9. Egois

524 37 1
                                        

Hope you like it!
and
Happy reading~

----oOo----

"Pulang aja ya, Rin! Gue bisa kok, mintain izin ke Pak Banu," Adelyn yang kini sebangku dengan Aerin mencoba untuk meyakinkan gadis itu agar pulang. Adelyn tidak tega melihat Aerin yang terlihat tidak nyaman dengan luka yang didapatkannya. Luka itu tertekan ketika Aerin menunduk. Terlihat menyakitkan.

"Gue nggak apa-apa kok, Lyn. Lukanya udah nggak sesakit tadi. Nggak perlu lah, sampe pulang segala," balas Aerin masih tetap dengan pendiriannya yang menolak untuk pulang.

Sepertinya Adelyn sudah memaksanya pulang puluhan kali dalam satu jam ini. Bahkan hingga mata pelajaran Bahasa Inggris usai dan Mr. Danis meninggalkan kelas, Adelyn masih saja mendesaknya.

Gading menghampiri keduanya dari bangku paling depan, laki-laki itu mengusir gerombolan siswi yang sedang asyik ngerumpi di depan bangku Aerin dan Adelyn. Membuat beberapa diantara mereka mengoceh kesal.

"Gading perusak suasana."

"Tuh, 'kan, gue jadi lupa sama apa yang mau gue omongin."

Gading tidak memedulikan ocehan mereka. Laki-laki itu duduk begitu saja setelah para siswi tadi melenggang pergi, mencari tempat lain untuk melanjutkan acara rumpi mereka yang sempat tertunda.

"Pulang aja lah! Nggak percaya gue, kalo luka lo lebih baik daripada yang tadi. Pasti tambah sakit, 'kan? Buktinya luka lo basah lagi sampe perbannya ikutan merah," tuding Gading. Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi gaming.

"ASTAGA RIN! AY-"

Bugh

Aerin memukul pelan lengan Adelyn dan menatap tajam ke arah gadis yang baru saja memekik itu.

"Jangan berisik! Malu diliatin temen-temen yang lain," tegur Aerin.

Bohong jika Aerin tidak merasa kesakitan dengan luka yang didapatkannya. Rasanya sakit sekali, sehingga membuat Aerin menahan rintihannya dengan menggigit bibir bagian dalamnya.

"Gue ke UKS dulu, mau ganti perban," ucap Aerin.

"Gue ikut!" Adelyn bangkit dari duduknya.

"Lyn," Aerin menatap Adelyn, seolah-olah mengisyaratkan gadis itu untuk tidak ikut dengannya.

Adelyn berdecak kesal, "iya deh, iya. Gue nggak ikut."

"Gue pergi dulu, ya. Kalo Bu Aya dateng, bilangin gue lagi ke UKS," ujar Aerin yang dibalas deheman oleh Adelyn. Sedangkan Gading hanya mengangguk dan masih fokus pada layar ponselnya.

Aerin kemudian melangkah pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. Karena letak UKS berada dekat dengan ruang piket, membuat Aerin harus turun ke lantai dasar.

"Aerin!" sapa Elang yang keluar dari kelas 12 IPA 1.

Bukannya menjawab ataupun menanggapi, Aerin justru mempercepat langkahnya. Entah mengapa nyalinya hilang ketika bertemu dengan anggota Mizor. Kecuali Geni, Aerin selalu merasa aman jika bersama dengan laki-laki bertubuh jangkung itu.

Elang berpikir positif dengan mengira jika Aerin mungkin belum mengenalnya. Kemudian melanjutkan perintah yang diberikan Bu Mareta, yaitu membagikan buku paket Bahasa Indonesia ke semua kelas jurusan IPA.

GARDA: EvanescentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang