14. Derita Tak Berujung

363 27 0
                                        

Hope you like it
and
Happy reading~

----oOo----

Setelah insiden di ambang pintu perpustakaan tadi, suasana menjadi lebih canggung. Lebih tepatnya Aerin yang merasa canggung karena sejak tadi Garda bersikap seolah-olah tidak pernah ada yang terjadi sebelumnya.

"Bu Sukma bilang ke gue kalo lusa kelas lo ada ulangan harian bab 3 tentang matriks. Jadi gue mau lo pelajarin materi yang udah gue ringkas ini," ujar Aerin. Mengambil dua lembar kertas dari dalam totebag yang dibawanya, kemudian menaruhnya tepat di hadapan Garda.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

cr: Twitter

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

cr: Twitter

Melihat dua lembar kertas yang penuh akan coretan tinta itu Garda menghembuskan napasnya jengah. Apakah harus?

"Gue mau bikin soal dulu buat lo, sementara lo pelajarin materinya. Oke?" cetus Aerin kemudian yang membuat Garda kembali menghembuskan napasnya jengah.

"Mending lo berhenti sekarang selagi bisa."

Aerin mengernyit bingung atas maksud dari penuturan cowok di depannya ini.

"Gue nggak butuh bimbingan dari lo," tegas Garda.

Aerin meremas kertas hvs di tangannya. "Gar kita baru mulai. Ini semua demi kebaikan lo," tutur Aerin mencoba untuk tetap bersabar menghadapi Garda.

"Lo nggak denger? GUE-NGGAK-BUTUH!" tegasnya lagi. Dengan diri yang diraup api kemarahan, Garda beranjak dari tempatnya.

Aerin mendengus kesal dan mulai merapikan lembaran-lembaran kertas tadi kemudian memasukkannya kembali ke dalam totebag.

Tidak ingin kehilangan jejak Garda, Aerin buru-buru mengejar Garda ke luar perpustakaan.

"Garda!" Aerin berhasil mencapai tubuh Garda dan mencekal pergelangan tangan cowok itu. "Gue mohon, Gar. Ini semua demi lo, demi masa depan lo," bujuk Aerin.

GARDA: EvanescentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang