Hari ini adalah hari di mana pertandingan basket antara SMA Kartanegara 2 dan SMA Perwira Bangsa 3 diselenggarakan.
Sebuah bus yang mengangkut para pebasket SMA Perwira Bangsa 3 terparkir rapi di depan gapura pintu masuk SMA Kartanegara 2. Para murid berbondong-bondong melongok ke luar, melihat pebasket handal dari pulau seberang itu.
Siapa yang tidak mengenal Alan Adi Sadewa, perenggut kejuaraan basket terkenal seantero pulau Jawa. Namun jauh-jauh datang ke Blitar, mengajukan banding mengajak klub basket SMA Kartanegara 2 bertanding.
Sama halnya dengan murid lainnya Aerin juga turut menantikan kedatangan Alan. Tapi bedanya gadis itu menunggu kedatangan kekasihnya itu di ruang ganti.
Seperti yang kalian tahu, hubungan keduanya masih belum terpublikasi. Palingan hanya segelintir orang yang tahu. Itu karena status Aerin sebagai selebgram tersohor yang mungkin saja dapat membuat karirnya terganggu.
Suara decit pintu yang dibuka membuat atensi Aerin teralihkan. Gadis itu mendongak. Sepersekian detik kemudian tersenyum lebar.
"Halo Bu Bos!" Laki-laki berambut cokelat setengah keriting di bagian atas itu merentangkan tangannya, menyambut pelukan Aerin.
Tidak usah terlalu terkejut, Aerin dan Tora memang sudah sedekat ini. Tora yang notabene sahabat Alan membuat keduanya dekat.
"Kangen banget sama kalian ..." Aerin memekik kesenangan. Melakukan high-five dengan anggota yang lain.
Namun menyadari ada yang hilang Aerin lantas bertanya, "Alan mana?"
Tora yang baru saja membuka mulutnya terhenti saat pintu dibuka. Menampakkan Alan dengan tas yang lumayan besar di punggungnya. Menatap lurus ke arah manik jernih gadisnya yang menatapnya dengan pandangan berbinar.
Lantaran peka dengan keadaan, Tora mengajak rekan-rekannya yang lain untuk keluar dari ruang ganti. Memberikan ruang pada sepasang kekasih yang lama tak berjumpa itu.
Tora menepuk bahu Alan dua kali sebelum akhirnya melenggang pergi. Diikuti pintu yang tertutup rapat.
"Hai," lirih Aerin menyapa. Berjalan mendekat, mengalungkan lengannya ke pinggang Alan, menyandarkan kepalanya pada dada bidang laki-laki itu. "apa kabar?"
Tak kunjung mendapat balasan, Aerin melepas pelukannya. Menatap wajah datar Alan dengan seulas senyuman manis. Ah mungkin laki-laki itu kelelahan.
Lantas dengan langkah kecil Aerin menarik pergelangan tangan Alan, membawa laki-laki itu duduk di salah satu kursi panjang ruang ganti. Mengeluarkan sesuatu dari dalam Tote bag yang dibawanya.
"Taraaaaa ..." Aerin tersenyum sumringah. Mengangkat dua kotak makan berukuran besar di tangannya.
"Bunda bela-belain bikinin brownies pagi-pagi loh, buat kalian. Nanti dimakan ya! Terus Bunda juga pesen, sebelum kalian pulang ke Jogja mampir dulu ke rumah. Terus-"
"Seru ya godain cowok lain?" potong Alan. Laki-laki itu menatap dalam manik mata Aerin dengan wajah datar.
Aerin yang tidak mengerti menautkan kedua alisnya bingung. Menaruh kotak browniesnya ke atas kursi.
"Lomba tujuh belasan bareng, bahkan minta gendong. Wah, belajar dari mana kamu jadi cewek penggoda kayak gitu?"
"Maksudmu apa sih Lan? Aku nggak ngerti deh."
Alan tertawa culas. Mengambil hpnya dari dalam hoodie abu-abu yang dikenakannya. Menggulir benda pipih itu sebelum akhirnya menunjukkan beberapa foto yang di-posting oleh salah satu akun Twitter ke hadapan Aerin.
"Sekarang masih nggak ngerti?"
Aerin memandangi beberapa foto dirinya bersama Garda dari layar hp Alan. Foto kala dia dan Garda mengikuti perlombaan, foto kala dia membersihkan wajah kotor Garda dengan tisu basah, foto kala dia tidak sengaja memeluk Garda setelah memenangkan sebuah perlombaan dan yang terakhir adalah video dengan durasi cukup panjang di mana dia meminta gendong pada Garda.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARDA: Evanescent
Romance❝Udah selesai ya? Maaf udah naruh rasa tanpa peduli aturan semesta. Walau nggak bisa bersama, seenggaknya semesta pernah jadi saksi betapa bahagianya gue waktu sama lo.❞ - Garda Edrian Kartanegara ❝Ketemu sama lo itu, ibarat gue terjebak situasi bom...
