Geni melihat Aerin yang berusaha melangkah namun berkali-kali terjatuh lantaran tak kuasa menggerakkan kaki kirinya yang keseleo. Sedangkan Garda hanya menikmati sebotol air mineral di tribun bawah. Ya Tuhan, rasanya otaknya mau pecah saja memikirkan betapa bejatnya sahabatnya itu.
"Lagian kalo ada cewek butuh bantuan itu dibantu. Bukan malah ditelantarin." Sindir Geni. Sedangkan yang di sindir asyik memainkan hp tanpa peduli. "Harus di pijit ini mah, kalo nggak bisa bengkak," ujar Geni.
"Nyari kesempatan dalam kesempitan," celetuk Garda tiba-tiba membuat dua manusia selain dirinya menoleh ke arahnya.
Aerin berdecih. "Dari pada lo, ngomong doang gerak juga kagak," ucapnya judes.
Garda menatap Aerin tajam. Bangkit dari keterdudukannya, kemudian menyenggol tubuh Geni yang berjongkok di depan Gadis itu hingga terjatuh.
"Anjing! Kira-kira dong lo!" umpat Geni tidak terima. Cowok ganteng itu menampakkan raut masamnya. Enak saja main serobot.
Garda hanya melirik Geni sekilas, kemudian menatap Aerin dalam-dalam. "Kata siapa?" Aerin mengernyit bingung dengan apa yang Garda maksudkan. Gadis itu berjengkit ketika Garda menyentuh pergelangan kakinya. Rasanya seperti terkena sengatan listrik, jantungnya berdegup tak karuan tatkala tatapan itu semakin dalam menghunusnya. "Kata siapa gue nggak gerak? Buktinya ..."
Klek
1 detik
2 detik
3 det--
"HUAAAAAAA"
Geni menutup telinganya rapat-rapat. Astaga ... gendang telinganya serasa mau jebol mendengar teriakan Aerin yang melengking. Sedangkan temannya yang berulah, tertawa terbahak-bahak. Gila.
"Sakit bego!" Aerin menitikkan air matanya. Ia berani bersumpah, sakitnya bertambah dua kali lipat setelah Garda menekuk kakinya hingga mengeluarkan bunyi yang luar biasa nyaring. "Jahat lo, Gar! Geni ..."
Geni yang otaknya masih blank segera tersadar. "G-gue panggilin anak PMR dulu. Sabar! Jangan nangis!" Ingin sekali rasanya Geni meraup wajah sangar sahabat gilanya itu. Tapi apa daya, melihat Aerin yang semakin histeris Geni semakin dibuat linglung dan memilih untuk bergegas memanggil anak PMR.
Garda meredakan tawanya. Tersenyum menatap Aerin yang masih histeris dengan wajah berada di lekukan kedua lengannya. Dengan perlahan Garda menarik kaki Aerin dan menselojorkannya. Namun gadis itu lagi-lagi mengaduh kesakitan dan menarik kembali kakinya dengan cepat.
"Selonjorin aja! Mau kaki lo bengkak? Tadi gue udah benerin kaki lo. Palingan bentar lagi sembuh," jelas Garda panjang lebar.
"Benerin-benerin ... Lo pikir kaki gue lego apa?! Lo tau nggak gimana rasanya jadi gue? Sakit Gar ... Saaa-kiiit," keluh Aerin. Dan lagi, gadis itu kembali terisak.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARDA: Evanescent
Romance❝Udah selesai ya? Maaf udah naruh rasa tanpa peduli aturan semesta. Walau nggak bisa bersama, seenggaknya semesta pernah jadi saksi betapa bahagianya gue waktu sama lo.❞ - Garda Edrian Kartanegara ❝Ketemu sama lo itu, ibarat gue terjebak situasi bom...
