Dibalik selimut tebalnya, Aerin merasa dirinya begitu berantakan. Sepulangnya dari sekolah, dia langsung meringkuk seperti kucing yang sekarat. Tangisnya pecah dan semakin dia mengingat segala hal tentang Alan, semakin dia merasa pilu.
Sekarang dia kesusahan bernapas. Hidungnya tersumbat, dadanya sesak dan kepalanya pusing. Ternyata benar kata orang-orang, menangis juga butuh tenaga.
Dan kini dia menyesali karena telah memberikan sandwichnya kepada Abay, teman sekelasnya.
Dan kalau saja dia tahu akan meratap seperti ini, dia mungkin juga akan menerima tawaran Adelyn yang mengajaknya pergi ke restoran Korea sepulang sekolah tadi.
Aerin benar-benar kehabisan tenaga, tapi dia juga tidak bisa berhenti menangis. Rasanya tidak adil diperlakukan seperti ini oleh Alan.
Seolah-olah dia memang tidak sepantas itu untuk diperjuangkan.
Dan meskipun perutnya keroncongan minta diisi, ketika mengingat perasaannya yang tercampakkan begitu saja oleh Alan- perutnya terasa kenyang begitu saja.
Sialan. Kenapa laki-laki itu tidak mau mendengarkannya barang sedetik? Dia berkata jujur. Kalian pasti tahu itu.
Aerin menarik napasnya susah payah- karena ingusnya berhenti tepat di tengah-tengah hidung.
"Kenapa sih Lan kamu nggak dengerin aku dulu? Sesusah itukah buat percaya sama aku?" monolognya pada guling yang dipeluknya.
Aerin hampir saja tertidur saat ponselnya berdering diatas nakas. Melihat nama yang tertera di sana membuat hatinya bergemuruh.
Perempuan itu lantas duduk bersandar, tiba-tiba perasaannya membaik. Tapi tidak bisa disangkal juga kalau dia merasa bersalah pada laki-laki itu.
Dia menggeser ikon hijau. "Halo?"
Yang pertama kali Aerin dengar adalah suara angin dan gesekan daun. Barangkali orang itu sedang berada di luar rumah, pikirnya.
Masih tidak ada jawaban, Aerin memanggilnya sekali lagi, "halo? Garda?"
Kemudian terdengar Hela napas panjang. "Sorry."
"Gar-"
"Rin, it's okay to not be okay right now. Lo bilang dunia nggak melulu harus lihat lo baik-baik aja kan?"
Sekali lagi, Aerin menangis. Cukup lama, sampai Garda mendengarnya seperti radio yang sudah rusak.
Tapi ajaibnya, dia merasa baik-baik saja untuk menangis seperti ini. Dia merasa bukan sebuah masalah Garda mendengarkannya menangis malam-malam begini.
"Dia udah nggak mau liat gue lagi."
"Dia mau lihat lo atau nggak itu masih abu-abu. Karena sejatinya baik atau buruk itu cuma pandangan orang. Alaminya, antara baik dan brengsek, orang akan jatuh cinta sama orang yang dianggapnya baik. Cinta itu memilih, Rin. Dan lo memilih Alan buat lo titipin perasaan lo."
Aerin tertawa, "motif lo apaan sih bilang kayak gini. Udah kaya Mario Teguh aja."
"Nggak ada. Gue cuma mau lo paham sama perasaan lo sendiri dan nggak sibuk menerka-nerka. Disaat hubungan lo sama Alan kayak gini, gue berharap lo bisa memilih apa yang menurut lo baik buat dipilih."
"I know. Makasih atas kata-kata bijaknya." Aerin tertawa lagi. Kali ini jauh lebih nyaring. Bebannya berkurang setengah. Berkat Garda.
Gadis itu berjalan ke arah jendela. Setelah membaik, dia sadar kalau dia butuh udara segar.
Berada hampir seharian di bawah selimut membuat pernapasannya melemah. Ditambah dengan hidungnya yang tersumbat- ah, menangis ternyata semelelahkan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARDA: Evanescent
Romance❝Udah selesai ya? Maaf udah naruh rasa tanpa peduli aturan semesta. Walau nggak bisa bersama, seenggaknya semesta pernah jadi saksi betapa bahagianya gue waktu sama lo.❞ - Garda Edrian Kartanegara ❝Ketemu sama lo itu, ibarat gue terjebak situasi bom...
