15. Nasi Goreng

356 28 0
                                        

Hope you like it
and
Happy reading~

----oOo----

Di sepanjang koridor rumah sakit orang-orang memandangnya dengan tatapan aneh dan takut-takut. Bagaimana tidak, penampilannya saja tidak bisa dikatakan rapi.

Seragam berlumuran darah itu tak juga digantinya. Ditambah dengan beberapa luka di wajah dan juga rambut yang berantakan. Mereka pasti berpikir jika dia tampak sangat mengerikan.

Pun dengan gadis yang berjalan di sampingnya, yang bahkan tertunduk dalam lantaran tidak kuat melihat kondisinya yang sangat tidak baik-baik saja.

Setelah berhasil menenangkan Garda dari kondisi cowok itu sebelumnya, Vanya menyuruh Garda untuk setidaknya mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Tapi setelah berhasil ditenangkan, Garda justru tidak mengeluarkan suara sama sekali.

"Kita mau ke mana?" setelah keterdiaman yang begitu lama, Vanya kembali bersuara.

Tidak ada jawaban yang Garda berikan. Cowok tinggi itu masih setia menarik tangannya dan berjalan dengan langkah lebar.

"Kak?"

Lagi, tidak ada jawaban yang Garda berikan.

Dengan terpaksa, Vanya menarik kembali tangannya dari cengkeraman Garda dan membalikkan tubuh cowok itu agar menghadap ke arahnya.

"Aku ke sini buat pengobatan Nenek, Kak," tekan Vanya membuat Garda tersadar dari bayang-bayang yang terputar di otaknya.

"Kakak inget siapa yang Kakak bawa ke sini? Bukan aku yang Kakak bawa. Tujuan kita beda ...," tanya Vanya lembut. Dari kedua manik matanya, terlihat jika dia cemas akan kondisi Garda.

"Kamar VIP--tujuh," gumam Garda setengah terbata.

"VIP 7?" Vanya mengerutkan keningnya. "Orang yang Kakak bawa ada di VIP 7?" tanyanya memastikan.

"Kamar VIP--tujuh," gumam Garda, lagi.

Setelahnya cowok itu melenggang begitu saja tanpa memedulikan Vanya yang menatapnya penuh tanda tanya.

Namun Vanya hanya bisa terdiam di tempatnya dengan beberapa pertanyaan yang masih bergerumul di otaknya. Membiarkan Garda melangkahkan kakinya bimbang di depan sana.

Sejak awal, Vanya tahu semua rahasia yang Garda miliki. Tapi dia memilih untuk diam dan menyimpannya sendirian.

----oOo----

"Gue nggak pa-pa, duarius deh!" ujar Aerin, mengacungkan dua jari kanannya meyakinkan.

Sedangkan gadis dengan rambut tergerai di sampingnya ini melipat kedua tangannya ke depan dada dan menatap Aerin penuh selidik.

"Yang gue tanya, siapa yang pukul lo? Jujur!" tuntut Adelyn meminta penjelasan.

"Lyn, gue tuh--"

"Garda atau yang lain?" Vano menimpali.

Aerin menatap cowok itu dengan tatapan memohon. Seolah ingin mengakhiri pertanyaan yang sejak tadi dilontarkan keduanya.

Adelyn memang datang ke sini hanya bersama Vano karena teman-teman mereka yang lain tidak diperbolehkan ikut oleh Bu Rindu, Guru Kesiswaan, guna mengantisipasi adanya masalah lain yang mungkin akan terjadi.

Dan berakhirlah mereka di ruangan ini. Diliputi rasa penasaran yang kian meradang, namun tak juga mendapat titik terang.

Sedangkan Aerin sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana. Dia ragu jika dia mengatakan bahwa Elang lah yang membuatnya seperti ini, mereka tidak akan percaya.

GARDA: EvanescentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang