5. LDR

731 59 1
                                        

Hope you like it
and
Happy reading~

----oOo---

"Pulang malam ini, Lan? Kenapa nggak besok aja?" Arumi menyuguhkan pisang goreng buatannya ke hadapan Alan.

Alan menghembuskan napas panjang. "Sebenernya Alan pengen lebih lama lagi di sini, Bun. Tapi Alan kan harus sekolah. Lomba Alan di sini juga udah selesai. Mau gimana lagi," jawabnya tidak bersemangat.

Arumi tersenyum lembut, lalu mengusap punggung tegap kekasih putrinya itu seperti seorang ibu kepada anaknya. "Nggak apa-apa, libur semester kan bisa ke sini lagi," ujarnya menenangkan.

"Aerin mana, Bun?" tanya Alan. Sejak kedatangannya kemari, dia tidak melihat keberadaan Aerin.

"Di kam-nah, itu anaknya," Arumi menunjuk Aerin yang muncul dari lorong. Namun bukannya menyapa kekasihnya, gadis itu justru melengos pergi ke belakang rumah. "Loh, Rin, mau ke mana? Ada Alan lho, di sini," tanya Arumi kebingungan. Namun jawaban Aerin setelahnya membuat Arumi semakin dibuat kebingungan.

"Mau ngasih makan ayam."

"Emang punya ayam, Bun?" tanya Alan ikut kebingungan.

Arumi menggeleng. "Kamu samperin gih! Mukanya sepet banget, ngambek mungkin sama kamu."

Alan mengangguk dan bergegas menyusul Aerin ke belakang rumah. Namun rupanya gadis itu sedang mencabuti rumput-rumput liar yang menumpang tumbuh di pot bunga.

"Ngasih makan ayam? Yang bener aja."

Aerin sempat menoleh sebentar sebelum akhirnya kembali fokus dengan kegiatannya. Alan menghela napasnya, apa gadisnya benar-benar semarah itu padanya?

Alan ikut berjongkok dan mencabuti rerumputan liar itu dengan tangan kosong. Sedang tangannya mencabuti rerumputan, matanya menatap ke arah samping, di mana Aerin masih geming dan tidak mempedulikan keberadaannya.

"Maaf soal kemarin, nggak akan aku ulangin," terdengar nada penyesalan dari kalimat laki-laki itu. Lagi, Aerin geming. "Nanti malam aku pulang ke Jogja."

"Terus?" tanya Aerin ketus.

Alan kembali menghembuskan napasnya pelan. "Nggak mau peluk atau ucapin selamat tinggal? Nanti kalo udah LDR, nangesss," balas Alan, setengah mengejek. Menoel hidung mancung Aerin.

Namun setelahnya terdengar suara isakan. Gadis itu sejak tadi berusaha menahan air matanya. Tapi tidak bisa, tembok pertahanannya runtuh seketika saat Alan menoel hidungnya.

"Rin-"

Aerin bangkit begitu saja tanpa memedulikan Alan. Dari jarak 10 meter, gadis itu membalikkan tubuhnya, melihat ke belakang di mana Alan masih berjongkok dan turut menatapnya.

"Aku nggak suka kamu mabuk-mabukan kayak semalem. Capek boleh, tapi nggak gitu cara ngelampiasinnya," marah Aerin. Kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Alan bersama rasa sepi yang kian merayap menembus hatinya. Di sela-sela rasa sepi itu dia tersenyum getir.

Dua jam lebih Alan ditemani bunga-bunga milik Arumi di taman. Masih dalam kesendirian. Masih terperangkap dalam rasa sepi. Hingga sore itu berganti menjadi langit oranye dengan warna kemerahan di ujung, dia memutuskan untuk pergi dari sana.

Setelah berpamitan dengan Arumi, Alan menghampiri motor yang dipinjamnya dari teman satu organisasinya di Blitar, yang dia parkir di depan rumah Aerin. Namun suara teriakan yang mengalun memanggil-manggil namanya menghentikan aktivitasnya yang hendak memakai helm.

Dari dalam rumah, Aerin berlari menghampiri Alan. Lalu menubruk tubuhnya sehingga dia sempat akan kehilangan keseimbangannya.

"Harus sekarang?" tanya gadis itu disela-sela isakannya.

GARDA: EvanescentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang